JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Berlinang Air Mata, Rekonstruksi Kasus Anak Bunuh Ibu Kandung di Sumberlawang Sragen. Bibi Tersangka Tak Kuasa Lihat Adegan Korban Dipukuli

Bibi tersangka atau adik korban pembunuhan di Desa Pendem, Sumberlawang, Sragen terpantau menangis dan memilih di teras rumah saat proses reka ulang pembunuhan digelar. Foto/Wardoyo
Bibi tersangka atau adik korban pembunuhan di Desa Pendem, Sumberlawang, Sragen terpantau memilih di teras rumah saat proses reka ulang pembunuhan digelar. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Proses rekonstruksi kasus pembunuhan seorang ibu bernama Daliyem (50) asal Dukuh Barong RT 6, Desa Pendem, Sumberlang oleh putranya sendiri, Hendriyanto (36) Selasa (28/1/2020) menyisakan cerita pilu.

Sejumlah kerabat korban dan saudara almarhumah, terlihat tak kuasa menahan kesedihan. Mereka terpukul saat melihat tersangka memeragakan bagaimana dengan sadis menganiaya ibu kandung yaitu.

Pantauan JOGLOSEMARNEWS.COM , saat rekonstruksi berlangsung kerabat almarhumah terlihat ikut hadir menyaksikan. Mereka di antaranya adik kandung almarhum atau bibi tersangka, tetangga, ketua RT, dan kerabat yang lain.

Saat rekonstruksi sudah di mulai dan sampai pada adegan penganiayaan di kamar, mendadak bibi korban keluar dari dalam kamar. Sesampai di teras, ia kemudian terlihat menyeka air matanya.

Rasa sedih juga terlihat dari roman beberapa kerabat lainnya. Mereka juga terlihat sesekali menyeka air mata.

Proses rekonstruksi sendiri berjalan di bawah kawalan puluhan aparat. Halaman rumah korban seluruhnya dikelilingi oleh garis polisi.

Baca Juga :  Tak Hanya ke Kejaksaan, Kepala DPUPR Sragen Juga Dilaporkan ke Polda Jateng. Terkait Indikasi Penyalahgunaan Wewenang dan Jabatan di 5 Proyek Bernilai Miliaran

Bahkan para awak media yang hendak meliput tidak diperkenankan mendekat ke lokasi rekonstruksi dan hanya bisa memantau dari jarak sekitar 3 meter di halaman rumah korban.

“Almarhumah ini sosok yang baik. Di mata tetangga, dia grapyak dan ramah. Dia juga ibu yang pekerja keras. Kerjanya kadang jualan kalau pas pasaran Gunung Kemukus,” ujar Ketua RT 06, Sutrisno mengenang salah satu warganya itu.

Rekonstruksi sendiri dimulai dengan peragaan tersangka menemui ibunya yang sedang tiduran di kamar. Tersangka kemudian meminta agar namanya diganti, tapi ibu korban menolak.

“Tadi diperankan 22 adegan oleh tersangka maupun saksi. Dimulai dari korban dan tersangka berkomunikasi meminta namanya untuk diganti. Namun si korban (ibunya) menolak agar nama itu tidak diganti. Setelah ditolak korban, akhirnya tersangka emosi kemudian melakukan pemukulan ke beberapa bagian tubuh ibunya,” papar AKP Harno mewakili Kapolres AKBP Raphael Sandhy Cahya Priambodo seusai rekonstruksi, Selasa (28/1/2020).

Baca Juga :  Tambah 6 Positif dan 1 Sembuh, Berikut Daftar Lengkap Pasien Positif Covid-19 Sragen Hari Ini. Ada 3 Orang dari Gemolong dan 2 dari Masaran!

AKP Harno menguraikan akibat pukulan bertubi-tubi, sehingga ibu korban tidak sadarkan diri. Tersangka memerankan bagaimana kesadisannya menganiaya ibunya di bagian kepala, di bagian tubuh dan beberapa pukulan dengan tangan kosong.

“Akibat pukulan itu akhirnya mengakibatkan pendarahan pada otak. Sempat dilarikan ke rumah sakit, tapi nyawa korban tak terselamatkan,” terangnya.

AKP Harno menyampaikan dari hasil observasi yang dilakukan oleh pihak Rumah Sakit Jiwa, bahwa tersangka memang pernah memiliki riwayat gangguan kejiwaan.

Akan tetapi saat kejadian dan saat pemeriksaan, dokter menyatakan yang bersangkutan mampu mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Atas dasar itulah, sehingga dapat dilakukan upaya proses hukum selanjutnya oleh kepolisian.

“Kadang-kadang yang bersangkutan ini sehat, kadang-kadang agak terkena gangguan. Tapi pada saat melakukan itu, dinyatakan oleh bahwa yang bersangkutan adalah sehat,” tandas AKP Harno.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, tersangka bakal dijerat pasal 351 KUHP tentang penganiayaan yang mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang.

“Ancaman hukumannya maksimal 15 tahun penjara,” tandasnya. Wardoyo