SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Perhelatan akbar Peringatan Hari Wayang Nasional dan Dunia, Kamis (7/11/2019) diperingati secara meriah di Sragen. Untuk memeringati hari bersejarah yang menandai pengakuan wayang di mata dunia itu, Pepadi Sragen menggelar pentas 24 dalang kondang asal Sragen selama 24 jam non stop di Alun-alun Sasana Langen Putra Sragen.
Nah di antara deretan nama dalang tersohor yang ada di Bumi Sukowati, ada sejumlah nama yang menjadi sorotan.
Pasalnya meski olah seninya sebagai dalang tak diragukan, namun mereka sejatinya lebih mentereng dengan label sebagai pengusaha ketimbang olah kesenian sebagai dalang.
Para pengusaha kondang itu juga berdomisili bukan di Sragen melainkan di luar kota. Mereka adalah, Dr Sukiman dan Bambang Sarjito.
Sukiman, pengusaha sukses kelahiran Kedawung, Sragen itu, sudah lama menetap di Bandung. Saat didaulat tampil, ia hadir bersama sang istri tercinta.
Ia tiba di Sragen sesaat sebelum jadwal mendalang, pukul 11.00 WIB. Pengusaha sekaligus seniman bergelar doktor itu bahkan jauh-jauh dari Bandung, khusus hanya untuk memenuhi undangan mendalang di acara peringatan Hari Wayang Nasional dan Dunia tersebut.
“Saya membawakan lakon peran Harjuna,” paparnya kepada JOGLOSEMARNEWS.COM sesaat sebelum tampil.
Meski hanya tampil satu jam, Sukiman mengaku tak masalah. Menurutnya, satu jam pun sudah cukup untuk bisa menyampaikan pesan lewat mendalangnya.
“Saya memang spesialis ndalang satu jam. Ndak masalah,” tuturnya.
Lebih lanjut, alumnus SMKN 1 Kedawung Sragen itu memandang hari wayang nasional itu sebagai sebuah momentum yang sangat berarti bagi perjalanan seni wayang di Indonesia.
“Artinya wayang ini sebagai satu seni yang adi luhung. Harapannya ke depan semua bisa lebih mencintai wayang dan lewat pentas seperti ini bisa promosi juga untuk jangka panjang,” tandasnya.
Sementara, dalang yang lainnya adalah Bambang Sarjito. Dalang kondang kelahiran Kepoh, Pelang, Sambirejo itu juga jauh-jauh datang dari domisilinya di Penajam Paset Utara, Kalimantan Timur.
Ia yang sudah menetap di Kaltim selama 30 tahun itu, bahkan didaulat sebagai ketua panitia pentas dalang 24 jam tersebut.
“Iya saya langsung datang dari Penajam Paser Utama Kaltim. Pulang ke Sragen untuk acara ini, kebetulan saya ketua panitianya. Ya, pulang ini untuk menyambut ini (hari wayang sedunia) dan kepedulian untuk daerah kelahiran juga,” tuturnya.
Pria yang mengaku sebagai pengusaha di Penajam Paser Utara itu mengatakan bahwa di Kaltim dirinya juga sering mendalang.
Saat ditanya agenda pentas 24 dalang memeringati hari wayang sedunia itu, Bambang menyebut kegiatan itu digelar bertujuan menguatkan persatuan kesatuan para dalang di Sragen. Selain itu, juga memberi kesempatan seluruh dalang di Kabupaten Sragen untuk mengekspresikan dan berkarya besar di jalur seni pedalangan.
Ia berharap event serupa bisa terus berkelanjutan agar makin menggelorakan wayang di masyarakat. Soal animo generasi muda terhadap wayang, Bambang menyebut semua kembali lagi ke dalangnya.
“Ketika dalang punya kepiawaian memikat dan menampilkan wayangnya dengan baik dan kekinian, milenial, otomatis para muda akan tertarik kembaki dengan wayang. Dari sisi bahasa menampilkan yang mudah dipahami dan dicerna. Dalang sekarang
harus visioner di era digital, tidak lagi wayang yang hanya oral otodidak dan tradisional. Harus mengikuti perkembangan jaman tapi tidak meninggalkan akar sejarah wayang itu sendiri,” pungkasnya. Wardoyo