JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Tragedi Setrum Jebakan Tikus Renggut 6 Nyawa di Sragen, 3 Petani Tewas Dalam Sepekan. DPRD Tuding Pemkab Abai dan Sengaja Pembiaran, Prihatin Nyawa Manusia Hanya Dihargai Padi Satu Patok Sawah!

Kondisi tiga petani dan buruh tani di Sragen yang tewas terkena setrum jebakan tikus. Foto kolase/Wardoyo
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
Kondisi tiga petani dan buruh tani di Sragen yang tewas terkena setrum jebakan tikus. Foto kolase/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Rentetan kematian tragis buruh tani dan petani di Sragen akibat kesetrum jebakan tikus, menuai reaksi keras dari kalangan DPRD.

Mereka menuding Pemkab abai dan tidak mempedulikan nasib petani ketika harus berjibaku melawan serangan hama meski nyawa taruhannya.

Anggota DPRD dari Fraksi Golkar, Bambang Widjo Purwanto mendesak Pemkab harus segera mengambil langkah-langkah terkait banyaknya korban tewas akibat setrum jebakan tikus.

Ia berharap harus ada sikap terkait jebakan tikus berlistrik mengingat dalam sepekan terakhir, sudah ada tiga buruh dan petani yang tewas.

“Apa harus menunggu jatuhnnya korban yang lebih benyak. Bayangkan belum ada sepekan saja sudah ada korban lagi. Kami melihat ada kesan pemerintah melakukan pembiaran,” paparnya kepada wartawan, Jumat (8/5/2020).

Bambang mengibaratkan pemberantasan serangan hama tikus kalau sudah merajalela sama halnya wabah seperti virus corona. Maka dari itu, pihaknya meminta pemerintah segera turun tangan agar tidak terjadi korban makin banyak berjatuhan.

“Saya juga curiga. Mengapa pemasangan setrum jebakan tikus ini hampir merata di semua daerah di Sragen. Kok bisa-bisa nya listrik dipakai untuk memberantas tikus sampai meluas begitu, tapi tidak diketahui dan tidak ada tindakan. Ini ada apa?” tukasnya.

Tak hanya Pemkab, Bambang juga menyentil PLN yang seolah juga membiarkan. Padahal menurutnya penggunaan listrik untuk jebakan tikus di sawah itu jelas bukan pada tempatnya.

Baca Juga :  Bukan Bunuh Diri, Kapolsek Ungkap Penyebab Kematian Mayat Pria Telanjang Dada di Pos Ronda Sragen Kota. Ada Warga Lihat Korban Sempat Melambaikan Tangan

“Bagaimana ini semua bisa terjadi. Kemarin apa yang sudah dilakukan pemerintah dan PLN. Coba kalau kita bandingkan dengn corona, baru dinyatakan positif lewat rapid test saja sudah pada bingung. Ini nyawa manusia hilang tidak ada perhatian. Kalau hanya satu mungkin dianggap kelalaian atau kecelakaan. Lha tapi ini sudah ke sekian kalinya. Pemerintah tidak ada langkah yang konkret,” tandasnya.

Ia juga mempertanyakan peran pemerintah dalam hal itu dinas teknis dalam mengupayakan pertanian dan penanganan hama. Sementara fakta di lapangan, petani seolah harus berjibaku sendiri melawan hama meski harus bertaruh nyawa.

Kemudian, sejak kematian-kematian sebelumnya, hingga kini ia menilai juga tidak ada tindakan dari pemerintah.

“Nyawa manusia hanya dihargai harga padi satu patok. Kasihan sekali nasib petani yang menjadi korban,” tandasnya.

Senada, anggota Fraksi PKB DPRD Sragen, Fathurrohman juga menyesalkan tidak adanya respon dan tindakan tegas Pemkab melalui dinas terkait dalam hal penggunaan setrum jebakan tikus.

Ia memandang selama ini advokasi dan perhatian terhadap nasib petani dan pertanian teramat minim.

“Terbukti pupuk sulit, kendala air, hama yang tidak teratasi. Apalagi penggunaan setrum jebakan tikus selama bulan puasa ini saja sudah tiga korban meninggal. Ini harusnya jadi perhatian serius pemerintah,” terangnya.

Baca Juga :  Terungkap, Aksi Perusakan Tugu PSHT di 3 Kecamatan di Sragen Libatkan Rombongan IKSPI. Diduga Untuk Show Of Force, Sempat Kocar-Kacir Dihalau Polisi Hingga Puluhan Motor Ditinggal

Menurutnya, Pemkab harus segera bertindak mengatasi serangan hama tikus yang saat ini merajalela. Kemudian segera memetakan wilayah mana yang ada penggunaan setrum untuk jebakan tikus dan sesegera mungkin dilarang.

Namun larangan itu juga harus diiringi dengan solusi bagaimana mengatasi hama yang efektif dan aman.

“Kalau perlu dinas terkait studi banding ke daerah-daerah yang sudah menerapkan penanganan hama tikus seperti di Klaten, Sukoharjo yang memberdayakan burung hantu. Karena selama ini kami melihat kalau ada serangan hama, juga belum ada gebrakan atau bantuan penanganan dari dinas terkait,” tukasnya.

Sementara, Ketua Fraksi Golkar, Sri Pambudi menekankan Pemkab harusnya lebih peka dengan mengantisipasi dan memberi pendampingan petani untuk penanganan hama yang efektif dan aman.

“Selama ini petani seperti dibiarkan dan Pemkab tidak peka. Harusnya Pemkab bisa mencarikan metode yang efektif memberantas hama tikus. Dinas teknis harus memberikan pelatihan bagaimana penanganan hama, jangan hanya menuntut produksi padi ditingkatkan, tapi nggak pernah peduli bagaimana ketika ada hama sehingga petani harus berupaya sendiri meski itu membahayakan keselamatan mereka,” tandasnya.

Sementara, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Sragen, Ekarini belum berhasil dimintai konfirmasi. Beberapa kali ponselnya dihubungi, tidak diangkat meski menunjukkan nada aktif. Wardoyo