JOGLOSEMARNEWS.COM Nasional Jogja

Aksi Klitih Marak di Yogyakarta, Ini Respon dari Sri Sultan Hamengku Buwono X

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X. TRIBUNJOGJA.COM / Agung Ismiyanto

YOGYAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X menanggapi maraknya aksi kekerasan jalanan atau klitih akhir-akhir ini.

Sultan menilai perlunya pendekatan budaya, melalui skema dialog untuk menyelesaikan polemik nanpelik ini.

Orang nomor satu di DIY tersebut tak menampik, klitih tidak bisa serta merta dihilangkan lantaran mayoritas pelakunya termasuk orang kurang beruntung.

Dalam artian mereka merupakan anak-anak korban broken home atau permasalahan lainnya.

“Jadi, kemarin kita sepakat, akan ada pembicaraan soal ini. Bagaimana caranya kita membangun dialog dengan orang tua dari anak-anak itu. Kita akan coba lakukan pendekatan budaya,” ucapnya, saat dijumpai di Komplek Kepatihan, Senin (13/1/2020).

Baca Juga :  49 Mahasiswa Panitia PPSMB 2020 UGM Jalani Isolasi Covid-19

Menurut Sultan, untuk menyelesaikan polemik klitih ini, pihaknya harus memahami terlebih dulu masalah apa saja yang dirasakan anak dalam kehidupan sehari-harinya.

Sehingga, Pemerintah Daerah (Pemda) DIY bisa turun memberikan bantuannya secara nyata.

“Sebenarnya ada masalah apa, intern kehidupan, atau ekonomi, mungkin apa saja yang bisa kita bantu dalam upaya memperbaiki kondisi ini. Kalau sekadar aspek hukuman dan sebagainya, saya rasa tidak akan menyelesaikan masalah,” cetusnya.

“Kekerasan itu kan karena pelarian, bisa saja, lalu dia minum minuman keras karena tak tahan dengan situasi di rumah. Ini perlu didialogkan, kemudian apa yang bisa kita lakukan,” tambah Sultan.

Baca Juga :  Puskesmas Gedongtengen dan Wirobrajan Ditutup karena Sejumlah Nakes Dinyatakan Positif Covid-19

Selain itu, Ngarsa Dalem pun beranggapan, fenomena klitih dewasa ini tak ada kaitannya lagi dengan kualitas sekolah.

Pasalnya, para pelaku sekarang bukan hanya berasal dari sekolah swasta pinggiran, tapi juga dari sekolah-sekolah negeri yang mumpuni.

“Ya, mungkin bukan masalah di sekolah, tapi masalah di kehidupan keluarga. Tapi, persoalan masing-masing anak kan bisa berbeda-beda gitu loh, kita mencoba tangani itu. Kita maunya bicara isi,” terangnya.

www.tribunnews.com