
BOYOLALI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Hujan abu sebagai dampak erupsi Merapi tidak sampai mengganggu kegiatan warga di kawasan lereng gunung tersebut. Namun demikian, para petani terpaksa merugi.
Pasalnya, hujan abu membuat harga panen tembakau dan sayuran anjlok.
“Hujan abu yang terjadi memang tipis. Namun karena terjadi beberapa kali, ya akhirnya cukup tebal juga,” ujar Maryanto, kadus Stabelan, Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Rabu (11/8/2021).
Dijelaskan, terhitung sejak Minggu (8/8) pagi berlanjut sampai Selasa (10/8) malam terjadi hujan abu hingga 4-5 kali.
Akibatnya, abu menutup daun dan tanaman warga di ladang. Meski tidak membuat rusak tanaman, hujan abu vulkanik membuat harga jual menjadi turun, terutama untuk tanaman tembakau.
“Sebelum terkena abu, harga tembakau Rp 5.000/kg. Sekarang setelah kena abu harga turun menjadi Rp 4.000/kg.”
Demikian juga harga jual tomat dan cabai ikut turun akibat dampak hujan abu Merapi.
“Ya. Untungnya tanaman cabai dan tomat tidak begitu banyak. Mayoritas tanaman saat musim kemarau adalah tembakau.”
Apakah warga juga mendengar suara gemuruh saat terjadi guguran awan panas Merapi ? Maryanto mengakui ada suara gemuruh.
Bahkan, jika terjadi erupsi cukup besar, warga juga merasakan getaran.
Masyarakat juga rutin berjaga setiap malam untuk antisipasi hal- hal yang tidak diinginkan. Guguran awan panas selama ini masih mengarah ke barat daya sehingga tidak terlihat langsung dari Stabelan.
“Kami tetap meminta warga agar tenang sembari menunggu informasi resmi lebih lanjut dari pemerintah.” Waskita
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.















