Beranda Daerah Wonogiri Pekerjaan yang Telah Punah, Pembuat Garam di Pantai Selatan Paranggupito Wonogiri Pernah...

Pekerjaan yang Telah Punah, Pembuat Garam di Pantai Selatan Paranggupito Wonogiri Pernah Dilakukan Masyarakat Kecamatan Pracimantoro Paranggupito Giritontro dan Giriwoyo. Punah Gegara Kandungan Yodium Kurang Bagus dan Waktu Pembuatannya Lama

Seorang warga menikmati panorama memukau Pantai Sembukan Paranggupito Wonogiri. JSNews. Aris Arianto
Seorang warga menikmati panorama memukau Pantai Sembukan Paranggupito Wonogiri. JSNews. Aris Arianto

WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Ternyata pembuat garam pernah menjadi salah satu profesi sebagian warga Kecamatan Paranggupito, Wonogiri. Mereka memproduksi garam dari air laut selatan sekitar pantai di Paranggupito.

Namun profesi tersebut sudah tidak digeluti lagi. Pasalnya kualitas garam tidak sesuai standar lantaran kandungan yodiumnya yang kurang bagus.

Soal profesi yang telah lunah itu diungkapkan Kepala Desa (Kades) Paranggupito, Dwi Hartono. Menurut dia,
sisa-sisa aktifitas membuat garam masih bisa dilihat saat ini. Yakni banyaknya bekas alat memasak dari tanah liat yang ditemukan di sekitar tebing atau pantai di kawasan Paranggupito. Alat yang digunakan saat itu yakni klenting, kwali dan kendil.

Selain itu masih ditemukan beberapa gubug di bukit sekitar pantai. Gubug itu digunakan masyarakat untuk menginap saat mereka membuat garam di sekitar pantai.

Dia mengatakan sekitar 1960-1970 terjadi paceklik. Saat warga kehabisan makanan, mereka melakukan barter perabotan dan perlengkapan rumah tangga dengan makanan.

Pada masa sulit saat itu, kata dia, masyarakat menemukan ilmu membuat garam. Karena wilayah Paranggupito paling selatan berbatasan langsung dengan laut.

Baca Juga :  Harga Emas Hari Ini Selasa 13 Januari 2026 Meroket! Antam UBS Galeri 24 Kompak Naik, Cek yang Paling Murah

Dwi mengatakan, dulu orang buyan (sebutan untuk masyarakat yang tinggal di dataran rendah) yang berada di sekitar Paranggupito, seperti warga Kecamatan Giritontro, Giriwoyo dan Pracimantoro pergi ke Paranggupito untuk membuat garam di sekitar pantai. Mereka bersama-sama ke pantai dengan warga sekitar. Gerabah yang dibawa digunakan untuk mengambil air di laut.

“Orang sini mengistilahkan dengan ngangsu neng segara,” ungkap dia, Minggu (28/2/2021).

Proses membuat garam saat itu dengan cara air laut dimasak menggunakan kayu bakar. Setiap delapan liter air yang direbus, menghasilkan setengah kilogram garam. Proses merebus memutuhkan waktu lama, karena airnya harus habis.

“Garam setengah kilogram saat itu sangat berharga. Karena makanan mahal. Garam digunakan bumbu masak ayam atau kambing. Jadi dulu itu lebih sering makan daging dan daun daripada nasi. Masyarakat lebih sering menyembelih kambing dan ayam ternaknya. Selain itu juga makan pisang yang dimiliki di pekarangan,” ujar dia.

Menurut Dwi, mulai 1965, makanan sudah mulai mudah didapatkan. Masyarakat mulai berbenah dan mulai mengurangi membuat garam. Salah satu alasan masyarakat saat itu tidak mempertahankan pembuatan garan karena memakan banyak waktu, mulai dari proses merebus hingga mencari kayu bakar.

Baca Juga :  Kuota Haji Jateng 2026 Melejit! 34.122 Jemaah Siap Berangkat, Skema Embarkasi Dirombak Total YIA Difungsikan

Pernah ada yang mencoba membuat garam dengan cara dijemur di atas terpal. Tidak selang lama pembuatan garam itu dihentikan lantaran kandungan zodiumnya kurang bagus. Aria

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.