Site icon JOGLOSEMAR NEWS

Diduga IQ Tak Nyampai, 3 Siswa Baru di Sekolah Favorit SMAN 1 Sragen Akhirnya Nyerah dan Pilih Keluar. Korban Efek Buruk Zonasi?

Ilustrasi ratusan siswa memadati halaman untuk antre registrasi berkas dan pengambikan token PPDB di SMAN 1 Sragen, Senin (24/6/2019). Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Sebanyak tiga siswa kelas I hasil Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun Akademik 2019/2020 di SMAN 1 Sragen secara mengejutkan dilaporkan memilih mundur dan keluar dari sekolah.
Kabar yang beredar, mereka yang masuk karena tertolong program zonasi dan jarak rumahnya dengan SMAN 1 Sragen itu memilih keluar setelah gagal mengikuti program pelajaran di SMAN terfavorit di Bumi Sukowati itu.

Kondisi intelejensia atau IQ pas-pasan sehingga gagal beradaptasi dengan ketatnya program pelajaran di SMAN 1 Sragen disebut-sebut menjadi alasan ketiga siswa itu memilih mengakhiri bangku sekolah.

“Iya, sampai saat ini sudah ada tiga yang keluar karena nggak bisa mengikuti pelajaran. Karena SMAN 1 Sragen ini meski zonasi, tapi program dan kegiatan belajar mengajar tetap ketat,” papar salah satu guru kelas X atau kelas 1 di SMAN itu kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Minggu (23/2/2020).

Terpisah, Kepala SMAN 1 Sragen, Beti Marga Sulistyawati membenarkan memang ada tiga siswa tingkat I yang akhirnya tidak melanjutkan studinya. Menurutnya ketiganya memilih keluar atas permintaan sendiri dan orangtua mereka yang menarik anaknya.

“Karena memang tidak mampu dan tidak bisa mengikuti pelajaran. Mereka juga nggak pernah masuk sekolah, gimana mau bisa,” paparnya usai penyerahan piagam Adiwiyata Nasional.

Ia tak menampik, bahwa tiga siswa baru itu memang masuk dari program zonasi. Namun ia menegaskan bahwa mereka keluar atas keinginan orang tua dan proses keluarnya pun melalui prosedur yang panjang.

Beti menguraikan selain tidak mampu menyesuaikan pelajaran, ketiganya juga ada permasalahan pada diri mereka sendiri.

“Ada yang inginnya jadi Youtuber, ada yang macam-macam lah. Ada banyak faktor, tapi yang jelas orangtua mereka yang minta sendiri. Mudah-mudahan ke depan tidak ada lagi yang keluar,” terangnya.

Menurutnya, meski berlaku program zonasi, SMAN 1 Sragen memang tidak akan menurunkan grade program dan tensi kegiatan pelajaran.

Hal itu karena selama ini, jauh sebelum ada zonasi, SMAN 1 Sragen memang sudah identik dengan sekolah dengan grade pertama.

Kendati zonasi membuat sebagian besar siswa yang diterima karena kedekatan jarak dengan sekolah, ia menyebut tak sedikit siswa yang bisa menyesuaikan dan kemampuannya meningkat.

“Kita kedisiplinan tetap, standar pelajaran, peraturan sekolah tetap kita jalankan. Sehingga siswa 3 hari gak masuk saja, wali kelas sudah tahu, BK langsung jalani home visit dan seterusnya. Jadi untuk keluar itu harus melalui prosedur yang sangat panjang. Kalau kemudian ada yang tidak bisa menyesuaikan, menurut kami itu risiko dan mudah-mudahan ke depan nggak ada lagi,” terangnya.

Beti menambahkan selama beberapa bulan berjalan, nyatanya masih banyak siswa hasil zonasi yang bisa bagus. Mereka yang semula masuk dengan NEM biasa, juga banyak yang bisa beradaptasi dan bisa mengikuti pelajaran standar SMAN 1 Sragen.

“Kalau yang tiga anak itu mungkin pengecualian. Karena tujuan zonasi itu kan pemerataan dan itu sudah program pemerintah yang harus kita laksanakan,” tandasnya. Wardoyo

Exit mobile version