
KARANGANYAR, JOGLOSEMARNEWS.COM –
Kematian seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) tukang kebun di SD Jetis 03, Sulardi (50) di jembatan sungai Bengawan Solo, ruas ring road Utara, Minggu (14/2/2021) ternyata memunculkan spekulasi dan indikasi bunuh diri.
Korban yang merupakan warga Gerdu RT 02/07, Desa Jetis, Jaten, Karanganyar itu diduga bunuh diri dengan cara nyemplung ke Sungai Bengawan Solo dari atas jembatan.
Namun karena belum ditemukan bukti kuat, aparat terkait satu suara menyatakan, korban tewas karena terpeleset saat hendak muntah karena merasa mual.
Namun informasi yang dihimpun JOGLOSEMARNEWS dari berbagai sumber menyebutkan, ada indikasi yang mengarah pada dugaan bunuh diri karena dipicu adanya masalah internal keluarga.
Kades Desa Jetis,Kecamatan Jaten, Suparli (53) yang juga masih saudara sepupu Sulardi mengakui mendengar informasi perihal konflik internal Sulardi dengan Istrinya Sulastri (45) semenjak dua bulan terakhir.
“Memang sebagai keluarga saya mendengar informasi konflik keluarga tersebut dua bulan terakhir,” ujarnya kepada JOGLOSEMARNEWS, Senin (15/2/2021) tanpa memerinci konfliknya.

Yang pasti, lanjut Suparli semenjak konflik itu, Sulardi terlihat galau. Ada semacam tekanan batin hingga akhirnya seminggu (sebelum peristiwa dugaan bunuh diri terjadi) Sulardi dan istrinya sempat disidang oleh kakak Sulardi yang juga bernama Sulastri.
Pertemuan tersebut untuk mencari solusi masalahnya, namun rupanya tidak tercapai.
Hingga pada Minggu (14/2/2021), diperoleh kabar bahwa Sulardi hanyut di Sungai Bengawan Solo dan hingga Senin (15/2/2021) belum ditemukan.
“Secara kronologi, banyak sekali kejanggalanya, namun kordinasi antara Saya sendiri, Camat, Kades, Polsek Jaten disepakati satu suara bahwa Sulardi terpeleset saat hendak muntah di jembatan Bengawan Solo Ringroad,” ujarnya.
Beberapa kejanggalan dalam kronologi tersebut, lanjut Supali, antara lain Sulardi beserta istrinya Sulastri dan anaknya Raka (11) pamit hendak membeli lauk, tapi rutenya tidak seperti biasanya di tempat yang dekat, namun ke arah arah Ringroad utara.
Kejanggalan kedua, sesampai ringroad, Sulardi balik kanan dan tiba-tiba berhenti mencopot mantol, helm dan menyerahkan dompet pada istrinya.
Lalu motor berjalan mengarah pada jembatan dan tiba-tiba Sulardi mengaku sandalnya lepas sehingga dia berhenti turun alasan mengambil sandal. Sejurus berikutnya Sulardi mengaku mual dan muntah, namun tiba-tiba tercebur.
“Monggo silahkan wartawan mencerna informasi sendiri tapi karena saya seorang Kadus saya harus ngomong bahwa Sulardi terpeleset saat hendak muntah, meskipun saksi anaknya Raka (11) mengatakan bapak meloncat dari jembatan,” ungkapnya.
Sementara itu, Koordinator Pos Basarnas Surakarta Arif Sugiyarto mengakui banyaknya spekulasi informasi masuk mengarah pada indikasi dugaan bunuh diri oleh Sulardi.

Namun karena belum ada bukti otentik, pihaknya tetap berasumsi awal kronologi Sulardi terpeleset saat hendak muntah di Jembatan Sungai Bengawan Solo Ringroad.
“Banyak sekali simpang siur informasi bahkan opini tentang kasus ini, tapi bagi Basarnas berdasar asumsi awal saja Sulardi terpeleset karena spekulasi itu juga belum ada buktinya,” ungkapnya.
Diakui Basarnas juga mencoba melacak kebenaran informasi tersebut pada RT/RW dan sumber di sekitar TKP.
Arif menjelaskan, hingga Senin (15/2/2021) proses pencarian masih dilakukan oleh banyak lembaga dan relawan. Beni Indra
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.














