JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Semarang

Lima Bulan Pandemi Covid-19, Usaha Fotocopy Terjun Bebas

Usaha printing dan fotocopy sepi semenjak merebaknya Covid-19 / lukman - joglosemarnews

SEMARANG, JOGLOSEMARNEWS.COM – Pandemi Covid-19 yang masih melanda mengakibatkan bisnis printing dan fotocopy di Kota Semarang terjun bebas.

Bagaimana tidak, siswa dan mahasiswa yang menjadi kunci pemasukan di bisnis ini kebanyakan pulang kampung lantaran kebijakan perkuliahan jarak jauh via online akibat Covid-19.

“Ini sangat berat, karena penurunan omzet mencapai 90 persen,” ujar Arifin (29), pemilik usaha jasa printing dan fotocopy Olympus.

Kepada Joglosemarnews dia mengaku, pendapatan rata-rata  per hari selama pandemi ini hanya sekitar Rp 20.000 hingga Rp 50.000.

Penurunan omzet ini sangat terasa bagi Arifin. Pasalnya, jika sebelum pandemi ia biasa mengantongi omzet antara Rp 800.000 hingga Rp 1,5 juta per harinya, maka sekarang hasil paling apes hanya Rp 2.000 saja dalam sehari.

Baca Juga :  Menguak Cerita di Balik Sendang Keramat Kalimah Toyyibah

“Dan yang paling sial, pernah dalam sehari benar-benar zonk,” bebernya.

Melihat kenyataan itulah, Arifin kini melakukan perubahan jam kerja secara frontal. Tujuannya untuk meminimalisir penggunaan listrik agar tidak membengkak.

Kalau biasanya buka pukul 08.00 WIB dan tutup pukul 22.00 WIB, kini toko baru buka pukul 09.00 WIB dan tutup pukul 20.00 WIB.

Tak hanya pemilik usaha,karyawan usaha jasa fotocopy pun kena imbasnya. Seperti yang dialami oleh Tri Zaenal (18), karyawan Zeus Fotocopy.

Ia harus rela mengalami pemotongan upah yang cukup signifikan. Jika semula ia mendapat upah Rp 2 juta sebulan, sejak pandemi ini dipangkas menjadi Rp 1,5 juta saja per bulan.

Akibat beban berat yang dialaminya, pemilik Zeus Fotocopy pun terpaksa mengurangi jumlah karyawan dan menutup salah satu tokonya. Hal itu dilakukan demi mengurangi beban pengeluaran yang semakin berat.

Baca Juga :  BPIP Cermati Gaya Khas Ganjar saat Berikan Edukasi Ideologi Pancasila.

Soib (32), karyawan Xeon Fotocopy pun tak kalah apesnya. Usaha yang baru satu tahun berdiri itu sudah diterpa cobaan berat. Omzetnya turun hingga sekitar 70 persen.

Ia mengatakan, Xeon Fotocopy memiliki tiga cabang di seputaran kampus Universitas Diponegoro (Undip). Masing-masing memiliki sekitar tiga orang karyawan.

“Tapi gara-gara pandemi ini, jumlah karyawan di tiga cabang dipangkas. Kalau sebelumnya tiga orang, sekarang cabang tinggal satu orang saja,” ujarnya.

Setelah hampir lima bulan, pandemi belum juga berakhir. Soib pun hanya bisa berharap pada pemerintah agar secepatnya mencarikan solusi yang tepat demi membantu rakyat. lukman