JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Opini

Mubes KKSS di Solo : Geerhan Lantara & Burhanuddin Andi Siap Pimpin Organisasi Warga Perantauan Sulsel

Letnan Jendral TNI ( Pur) Geerhan Lantara (kiri), Burhanuddin Andi (kanan). Istimewa
loading...
Letnan Jendral TNI ( Pur) Geerhan Lantara (kiri), Burhanuddin Andi (kanan). Istimewa

*Catatan Ilham Bintang

Letnan Jendral TNI ( Pur) Andi Geerhan Lantara siap pimpin organisasi masyarakat Sulawesi Selatan (KKSS : Kerukunan Keluarga Sulawesi) di perantauan. Demikian halnya dengan Irjenpol ( Pur) Burhanuddin Andi. Kedua tokoh Sulsel itu digadang- gadang untuk menduduki jabatan Ketua Umum baru KKSS untuk priode 5 tahun ke depan.

Jumlah warga Sulsel yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia ( di luar Sulsel) dan di mancanegara 12 juta jiwa. Jauh lebih banyak dibandingkan dengan jumlah yang berdomisili di Sulsel.
Kesediaan Geerhan dan Burhanuddin disampaikan kepada penulis secara terpisah saat dihubungi Jumat dan Sabtu (15-16/11) pagi.
Burhanuddin Andi sejak Jumat telah berada di Solo, sedangkan Geerhan baru Sabtu siang masuk Solo. Menyusul peserta Mubes yang telah memenuhi kota Surakarta..

“ Saya tidak dalam posisi bisa menolak manakala ditugaskan untuk itu. Saya selalu siap mengabdikan diri untuk kepentingan kerukunan warga,” kata Geerhan Sabtu pagi melalui telpon.
Musyawarah Besar KKSS berlangsung di Solo 15-17 November. Pembukaan Mubes yang akan dihadiri sekitar 500 peserta dari seluruh wilayah Indonesia dan luar negeri. Ada yang menggunakan pesawat, kereta api, dan jalan darat menuju Solo. Mubes KKSS akan dibuka Sabtu (16/11) siang ini oleh JK. Sedangkan pemilihan pengurus baru dilangsungkan hari Minggu (17/11).

Ketika dihubungi, Geerhan masih berada di Yogyakarta, ikut rombongan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla ( JK). Menurut rencana JK yang merupakan Tokoh Kehormatan KKSS itu akan berangkat ke Solo ba’da Dzuhur hari ini.

Santer disebut Presiden Jokowi akan hadiri Mubes KKSS. Kebetulan Kepala Negara saat ini berada di Solo menyambut kelahiran cucu ketiganya Jumat kemarin.

 Calon Ketua Umum 

Agenda Mubes antara lain pemilihan pengurus baru untuk priode 5 tahun ke depan. Sejak sebulan terakhir mencuat beberapa nama tokoh Sulsel yang disebut- sebut sebagai calon Ketua Umum KKSS menggantikan Sattar Taba, ketua lama. Mereka, antara lain: Burhanuddin Andi, Andi Djamarro Dullung, Muchlis Fathana, Asmawi Syam, Tanribali Lamo, dan Andi Geerhan Lantara.

Menarik menilik nama – nama calon itu. Ada dua tokoh pensiunan militer dan polisi. Yaitu, Burhanuddin Andi dan Andi Geerhan Lantara. Sejarah KKSS memang sering memilih Ketua Umum dengan latar belakang perwira tinggi militer dan polisi. Pendiri dan Ketua Umum KKSS pertama, Mayjen Aziz Bustam.
Irjenpol ( Pur) Burhanuddin Andi adalah mantan Koordinator Staf Ahli Kapolri. Sebelumnya, ia pernah bertugas di hampir seluruh wilayah Indonesia, seperti menjadi Kapolda di Bengkulu dan di Sulselbar.

