JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Karanganyar

Kisah Pilu di Balik Kecelakaan Maut Jatiyoso Karanganyar. Cita-Cita Vera,  Mahasiswi Politeknik Media Untuk Jadi Penyiar Televisi Harus Kandas

Agung Susanto, salah satu korban selamat. Foto/Beni
madu borneo
madu borneo
madu borneo

KARANGANYAR, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kecelakaan rombongan wisata satu keluarga besar dari Desa Kedungwinong Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, di turunan Jatiyoso, Karanganyar, Rabu (14/10/2020) menyisakan cerita tragis.

Betapa tidak, rencana wisata keluarga besar itu berubah jadi air mata. Padahal mereka yang ada diperantauan itu sengaja mudik kangen kampung halaman.

Tanggal pulang pun ditentukan karena masing-masing keluarga terpencar merantau di berbagai tempat.

Ada yang merantau di Jakarta, Sumatra hingga Sulawesi. Setelah sepakat dan akhirnya kelu arga besar itu bertemu di kampung halamannya.

Seperti lazimnya para pemudik berkumpul maka selanjutnya muncul ide untuk wisata ke Grojogan Sewu Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar.

Sejurus kemudian 17 anggota keluarga besar itu bertolak ke Tawangmangu menggunakan dua unit mobil.

Yakni satu unit minibus elf dan satu unit panther. Mobil minibus disopiri oleh Muhammad Solikhin (33) dan mobil panter disopiri anggota keluarga yang lain.

Kedua mobil berjalan beriringan dan yang didepan adalah mobil minibus elf melewati jalur Jatiyoso-Tawangmangu yang medanya relatif berbahaya naik turun serta banyak jurang.

Sesampai di Desa Karangsari saat turunan tajam, sopir minibus terlihat tidak terbiasa melewati jalur tersebut karena panik.

Dan benar adanya saat di turunan Desa Karangsari itu, Agung Susanto yang saat itu duduk ditengah curiga dan mendengar sopir teriak berdoa awas rem blong.

Baca Juga :  Sempat Dinaikkan ke Ambulans PDIP, Jenazah Wakil Ketua DPRD dan Ketua DPC Gerindra Pekalongan Mendadak Diturunkan Lagi. Akhirnya Dipindah dan Diantar ke Rumah Duka Pakai Ambulans PMI Sragen

“Spontan semua panik dahsyat dan saya menyarankan sopir agar menggunakan gigi rendah. Namun tetap saja mobil melaju makin kencang dan byaarr kecelakaan tak terhindari mobil nabrak gapura dan terguling,” ujar Agung, kepada JOGLOSEMARNEWS.COM .

Saat itu pada posisi terguling Agung sadar dan berteriak kesakitan. Sedang 13 penumpang lainnya menjerit menangis histeris.

Sejurus kemudian warga datang dan memberikan pertolongan.

“Saya sempat melihat kondisi sopir luka parah terjepit. Dan ternyata benar sopir meninggal dunia sesampai rumah sakit PKU Muhammadiyah Karanganyar,” tukasnya.

Meski begitu Agung yang hanya mengalami luka lecet itu tidak mengira jika istri dan anaknya Verawati (19) luka parah. Ketiganya dilarikan ke RS PKU Muhammadiyah untuk menjalani perawatan. Endang Suwarni, istri Agung mengalami patah tulang kaki.

Sedangkan anaknya semata wayang Verawati sempat dirawat satu jam , namun takdir berkehendak lain. Verawati yang juga mahasiswi Polimedia di Bogor itu meninggal dunia.

Tangis pun pecah di RS PKU Muhammadiyah karena Verawati adalah satu-satunya anak semata wayang yang dibanggakan tapi harus berpulang terlebih dulu.

Baca Juga :  Rintis Sinergitas Usaha dengan BKK di Karanganyar, BUMDes Desa Lempong Jenawi Target Rp 50 Juta Perbulan

Menurut Agung, almarhumah menjalani semester tiga dan bercita-cita ingin menjadi presenter televisi jika sudah lulus kuliah.

Almarhumah dikenal pandai dan cerdas sehingga bakatnya menjadi penyiar sudah terlihat.

Namun punah sudah harapan. Tuhan berkehendak lain memanggil Verawati.

” Saya bingung harus bagaimana karena cita-citanya ingin menjadi penyiar sangat kuat. Namun kini apa daya,” ungkapnya memilukan.

Padahal lanjut Agung keluarga sangat mendorong cita-cita almarhum.

“Apapun kebutuhannya kami suport demi kuliahnya,” imbuhnya.

Agung pun merasa heran firasat apa yang mendorong almarhum sangat antusias mudik dan ngotot berwisata ke Grojogan Sewu hingga akhirnya berakhir tragis.

“Memang Vera ngotot senang banget  mendengar keluarga mau piknik ke Tawangmangu. Bahkan ngotot agar segera berangkat,” tuturnya.

Kini Agung pun dipaksa harus merelakan kepergian anak satunya semata wayang.
“Sudahlah saya serahkan pada Tuhan,” ungkapnya.

Sementara menghadapi pemakaman almarhum, Endang Suwarni selaku ibu Vera juga sedih karena kemungkinan tidak bisa menghadiri pemakaman sebab kakinya patah tulang dan harus dioperasi.

Jika tidak datang tentu menyedihkan karena satu-satunya anak semata wayang, tapi jika mau datang apakah kondisi tubuh memungkinkan.

“Saya juga bingung masalah pemakaman nanti,” lanjut Agung. Beni Indra