WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM — Selama setahun pada 2021 tercatat ada 39 kasus demam berdarah dengue atau kasus DBD Wonogiri. Dari jumlah itu lima pasien DBD meninggal dunia.
Lima kasus kematian akibat DBD itu terjadi di tiga kecamatan. Rinciannya, Kecamatan Wonogiri Kota tiga kasus dan masing-masing satu kasus di Kecamatan Selogiri dan Kecamatan Girimarto.
“Ada anak-anak (yang meninggal karena DBD,red). Paling muda usianya 12 tahun. Anak SMP,” kata Kepala Dinas Kesehatan atau Kepala Dinkes Wonogiri Setyarini didampingi Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Satyawati Prawirohardjo, Selasa (11/1/2022).
Kematian lima pasien itu dikarenakan keterlambatan pasien untuk menjalani rawat inap atau perawatan. Saat kondisi parah dan mengalami DSS, pasien baru datang ke rumah sakit sehingga dirawat beberapa hari saja sebelum meninggal.
“Kebetulan lima kasus (yang meninggal dunia) kemarin itu DSS,” ujar dia.
Diduga saat penderita demam berdarah hendak memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan takut jika harus menjalani rapid test atau lainnya. Karena itu, perawatan yang seharusnya segera didapatkan oleh penderita terlambat diterima. Satyawati pun mewanti-wanti masyarakat untuk tidak takut memeriksakan diri ke rumah sakit jika mengalami gejala DBD.
Lebih jauh, dia menuturkan kematian akibat DBD tergantung strain virus dengue yang masuk ke tubuh penderita, pasalnya ada beberapa strain virus yang menyebabkan dengue shock syndrome (DSS).
Satyawati menambahkan, ada sejumlah upaya yang bisa dilakukan untuk mengendalikan DBD. Upaya itu diantaranya adalah pemberantasan sarang nyamuk (PSN) yang bisa dilakukan oleh masyarakat dengan cara menguras atau membersihkan tempat penampungan air, menutup rapat tempat oenampungan air, mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk, menaburkan abate di tempat penampungan air yang sulit dibersihkan dan lain sebagainya. Selain itu, juga bisa dilakukan fogging.
“Kalau fogging atau pengasapan itu kan hanya menyasar nyamuk dewasa, itupun pada jam tertentu saja. Karena itu perlu dilakukan PSN,” kata dia.
Satyawati menerangkan, perlu dilakukan pengecekan pemeriksaan jentik nyamuk di tempat yang bisa menampung air di dalam rumah. Bahkan area tak terduga dan terlewatkan seperti tampungan air di kulkas, tampungan air di dispenser bahkan tempat minum hewan peliharaan.
Pasalnya, pihaknya pernah mendapatkan penglaman saat dilakukan penyelidikan epidemiologi. Pengecekan di penampungan air yang biasa diperiksa minim jentik nyamuk, namun masih ditemukan kasus DBD pasca dilakukan fogging.
“Ternyata (jentik nyamuk) malah ditemukan di tempat-tempat tak terduga itu tadi. Termasuk di tatakan pot tanaman. Tempat seperti itu harus rutin dicek. Di musim penghujan seperti saat ini kita perlu waspada,” tegas Satyawati.
Tak hanya di lingkungan rumah, nyamuk aedes aegypty juga perlu diwaspadai di semua lingkungan. Baik sekolah, perkantoran dan lainnya. Karena itu, PSN harus digalakkan.
Kadinkes Setyarini mengatakan, jika fogging terlalu sering dilakukan maka nyamuk juga bisa resisten. Artinya, nyamuk bisa kebal dari obat fogging.
“Jadi ini juga perlu diketahui masyarakat. Bisa resisten kalau terlalu sering dilakukan fogging,” ujar dia. Aris
