JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Karanganyar

Seminggu Sebelum Tewas di Bengawan Solo, PNS Karanganyar Ini Silaturahmi ke Saudara-saudaranya Sembari Menangis dan Minta Maaf

Foto: Beni Indra

KARANGANYAR, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kejanggalan di balik peristiwa terceburnya Sulardi (50), seorang PNS tukang kebun di SD Jetis 03, Jaten, Karanganyar, Jateng semakin mengemuka.

Belakangan diketahui, sekitar seminggu sebelum tercebur di Sungai Bengawan Solo, di atas jembatan Ringroad Sroyo, Minggu (15/2/2021), korban  keliling ke rumah saudara-saudaranya untuk meminta maaf sembari menangis.

Saudara Almarhum, Suparli (53) yang juga Kadus Sambirejo, Desa Jetis, Jaten menuturkan, tidak biasanya dalam adat Jawa, seseorang bersilaturahmi keliling itu biasanya saat Syawal.

Namun seminggu sebelum kejadian, terang Suparli, Almarhum berkeliling untuk melakukan silaturahmi ke rumah ibunya dan semua. Kepada ibu dan saudara-saudaranya, Almarhum  meminta maaf sambil menangis.

“Ini kan aneh. Tidak biasa. Ada apa Almarhum menangis dan meminta maaf. Saat itu semua saudara pada bingung dan akhirnya terjawab sudah setelah kejadian itu,” tandasnya.

Baca Juga :  Sebanyak 114 Pelayan Publik Karanganyar Disuntik Vaksin Covid-19, Termasuk Anggota DPRD dan   Wartawan

Menurut Suparli, sebagian keluarga pun sempat bertanya-tanya, mengapa kronologi kejadiannya janggal. Misalnya, Almarhum sempat mengambil rute pergi yang tidak seperti biasanya.

Selain itu, kronologi sebelum kejadian pun sempat memunculkan pertanyaan. Misalnya, Almarhum mencopot mantol, helm, lalu menitipkan dompet pada anaknya, sebelum akhirnya Almarhum terjatuh ke sungai Bengawan Solo disaksikan anak bungsunya Raka (11) dan istrinya, Sulastri (45).

Suparli mengakui, bersama Camat dan Polsek Jaten mereka mengatakan Almarhum meninggal lantaran terpeleset. Namun sebagai anggota keluarga, dia mengaku bingung melihat kronologi yang berbeda tersebut.

“Ya akhirnya, saya ikut mengatakan Almarhum terpeleset. Tapi fakta adanya kejanggalan dalam peristiwa ini sudah tersebar luas,” ujarnya.

Baca Juga :  Tolak KLB , DPC Partai Demokrat Karanganyar Tuding Penghembus Isu Partai Keluarga Adalah Modus Untuk Kudeta

Suparli bahkan mengatakan, ada perbedaan kesaksian antara anaknya Raka (11) dengan ibunya, Sulastri (45) perihal penyebab meninggalnya Almarhum.

“Anaknya mengatakan Bapak meloncat ke sungai. Namun ibunya mengatakan, almarhum terjungkal dan tercebur ke sungai saat mereka muntah karena mual,” ungkapnya.

Sementara, warga di sekitar Almarhum tinggal, sudah menduga Almarhum tidak terpeleset begitu saja. Di antara mereka muncul dugaan Almarhum  sengaja bunuh diri lantaran dipicu tekanan batin yang dialaminya dalam dua bulan terakhir.

Sementara itu, Kordinator Basarnas Pos Surakarta, Arif Sugiyarto mengakui adanya dua versi informasi tersebut.

“Ya investigasi kami di bawah memang ada pro kontra informasi. Namun kami tetap mengacu bukti saja, yakni asumsi bahwa korban terpeleset saat hendak muntah,” ungkapnya. Beni Indra