JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Internasional

Ternyata Trump Sudah Merencanakan Pembunuhan Qassem Soleimani 7 Bulan Silam

Jenderal Qassem Soleimani.[Business Insider] / tempo.co
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM  –

KķòKeputusan Donald Trump memerintahkan pembunuhan Komandan Pasukan Quds Garda Revolusi Iran, Qassem Soleimani, menuai keraguan karena kurangnya fakta intelijen untuk menjustifikasi serangan.

Donald Trump sebelumnya mengatakan serangan drone terhadap Qassem Soleimani untuk mencegahnya menyerang Kedubes AS di Irak dan negara lain di kawasan tersebut.

Namun, baru-baru ini Trump mengatakan bahwa tidak penting apakah Qassem Soleimani betul-betul mengancam aset Amerika Serikat.

“Media Berita Palsu dan Mitra Demokrat mereka bekerja keras untuk menentukan apakah ada potensi serangan yang dilakukan oleh teroris Soleimani atau tidak, & apakah tim saya setuju,” tulis Trump di Twitter, dikutip dari Reuters , Selasa (14/1/2020).

“Jawaban untuk keduanya adalah tegas, YA, Tetapi itu tidak terlalu penting karena riwayat Soleimani yang mengerikan!”

Demokrat, yang mencoba untuk meloloskan undang-undang untuk mengekang wewenang Trump untuk perang dengan Iran tanpa persetujuan anggota parlemen, tidak setuju dengan keputusan Trump membunuh Soleimani.

Sejak mengkonfirmasi bahwa Soleimani telah terbunuh oleh serangan pesawat drone AS di Baghdad, pejabat pemerintah AS mengklaim mereka bertindak karena ada risiko serangan terhadap diplomat Amerika dan anggota keamanan Amerika di Irak dan di seluruh wilayah itu.

Pemerintah belum secara terbuka merilis bukti yang mendukung klaimnya, dan komentar selama akhir pekan hanya menimbulkan pertanyaan baru tentang intelijen yang digunakannya untuk memerintahkan serangan.

Demokrat dan sejumlah Republikan di Kongres mempertanyakan pembenaran serangan-serangan itu dan mengatakan mereka belum diberi pengarahan yang memadai dan terperinci.

Pekan lalu, Trump mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa Iran telah siap menyerang empat kedutaan besar Amerika sebelum Soleimani terbunuh dalam serangan pesawat tak berawak AS pada 3 Januari.

Tetapi pada hari Minggu, menteri pertahanan AS, Mark Esper, mengatakan dia tidak melihat bukti spesifik bahwa Iran merencanakan serangan.

“Apa yang dikatakan presiden adalah bahwa mungkin ada serangan tambahan terhadap kedutaan. Saya berbagi pandangan itu,” kata Esper.

“Presiden tidak mengutip bukti spesifik,” lanjut Esper, dikutip dari Al Jazeera.

Kesaksian mengejutkan datang dari sumber mantan pejabat dan pejabat senior pemerintahan AS saat ini, bahwa Trump sudah memerintahkan pembunuhan Jenderal Qassem Soleimani tujuh bulan lalu, jika Iran meningkatkan agresi terhadap warga Amerika, menurut laporan Sky News.

Arahan presiden pada bulan Juni datang dengan syarat bahwa Trump akan memiliki penandatanganan akhir pada operasi spesifik untuk membunuh Mayor Jenderal Soleimani, kata para pejabat.

Keputusan itu menjelaskan mengapa pembunuhan Soleimani ada di menu pilihan yang disajikan militer kepada Trump dua minggu lalu untuk membalas serangan milisi proksi Iran di Irak, di mana seorang kontraktor AS tewas dan empat anggota keamanan AS terluka, kata para pejabat.

Namun, waktu tersebut dapat merusak justifikasi Trump yang memerintahkan serangan pesawat drone yang menewaskan Soleimani di Baghdad pada 3 Januari.

Para pejabat mengatakan Mayor Jenderal Soleimani, pemimpin Pasukan elit Quds Garda Revolusi Iran, merencanakan serangan pada orang Amerika dan harus dihentikan.

“Ada sejumlah opsi yang diberikan kepada presiden selama waktu itu,” kata seorang pejabat senior, menambahkan bahwa beberapa waktu lalu ajudan presiden menempatkan pembunuhan Mayor Jenderal Soleimani dalam daftar tanggapan potensial terhadap agresi Iran.

Setelah Iran menembak jatuh pesawat drone AS pada bulan Juni, John Bolton, penasihat keamanan nasional Trump pada saat itu, mendesaknya untuk membalas dengan menandatangani sebuah operasi untuk membunuh Mayor Jenderal Soleimani, kata para pejabat.

Menteri Luar Negeri Mike Pompeo juga ingin Trump mengesahkan pembunuhan itu, kata para pejabat.

Namun Trump menolak gagasan itu, dengan mengatakan bahwa dia akan mengambil langkah itu hanya jika Iran membunuh seorang Amerika.

Pesan presiden adalah serangan terhadap Soleimani dilakukan jika Iran membunuh orang Amerika, menurut sumber yang mengetahui rencana ini.

Baik Gedung Putih maupun Dewan Keamanan Nasional tidak menanggapi permintaan komentar terkait kesaksian sumber.

Bolton dan Departemen Luar Negeri juga tidak menanggapi permintaan komentar. Menlu AS Mike Pompeo hanya mengatakan serangan terhadap Soleimani hanya strategi yang lebih luas untuk mencegat ancaman musuh, yang juga berlaku, misalnya, terhadap Rusia dan Cina, menurut laporan Reuters.


Para pejabat intelijen AS telah melacak dengan cermat pergerakan Mayor Jenderal Soleimani selama bertahun-tahun.

Ketika Trump mulai menjabat, Pompeo, yang saat itu direktur CIA, mendesak presiden untuk mempertimbangkan mengambil pendekatan yang lebih agresif kepada Mayor Jenderal Soleimani setelah menunjukkan kepadanya intelijen baru tentang apa yang oleh pejabat pemerintahan senior gambarkan sebagai “ancaman yang sangat serius”. Namun, bujukan Pompeo gagal mempengaruhi Trump.

Gagasan membunuh Qassem Soleimani muncul dalam rapat pada tahun 2017 bahwa penasihat keamanan nasional Trump pada saat itu, pensiunan Letnan Jenderal Angkatan Darat McRaster, sedang bersama pejabat pemerintah lainnya tentang strategi keamanan nasional presiden yang lebih luas, kata para pejabat.

Tapi ide membunuh Jenderal Qassem Soleimani hanya salah satu dari sejumlah elemen tekanan maksimum Trump terhadap Iran, dan bukan sesuatu yang dianggap sebagai langkah pertama, kata seorang mantan pejabat senior pemerintahan yang terlibat dalam diskusi tersebut.

www.tempo.co

Baca Juga :  Ngeri, Korban-Korban Meninggal Covid-19 Terbengkalai Menunggu Pemakaman, Negara Ini Siapkan Kuburan Massal!