Adapun Andi Geerhan Lantara, jabatan terakhirnya, Irjen TNI, setelah sebelumnya Irjen Angkatan Darat. Geerhan juga kenyang penugasan di pelosok tanah Air, seperti Timor Timur, juga menjadi Kasdam Cendrawasih dan Pangdam Tanjungpura di Kalbar. Tampaknya, bertolak dari tugas sebagai komando di berbagai daerah itulah mengapa warga KKSS merasa nyaman dipimpin purnawirawan perwira tinggi militer maupun polisi.
“ Kalau ditanya secara pribadi, saya sebenarnya mau istirahat, mau menikmati masa pensiun momong cucu. Tetapi kalau ditugaskan memimpin KKSS dan diminta seluruh warga untuk menjaga kerukunan, saya bersedia. Ini namanya diminta mengabdi, tidak bisa ada kata menolak untuk warga daerah sendiri. Sebelum ini puluhan tahun saya sudah mengabdi di luar itu,” papar Geerhan.
Serupa dengan pernyataan Burhanuddin Andi. “ Jabatan formal sudah habis, tetapi urusan mengabdi untuk orang banyak, tersedia sampai mati. Apalagi itu memang tugas melekat sepanjang hidup saya sebagai polisi,” kata Burhanuddin, Jumat (15/11) pagi.

Dalam sebuah artikelnya” Pesan Kebudayaan : KKSS, Berlayar Menegakkan SIRI”, wartawan senior Zainal Bintang menceritakan riwayat KKSS.Organisasi itu didirikan pada tanggal 12 November 1976 tepat pada hari Jumat di kantor Bank Marannu, Jalan Hayam Wuruk, Jakarta, milik pengusaha dan tokoh pejuang Brigjen TNI – AD (pur) H. Andi Sose). Paling tidak ada 26 tokoh asal Bugis – Makassar yang telah berkiprah di Jakarta menjadi deklarator dan hampir seluruhnya adalah pejuang Kemerdekaan 45. Untuk menyebut nama, beberapa diantaranya adalah, Manai Sophiaan, Prof. Nurdin Shahadat, Andi Baso Amir, Letkol. Pol. Andi Oddek, Brigjen TNI AD ( Purn ) Andi Sose, Baharuddin Lopa SH, Ahmad. A. Baramuli dan Mayjen TNI AD (Pur) Abdul Azis Bustam yang sekaligus didaulat menjadi Ketua Umum pertama. Masa itu Zainal Bintang adalah wartawan Hankam/Harian Angkatan Bersenjata merangkap pembantu Aster (Asisten Teritorial) Hankam Mayjen Azis Bustam, bidang Jurnalistik. Zainal sendiri pun pernah menjabat sebagai Ketua Bidang Khusus BPH KKSS selama dua priode (1986 – 1992) dan pada Mubes KKSS 2009 di Makassar, terpilih menjadi salah seorang Wakil Ketua Umum.

 Berawal dari PKS  
Zainal menulis, pada dasarnya kelahiran KKSS didasari oleh suatu kebutuhan perlunya wadah komunikasi khusus antar warga Sulawesi Selatan yang hidup bertebaran di rantau. Bukan cuma di Indonesia bahkan di luar negeri, seperti Malaysia, Asutralia dan di Amerika Serikat dan lain – lain. Sebelum KKSS dibentuk, wadah berhimpun warga perantau yang berpusat di Jakarta, adalah PKS (Persaudaraan Keluarga Sulawesi) yang berdiri tahun 1950an. Ketika itu di Sulawesi baru ada dua propinsi yaitu Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara. Anggotanya terdiri dari warga Bugis Makassar, Manado, Gorontalo, Palu, Kendari dan lain sebagainya.
KKSS adalah organisasi kemasyarakatan yang bergerak pada tatara sosial budaya. Bukan organisasi sosial politik dan tidak berafiliasi dengan partai politik manapun. Secara pribadi anggota atau pengurus KKSS boleh saja adalah aktivis partai politik.
Dengan ketokohan Azis Bustam yang kharismatik selaku Ketum pertama dibantu tokoh pengurus lainnya, KKSS berhasil memposisikan diri sebagai wadah berhimpun warga perantau di seluruh Indonesia yang berbasis sosial budaya yang disegani. (*)