JOGLOSEMARNEWS.COM Nasional Jogja

Peternak Ayam Yogyakarta Gembalakan Ternak di Lapangan Karang Kotagede, Protes Anjloknya Harga

Peternak ayam di wilayah Yogyakarta mengelar aksi mengembala ayam di lapangan Karang, Kotagede Yogyakarta Selasa (21/4/2020). Tribunjogja/Hasan Sakri

YOGYAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Peternak ayam di Yogyakarta mengembala atau angon ayam di lapangan Karang, Kotagede, Yogyakarta, Selasa (21/4/2020).

Aksi simbolis tersebut digelar sebagai bentuk protes terhadap anloknya harga ayam di pasaran, akibatnya peternak merugi karena biaya produksi tak sesuai dengan harga jual.

“Kami melepas ayam untuk mencari makan sendiri sebagai bentuk protes turunnya harga,”kata Tatag Yudho saat berbincang-bincang via telefon dengan Tribunjogja.com

Dia mengaku banyak yang terkena imbas, mulai gulung tikar hingga pekerja dirumahkan karena harga ayam di peternak turun.

Oleh sebab itu, Tatag mewakili peternak berharap pemerintah turun tangan untuk mengatasi anjloknya harga ayam di peternak.

“Harapannya pemerintah mendengarkan keluhan dari peternak,”ujarnya.

Sebagai gambaran sederhana, harga pokok penjualan (HPP) peternak berkisar antara Rp17 hingga 18 Ribu.

Namun harga jual jauh dari harga ayam di kandang, bahkan sempat menyentuh angka Rp5 Ribu perkilo gram beberapa waktu lalu.

Kondisi Merata

Turunnya harga ayam tak hanya terjadi di wilayah Yogyakarta saja, beberapa wilayah juga mengalami persoalan yang sama.

Pada kondisi normal, harga ayam di kandang berada di kisaran Rp 18.000-19.000 per kg. Namun kini di Jabar berkisar antara Rp 6.000-9.000 per kg.

Baca Juga :  Yogyakarta Terdapat Tambahan 74 Kasus Covid-19

“Tapi kenapa harga di pasaran masih tinggi di angka Rp 30.000an,” ujar peternak di Kuningan, Jawa Barat, Muhammad Miftahudin saat dihubungi Kompas.com, Selasa (14/4/2020).

Miftah menjelaskan, turunnya harga ayam di tingkat peternak terjadi sejak awal merebaknya wabah corona di Indonesia.

Kondisi semakin buruk, setelah kampanye work from home (WFH) gencar disampaikan. Bahkan kini harga semakin jatuh setelah beberapa daerah menerapkan PSBB.

Dia menduga, turunnya harga ayam disebabkan over supply pada perusahaan besar.

Sedangkan demand-nya berkurang karena kebijakan PSBB.

Selain itu, turunnya harga jual ayam di tingkat peternak diduga akibat ulah mafia pangan yang ingin ambil untung di tengah wabah. Sebab harga ayam di pasaran masih tinggi.

“Saat kami jual langsung ke masyarakat, ternyata laris manis. Ini artinya, ada masalah di tengah. Kalau memang karena corona daya beli ayam sepi, mestinya tidak laris, dan harga di pasaran turun. Ini harganya tetap tinggi,” beber dia.

Wakil Sekjen DPP Data Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia Abbi Angkasa Perdana Darmaputra mengatakan pandemi virus corona di Indonesia membuat harga ayam di pasaran turun drastis.

Baca Juga :  Kampus yang Belum Siap Dilarang Gelar Pembelajaran Tatap Muka

Mereka juga terpaksa memusnahkan anak ayam umur 3-10 hari lantaran kebingungan membeli pakan. Hingga saat ini sudah hampir 2 juta anak ayam yang dimusnahkan. Ia berharap ada solusi terkait harga ayam nasional dan rantai distribusinya.

“Tolong kami satgas pangan,” kata dia.

Sementara itu praktisi peternakan ayam rakyat, Deki Neriawan menambahkan, penyebab lain adalah tidak terserapnya ayam karena daya beli masyarakat yang turun.

Berdasarkan survei pasar, harga daging ayam di pasar basah berkisar antara Rp 30.000-35.000 per kilogram karkas.

Sedangkan harga ayam dari kandang per 3 April 2020 berkisar Rp. 5.500-8.000 per kilogram untuk wilayah Pulau Jawa.

Kondisi ini memberatkan para peternak, karena harga pokok produksi per kilogram daging tetap di angka Rp 18.000- Rp19.000.

“Jika kondisi ini berlanjut sampai 2 minggu ke depan, bisa dipastikan seluruh peternak rakyat akan gulung tikar, yang akan diikuti gelombang PHK secara besar-besaran mencapai 12 juta karyawan,” kata Dekki.

www.tribunnews.com