Site icon JOGLOSEMAR NEWS

Yuk Intip Rahasia Budidaya Melon Lioni di Karanganyar nan Menjanjikan. Sekali Tanam, Keuntungan Rp 20 Juta di Tangan!

Panen perdata melon di lahan milik perangkat desa Jati, Riman. Foto/Wardoyo

 

KARANGANYAR, JOGLOSEMARNEWS.COM – Petani di Karanganyar mulai merasakan manisnya keuntungan budidaya melon.

Salah satunya budidaya melon varietas Gordes, Sakata dan Lioni yang belakangan menjanjikan keuntungan menggiurkan.

Seperti kisah sukses Riman (51) petani melon asal Desa Jati, Kecamatan Jaten, Karanganyar. Ia mulai mereguk keuntungan di budidaya perdananya setelah mendapati panen raya di bulan puasa ini.

Kepada wartawan, pria yang berprofesi perangkat desa itu mengungkapkan budidaya melon adalah percobaan pertamanya dan berhasil panen cukup bagus.

Jenis melon yang ditanamnya adalah varietas gordes, sakata dan lioni. Awal tanam sampai panen membutuhkan waktu 65 hari.

Dari tiga varietas itu, lioni yang paling cocok ditanam di ladangnya. Sedang dua varietas lainnya kurang begitu cocok

Ia mengawali bercocok tanam melon di tanah kas desa berukuran 2.500 meter persegi. Menurutnya budidaya melon memang membutuhkan perawatan yang tidak sederhana selama masa tumbuh kembang tanaman.

Diawali seleksi per batang, kemudian dilanjutkan pengawasan rutin untuk mencegah penyakit tanaman menyebar serta memasang penembak jitu untuk menghalau hewan pengerat.

Namun kerja kerasnya selama dua bulan bercocok tanam tidak sia-sia. Ia berhasil memanen 5,1 ton melon kualitas super atau ukuran ekstra dan 1,5 ton kelas pasar lokal. Sisanya, ia bagikan ke para tetangga.

Dengan modal bercocok tanam sekitar Rp 40 juta, ia mampu meraup penjualan sekitar Rp 60 juta alias ada keuntungan Rp 20 juta.

“Satu batang tanaman biayanya Rp 10.000 Untuk melon super Rp 10.000 perkilo. Sedangkan yang kelas B untuk pasar lokal Rp 4.500 perkilo,” paparnya ditemui di lahannya Kamis (15/4/2021).

Dikatakannya, panen melon mengobati kekecewaannya setelah sempat terpuruk akibat kegagalan panen padi di dua musim terakhir.

“Kalau tanam padi, harus tunggu empat bulan sampai panen. Kalau melon hanya dua bulan. Lagipula hasilnya lebih menguntungkan melon,” katanya.

“Bisa dibilang, dua tahun ini pagebluk karena serangan tikus. Banyak yang rugi karena hasil panen padi rusak dan tidak bisa diselamatkan. Saya memutuskan menanam melon. Kebetulan ada ajakan dari mitra perusahaan dari Jakarta. Mereka memberi modal bibit dan obat hama. Nanti panennya diangkut dengan harga pantas,” imbuhnya.

Dikatakannya, belum banyak petani mengambil kesempatan mengubah komoditas tanam. Kebanyakan masih menanam padi meski risiko gagal panen cukup tinggi.

Setelah mengetahui kesuksesan Riman, beberapa petani berniat mengikuti. Bahkan ada yang mulai menanam. Lainnya juga mengganti padi dengan bawang merah.

Menurutnya panen bertepatan ramadan menjadi berkah tersendiri. Melon kualitas B yang biasanya dijual di pasar tradisional, dihargai tinggi.

“Sebenarnya tidak sengaja panennya bertepatan mau ramadan. Kalau sekarang, permintaan melon memang tinggi,” katanya.

Masih bekerjasama dengan mitra perusahaan di Jakarta, ia akan menanam semangka di musim selanjutnya. Masa tanam sama, yakni 65 hari. Wardoyo

Exit mobile version