SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Sejak tahun 1980-an silam, Wiyoto (60), warga Desa Saren, Kecamatan Kalijambe, Sragen setia dengan pekerjaannya menjual es tape.
Ia tahu, di jaman sekarang jenis-jenis minuman sudah berkembang demikian pesat dan disukai banyak orang, terutama kalangan anak muda.
Seperti misalnya kopi, boba, milkshake, thai tea, dan masih banyak lagi, yang tentu saja mampu memanjakan lidah.
Namun rupanya, semua itu tidak membuat Wiyoto ciut nyali dan kemudian berpaling dari profesinya sebagai penjual es tape.
“Saya sudah berjualan es tape ini sejak tahun 80-an. Sammpai sekarang juga masih jualan es tape,” kisah Wiyoto kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Kamis (18/2/2021).
Wiyoto mengakui, kemunculan minuman masa kini dengan aneka rasa tersebut memang bisa saja menggeser minuman zaman dulu, seperti es dawet atau es tape bikinannya tersebut.
Meski demikian, ia tetap setia dengan produk yang ia jual. Soal rezeki ia serahkan sepenuhnya kepada yang di Atas. Menurutnya, rezeki sudah ada yang mengatur.
Tak Pernah Sepi Pembeli
Sesuai namanya, es tape, bahan baku dari minuman ini adalah tape. Namun masih ada campuran lainnya, seperti kelapa, vanili, gula, garam dan sirup.
“Rasa tapenya memang mendominasi. Rasanya nikmat dan membuat segar di kala haus,” ujar salah seorang pembeli yang enggan disebut namanya.
Memang tidak seperti jenis-jenis minuman masa kini yang mudah dijumpai, es tape ini agak sulit ditemui. Sebab hanya sedikit penjual es tape yang masih bertahan sampai saat ini.
Namun tak perlu bingung mencari es tape di Sragen. Cobalah melintas di sekolah-sekolah, karena es tape ini lebih banyak dijajakan bagi anak-anak sekolah.
Seperti Wiyoto, menjajakan es tapenya dengan menggunakan gerobak dorong. Setiap hari ia berjualan di sekolah-sekolah yang berada di dekat rumahnya.
“Sebelum pandemi kan biasanya jualan di depan sekolah-sekolah. Tapi karena sekarang pandemi dan anak-anak pada libur ke sekolah, ya terpaksa saya jualan di sini,” tambah Wiyoto.
Tentu saja, harga es tape produk Wiyoto ini tidak sampai menguras isi kantong. Ia hanya mematok harga Rp 2.000 untuk per bungkus es tape.
Dulu, di awal-awal Wiyoto berjualan, harga es tape miliknya malah hanya Rp 5 saja (lima rupiah).
Sebagaimana yang ia yakini sebelumnya, ternyata aneka jenis minuman yang sekarang bertebaran tidak mengurangi rezekinya. Es tape miliknya nyaris tak pernah sepi pembeli. Bahkan setiap harinya ia mampu menjual sempai 150 bungkus es tape. Reza Pangestika
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.















