JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Merasa Dirugikan Galian C Ilegal, Wanita Asal Masaran Sragen Tuntut Tebing Sawahnya Dibangun Talud dan Dipagar. ESDM Jateng ke Penambang: Berani Berbuat Harus Tanggungjawab!

Kondisi bekas kerukan galian C di Gebang Masaran yang kini dibiarkan setelah operasional tambang dilaporkan berhenti usai ditengarai tidak mengantongi ijin. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Proses mediasi kasus galian C ilegal di Desa Gebang, Masaran yang dilaporkan ke Polres oleh wanita pemilik sawah asal Desa Jirapan, Masaran, Sunarni (39), berakhir buntu.

Mediasi antara Sunarni dengan pihak pengelola tambang berinisial ANT yang digelar di Polres Sragen, gagal mencapai kesepakatan.

Sunarni tetap menuntut agar penambang membangunkan talud dan pagar di tebing bawah sawahnya yang berbatasan dengan lokasi bekas ditambang.

Tuntutan itu dikarenakan kondisi lahan dekat sawah Sunarni yang dikeruk kini memunculkan tebing tegak lurus setinggi 3,5 meter dan dinilai membahayakan.

“Kemarin mediasi sekitar satu jam. Saya diberi waktu oleh penyidik untuk mediasi dengan 3 orang pelaku tambang dan pemilik backhoe. Saya tetap menginginkan agar bagian tebing bekas dikeruk, dibangun talud pakai batu yang kuat sama dipagar tinggi. Karena kalau dibiarkan itu akan sangat membahayakan, lahan bisa longsor, kalau kalau jalan bisa jatuh,” paparnya kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Minggu (28/11/2021).

Baca Juga :  Pimpin FKKD Sragen, Kades Siswanto Siap Akomodir Kepentingan Semua Kades. Pesannya Jaga Netralitas dan Patuhi Regulasi

Sunarni menguraikan tuntutan itu terpaksa ia ajukan lantaran peringatan dan masukan yang disampaikan ke penambang tak pernah dihiraukan.

Selain tanpa izin, aktivitas penambangan itu juga sudah merusak lingkungan dengan memunculkan tebing setinggi 3,5 meter dan kini membahayakan sawahnya yang tepat berada di atas lahan bekas dikeruk.

Baca Juga :  Tersedia 33.000 Dosis, Vaksinasi Booster di Sragen Dimulai Hari Ini. Bupati Ungkap Antibodi Warga Sudah Menurun!

“Mereka hanya mengambil keuntungan mengeruk material tanpa pernah memikirkan dampaknya. Kami susah payah membeli sawah, akhirnya jadi kena imbasnya,” urainya.

Namun, mendengar tuntutan itu, pengelola tambang menyatakan tidak sanggup. Mereka hanya sanggup untuk membuat penahan dengan menambal tebing pakai tanah yang diberi penahan bambu dan kresek.

Sunarni, pemilik sawah di Gebang Masaran usai melaporkan aktivitas galian C di dekat sawahnya ke Polres Sragen, Kamis (28/10/2021). Foto/Wardoyo

Kontan saja, tawaran itu langsung ditolak mentah-mentah oleh Sunarni. Ia menilai upaya itu tidak sebanding dengan kerusakan lingkungan dan bahaya yang ditimbulkan.

Halaman selanjutnya »

Halaman :  1 2 Tampilkan semua