
SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Jika berkunjung ke kota Solo, hal yang familiar dan sering dijumpai di sepanjang jalan dan gang adalah angkringan.
Angkringan identik dengan gerobak dorong disertai dua buah kursi panjang di setiap sisi panjangnya, serta aneka makanan dan minuman yang dijual di atas gerobak angkringan itu.
Makanan dan minuman khas angkringan seperti es teh, es jeruk, wedang jahe, nasi kucing, gorengan, sundukan, dan aneka cemilan di tata berjajar di atas gerobak. Tak lupa rentetan minuman kemasan pun tersedia lengkap.
Namun Yuli, menjual makanan dan minuman khas angkringan dengan cara berbeda. Ia tidak menggunakan gerobak sebagai tempat menaruh dagangan, melainkan menggunakan sebuah becak.
Selain karena tidak ada tempat penitipan gerobak di sekitar tempat jualannya, Yuli mengaku ada alasan lain kenapa ia memilih becak sebagai pengganti gerobak angkringan.
“Dulu kan pakai gerobak dioprak-oprak Satpol PP nggak boleh gitu. Sarannya pakai yang dorongan saja. Ya saya milih becak aja kan gampang,” tutur Yuli, kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Selasa (8/2/ 2021).
Berlokasi di sekitar Jl. Jend. Urip Sumoharjo (sekitar Pasar Gede Hardjonagoro), setiap pukul 06.30 pagi Yuli menata dagangan dan rentetan minuman kemasan di becak warna putih yang ia sewa. Menjelang pukul 17.00 WIB, Yuli mengemasi dagangannya seraya membayar biaya sewa becak yang ia pakai.
“Sehari sewanya Rp 5.000. Daripada becak punya lik nganggur to eman-eman, saya pakai,” ungkap Yuli.
Aneka minuman yang dijual Yuli hanya berkisar Rp 2.500 sampai Rp 3.000 saja. Sebagaimana mestinya orang berdagang, kadang kala dagangan Yuli masih tersisa banyak.
Meskipun begitu, dengan adanya Yuli, para karyawan terbantu ketika tengah kehausan dan ingin mencari minuman yang bersahabat bagi kantong. Lulun Safira
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.















