loading...
Ribuan warga saat berebut gunungan apem wahyu kliyu. Foto/Wardoyo

KARANGANYAR, JOGLOSEMAR NEWS.COM Ribuan warga yang berada di Kecamatan Jatipuro, Karanganyar rebutan apem yang disebar dari atas panggung dalam rangka kirab budaya Wahyu Kliyu, Sabtu (14/09/2019).

Mereka berebur apem yang ditata menjadi sebuah  gunungan tersebut seusai dikirab dari Dusun Kendal menuju halaman kantor kecamatan, yang berjarak sekitar 500 meter.

Tradisi budaya yang digelar setiap bulan Suro dalam penanggalan Jawa atau bulan Muharram dalam Islam, telah digelar sejak ratusan tahun lalu.

Wahyu Kliyu merupakan salah satu wujud rasa syukur warga kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, karena telah diberikan kesehatan dan keselamatan dari segala bencana dan mara bahaya.

Pantauan di lapangan, warga terlihat berdesak-desakan untuk mendapatkan apem yang disebar dari atas panggung. Meski berdesakan, semua warga terlihat riang gembira.

Baca Juga :  Harlah ke-94 NU dan Penyerahan Wakaf Ponpes PCNU Karanganyar Dihadiri KH Said Aqil Siroj dan Luluk Nur Hamidah. Hal Ini yang Disampaikan

Dalam waktu kurang dari 15 menit, ribuan apem tersebut seluruhnya habis disebarkan kepada warga yang hadir.

Ayu, salah satu warga Jatipuro, mengatakan, Wahyu Kliyu merupakan tradisi masyarakat Jatipuro sejak ratusan tahun lalu.

“Jatipuro dikenal dengan tradisi Wahyu Kliyu. Tradisi ini sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, karena diberikan kesehatan, keselamatan dari berbagai bencana. Kami berharap, dengan digelarnya tradisi ini, tidak ada bencana dan musibah ke depan. Seluruh warga sehat,” harap Ayu.

Camat Jatipuro Eko Budi Hartoyo menjelaskan, tradisi Wahyu Kliyu ini, awalnya tradisi Dusun Kendal Lord an Dusun Kendal Kidul.

Namun saat ini, tradisi ini, menjadi kegiatan seluruh warga Kecamatan Jatipuro dan telah masuk dalam kalender event Karanganyar.

Baca Juga :  177 Motor N Max Kades Dituding Politis, Bupati Karanganyar: Warnanya Hitam, Tidak Kuning Tidak Hijau!

Dikatakannya, tradisi ini juga dikemas dengan berbagai kegiatan, sehingga menarik bagi para wisatawan.

“Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, kita mengemas tradisi Wahyu Kliyu ini , dengan bebagai kegiatan, seperti pentas musik, wayang semalam suntuk, kesenian ketoprak dan film sejarah Wahyu Kliyu, agar lebih menarik,” jelasnya. Wardoyo