JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Harga Kedelai Makin Mencekik, Puluhan Perajin Tahu di Sragen Ramai-Ramai Mogok Produksi. “Maaf Kami Sudah Tak Sanggup Lagi Menyiasati!”

Perajin tahu di Teguhan Sragen Wetan saat menunjukkan tumpukan ember yang kosong karena berhenti produksi. Foto/Wardoyo


SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Puluhan perajin tahu di sentra produksi tahu Kampung Teguhan, Kelurahan Sragen Wetan, Kecamatan Sragen Kota, Sragen, mengelar aksi mogok produksi secara massal, Rabu (26/5/2021).

Aksi itu dilakukan sebagai puncak kekesalan perajin atas meroketnya harga kedelai impor yang menjadi bahan baku utama mereka.

Berbagai upaya menyiasati, tak lagi bisa menutup membengkaknya biaya produksi. Sehingga tak ada pilihan lain kecuali menghentikan produksi mereka.

Kenaikan harga kedelai yang makin ugal ugalan membuat perajin tak berdaya lagi. Salah satu perajin tahu di Teguhan Sragen Wetan, Suwarno (39) menyampaikan ia nekat menutup pabrik tahu lantaran tak mampu lagi menyiasati harga kedelai impor yang semakin hari semakin melambung tinggi.

Kenaikan harga kedelai yang mencapai Rp 11.000 dinilai sudah di luar batas kewajaran lagi. Hal itu belum ditambah kenaikan harga minya goreng dan biaya untuk membayar karyawan.

“Iya, dengan sangat terpaksa kami tutup soalnya harga kedelai sudah sangat tinggi. Saat ini harga kedelai impor dari Amerika sudah Rp 11.00p. Tidak mampu lagi bagi kami pengusaha tahu untuk membeli. Harga minyak goreng mulai ikut naik, biaya operasional juga sudah tinggi,” kata Suwarno kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Rabu (26/5/2021).

Suwarno menyampaikan bagi perajin tahu, harga kedelai impor itu sangat tak wajar karena sebelumnya hanya berkisar Rp 6.000 sampai Rp 7.000 itu.

Menurutnya, perajin terus merugi karena hasil produksi tak mampu menutup kenaikan biaya produksi. Aksi mogok produksi di usahanya sudah berjalan dua hari dan tiga karyawan terpaksa juga diliburkan.

Baca Juga :  Kisah Pilu Perjuangan Ibu Muda asal Sragen Bertaruh Nyawa Jalani Persalinan Dalam Kondisi Positif Covid-19. Bayinya Selamat, Sang Ibu Meninggal Tanpa Sempat Melihat Sang Buah Hati

“Sebenarnya kasihan juga, tadi ada yang menghubungi, mereka pada mencari tahu. Kemarin kemarin kita masih bisa merubah potongan tahu agak kecil. Namun lama-lama bahan baku terus naik, tidak mungkin kalau kita mau motong tahu lagi dan kasihan konsumen. Apa lagi konsumen nggak mau kalau ukuran tahu diperkecil. Ya sudah apa boleh buat, maaf kami tak sanggup lagi bertahan,” jelasnya.

Perajin tahu di Kampung Teguhan Sragen memutuskan berhenti produksi karena harga kedelai makin meroket hingga membuat perajin merugi. Foto/Wardoyo

Senada perajin lain, Hadi Widodo (71) mengatakan ada puluhan perajin di kampungnya yang sejak kecil menjalankan usaha tahu secara turun temurun.

Termasuk dirinya juga sudah membantu kedua orang tuanya membuat tahu sejak kecil hingga kini.

Namun ia merasakan kondisi terberat dialami saat ini. Harga kedelai yang mahal dan bahan baku lainnya begitu mencekik perajin.

Karena makin merugi, ia dan perajin lainnya sudah tak sanggup lagi membuat tahu untuk dijual ke pasar, lantaran harga kedelai mahal.

“Kalau jaman dulu meskipun harga kedelai mahal masih bisa produksi. Tapi jaman sekarang ini sangat luar biasa mas tidak bisa produksi. Dulu satu petak bisa jadi 100 potong nah karena naik bahan baku dijadikan 110 itu untuk menutup harga. Tapi sekarang naik nggak aturan begini dan nggak mungkin motong ukuran tahu lagi,” ujar Widodo.

Baca Juga :  Ngeri, Terperosok Lubang Jalan Pemotor asal Gondang Sragen Terpental dan Tewas Mengenaskan

Tokoh masyarakat Kampung Tahu Teguhan, Mario menyampaikan ada 80 sampai 90 perajin tahu di sentra tahu Teguhan.

Atas kondisi ini, mereka berharap pada pemerintah pusat agar segera menangani masalah serius ini. Pasalnya efeknya sangat banyak dan berantai.

Mulai dari ratusan pekerja produksi tahu jadi menganggur, penyuplai sekam atau berambut tidak bisa mendapatkan lagi.

Lalu para peternak sapi dan kambing tidak mendapat pakan dari sisa produksi tahu, hingga masyarakat luas tidak mampu lagi memperoleh tahu di pasaran.

“Harapan kami, pemerintah bisa terbuka atas kondisi ini. Kalau tidak diatasi, nasib puluhan keluarga tidak lagi bisa makan, lalu masyarakat juga akan makin kesulitan memenuhi kebutuhan protein dari tahu yang selama ini menjadi lauk paling terjangkau,” tandasnya. Wardoyo