JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Jokowi: ISIS eks WNI Bukan Lagi Tanggung Jawab Negara

Presiden Joko Widodo (tengah) berbicara dengan siswa saat menyaksikan drama berjudul #PrestasiTanpaKorupsi di SMKN 57 Jakarta (9/12/2019). Saat drama Hari Anti Korupsi, Erick Thohir berperan sebagai penjual bakso. Sedangkan Wishnutama dan Nadiem, Bedu dan Sogi berperan sebagai siswa SMA / tempo.co

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Presiden punya sebutan sendiri mengenai 600-an warga asal Indonesia yang bergabung dengan ISIS.

Jika sebelumnya sering disebut WNI eks ISIS, Jokowi menyebut sebaliknya, ISIS eks WNI. Sebutan itu terkait dengan keputusan pemerintah yang menolak pemulangan mereka ke pangkuan NKRI.

Jokowi menegaskan, sekitar 600 orang asal Indonesia yang bergabung dengan ISIS bukan lagi menjadi tanggung jawab negara.

Menurut dia, anggota ISIS eks WNI itu telah memilih nasib mereka sendiri dengan bergabung dengan kelompok yang memproklamasikan diri sebagai Negara ISIS.

Baca Juga :  Rektor IPB Sempat Bertemu Banyak Tokoh Sebelum Dinyatakan Positif Covid-19

Itu sebabnya, menurut Jokowi, mereka tidak lagi menjadi tanggung jawab negara dan Pemerintah Indonesia.

“(Bergabung dengan ISIS) Itu sudah menjadi keputusan mereka, tentu saja segala sesuatu mestinya sudah dihitung dan dikalkulasi oleh yang bersangkutan,” tutur Presiden Jokowi di Istana Negara, Jakarta, Rabu (12/2/2020).

Sebelumnya, Presiden Jokowi tersenyum ketika pers menanyakan status kewarganegaraan 600-an orang asal Indonesia tersebut.

Mereka digolongkan sebagai teroris lintas negara atau foreign terrorist fighters (FTF) di slamic State of Iraq and Syam  (ISIS) atau di negara-negara lainnya.

Baca Juga :  Ini 9 Langkah Antisipasi LIPI Soal Pilkada di Tengah Pandemi Corona

Jokowi bahkan mempunyai sebutan sendiri untuk mereka yang berbeda dengan versi media massa.

Jika pers menyebut mereka sebagai WNI eks ISIS, sebaliknya Kepala Negara menamai mereka ISIS eks WNI.  

“Pemerintah tidak memiliki rencana untuk memulangkan orang-orang yang ada di sana, ISIS Eks WNI,” ujarnya.

Sebelumnya, Menkopolhukam Mahfud MD mengatakan data sementara yang dikutip dari Badan intelijen Amerika Serikat atau CIA adalah sebanyak 689 orang asal Indonesia tergabung dalam teroris lintas negara atau FTF.

“Mereka ada di Suriah, Turki, beberapa negara terlibat FTF, 228 orang teridentifikasi, sisanya 400-an tidak teridentifikasi, (tidak) lengkap identitasnya,” ucapnya pada Selasa lalu, 11 Februari 2020.

www.tempo.co