Site icon JOGLOSEMAR NEWS

Spektakuler, 24 Dalang Kondang Sragen Tampil Nonstop 24 Jam Meriahkan Hari Wayang Sedunia. Ketua Pepadi Jateng Berharap Wayang Makin Dicintai Masyarakat

Salah satu dalang kelahiran Kedawung Sragen yang kini jadi pengusaha di Bandung, Dr Sukiman saat tampil di acara Pentas Wayang nonstop memeringati Hari Wayang Sedunia di Alun-alun Sasana Langen Putra Sragen, Kamis (7/11/2019). Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Hari Wayang Sedunia yang jatuh pada tanggal 7 November hari ini di Sragen menorehkan sejarah. Peringatan hari wayang yang sudah diakui oleh Unesco itu dimeriahkan dengan pentas spektakuler 24 dalang di Alun-alun Sasana Langen Putra, Kamis (7/11/2019).

Puluhan dalang itu tampil nonstop secara bergantian dari pagi hingga besok pagi. Menariknya, 24 dalang dari berbagai wilayah di Sragen itu tampil dengan membawakan lakon berbeda-beda dengan pakem berbeda pula.

Acara pentas spektakuler yang digelar baru kali pertama itu dihadiri Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Jawa Tengah, Untung Wiyono, Pengurus Pepadi Sragen dan para pejabat serta masyarakat Sragen.

Dalam sambutannya, Untung Wiyono yang juga mantan bupati Sragen mengapresiasi gelaran pentas 24 dalang memeriahkan Hari Wayang Sedunia itu. Menurutnya selain serentak kali pertama di semua wilayah, pentas wayang spektakuler itu juga menampilkan 24 dalang yang manggung selama 24 jam nonstop.

“Ini baru pertama kali dan menyerempakkan itu yang sulit. Karenanya kami sangat mengapresiasi para seniman seniwati yang ikut berpartisipasi dalam peringatan Hari Wayang sedunia ini. Karena wayang adalah warisan budaya leluhur yang adi luhung, dengan cara seperti ini bisa melestarikannya,” papar Untung seusai membuka acara.

Ia juga mengatakan saat ini bibit seniman wayang sudah cukup banyak. Adanya sekolah ISSI dan sekolah seni yang ada diakui cukup banyak membantu lahirnya generasi seniman termasuk dalang.

Hanya, ia memandang perlunya sosialisasi intens ke masyarakat untuk lebih mengenalkan lagi budaya luhung termasuk wayang ke masyarakat, utamanya generasi muda di tengah gempuran budaya modern saat ini.

“Wayang itu bagaimanapun harus tetap dilestarikan. Memang harus ada regenerasi senimannya, tapi juga masyarakat harus selalu dibangkitkan semangat kecintaan terhadap wayang. Saya suka lagu barat, tapi saya juga sangat cinta wayang,” tukasnya.

Ketua Pepadi Jateng, Untung Wiyono. Foto/Wardoyo

Ia menggambarkan meski jadi budaya asli Jawa, pentas wayang telah menjadi budaya menasional. Hal itu dibuktikan dengan tingginya antusiasme masyarakat di luar Jawa untuk menyaksikan pentas wayang.

“Di Kalimantan, kalau ada wayang, yang nonton ribuan dan belum mau pulang kalau dalangnya belum turun panggung,” tandasnya.

Ketua Panitia Kegiatan, Bambang Sarjito, mengungkapkan ada 24 dalang yang berkolaborasi dalam pagelaran wayang kulit dalam rangka peringatan Hari Wayang Sedunia di Alun-alun Sasono Langen Putro, Sragen ini. Pagelaran wayang ini digelar 24 jam penuh, dimana setiap dalang tampil bergantian membawakan lakon yang berbeda.

Ia menyebut 24 dalang yang tampil tersebut antara lain, Ki Sukiman, Juyadi Sabar Sadono (Arimbi Tundung), Ki Raffi (Anoman Duto), Ki Pandu GS (Bargowo), Ki Bamar Dandun (Pedhut Sumilak), Ki Gading P (Gatotkoco Jedi), Ki Sumanto BP (Gatotkoco Rante), Ki Guntur GP (Gondomono Luweng), Ki Dwi Samekto (Dewaruci).

Lalu Ki Aji Mulyanto (Rajamala), Ki Totok Sugiyarto (Romo Parasu), Ki Agung Mulyanto (Bedhahe Maespati), Ki Singgih Windarto (Bedhahe Prambanan), Ki Bambang Sarjito ( Sesaji Rajasuya), Nyi Tutik Cempluk (Sawitri), Ki Gepeng (Nagatatmala), Ki Eko Sosro (Gatotkoco Wisudo), Ki Anom Sunarto (Nugroho Sejati Suci), Ki Hartono (Petruk Lali), Ki Suwagi Gondo Asmoro (Mbangun Maerokoco), Ki Sumadi (Bedhahe Bungkus), Ki Jarot Suwarno (Batlowo), Ki Kemi Jegol (Laire Antigo), Ki Deki (Abimanyu Tundung), dan Ki Suparno (Murwokala).

Menurutnya tujuan digelarnya pentas spektakuler 24 dalang itu selain memeriahkan Hari Wayang Sedunia, juga untuk menguatkan persatuan dalang yang ada di Sragen.

Ia menguraikan wayang merupakan seni warisan kebanggaan Indonesia yang sudah diakui Unesco 7 November 2013.

“Ini juga wahana untuk memberi kesempatan dalang Sragen untuk  mengekspresikan karyanya di dunia  pedalangan,” urainya.

Bambang melanjutkan, seluruh dalang yang tampil, merupakan dalang asli Sragen. Meskipun ada beberapa dalang yang berasal dari luar daerah seperti Bandung dan Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, namun seluruhnya merupakan kelahiran Sragen.

Foto/Wardoyo

Masing-masing dalang diberikan waktu satu jam untuk mementaskan lakon masing-masing. Pantitia mewajibkan para dalang mementaskan lakon yang berbeda-beda.

“Memang kita minta pentaskan lakon yang berbeda. Untuk memperkaya perbendaharaan, bahwa teman-teman dalang di Sragen menguasai banyak lakon,” imbuhnya.

Dengan waktu yang hanya satu jam, lanjut Bambang, para dalang dituntut piawai untuk mengatur alur sehingga lakon yang dibawakan bisa tersampaikan dengan baik.

“Pentas sejam tidak jadi masalah. Yang terpenting tidak menghilangkan urutan pathet dan tidak lari dari kerangka lakon itu sendiri. Diharapkan semuanya menggarap sanggit. Jadi dikuatkan penyampaian filosofi wayang lewat sanggitnya,” terang Bambang. Wardoyo

 

Exit mobile version