JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Wonogiri

5 Warga Wonogiri Meninggal Karena DBD, Ternyata Gegara Dipicu Hal ini

Petugas Dinas Kesehatan Wonogiri mem-fogging Rutan Kelas II B Wonogiri, Jumat (18/1/2019).

WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM — Selama setahun pada 2021 tercatat ada 39 kasus demam berdarah dengue atau kasus DBD Wonogiri. Dari jumlah itu lima pasien DBD meninggal dunia.

Lima kasus kematian akibat DBD itu terjadi di tiga kecamatan. Rinciannya, Kecamatan Wonogiri Kota tiga kasus dan masing-masing satu kasus di Kecamatan Selogiri dan Kecamatan Girimarto.

“Ada anak-anak (yang meninggal karena DBD,red). Paling muda usianya 12 tahun. Anak SMP,” kata Kepala Dinas Kesehatan atau Kepala Dinkes Wonogiri Setyarini didampingi Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Satyawati Prawirohardjo, Selasa (11/1/2022).

Kematian lima pasien itu dikarenakan keterlambatan pasien untuk menjalani rawat inap atau perawatan. Saat kondisi parah dan mengalami DSS, pasien baru datang ke rumah sakit sehingga dirawat beberapa hari saja sebelum meninggal.

Baca Juga :  Pelajar Batu Kidul Baturetno Wonogiri Tewas, Jadi Korban Kecelakaan Bus Ismo vs Honda Vario di Kaliancar Krisak Selogiri

“Kebetulan lima kasus (yang meninggal dunia) kemarin itu DSS,” ujar dia.

Diduga saat penderita demam berdarah hendak memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan takut jika harus menjalani rapid test atau lainnya. Karena itu, perawatan yang seharusnya segera didapatkan oleh penderita terlambat diterima. Satyawati pun mewanti-wanti masyarakat untuk tidak takut memeriksakan diri ke rumah sakit jika mengalami gejala DBD.

Lebih jauh, dia menuturkan kematian akibat DBD tergantung strain virus dengue yang masuk ke tubuh penderita, pasalnya ada beberapa strain virus yang menyebabkan dengue shock syndrome (DSS).

Baca Juga :  Lowongan Pendamping Produk Halal, Total 6000 Formasi Lebih, Ini Syaratnya

Satyawati menambahkan, ada sejumlah upaya yang bisa dilakukan untuk mengendalikan DBD. Upaya itu diantaranya adalah pemberantasan sarang nyamuk (PSN) yang bisa dilakukan oleh masyarakat dengan cara menguras atau membersihkan tempat penampungan air, menutup rapat tempat oenampungan air, mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk, menaburkan abate di tempat penampungan air yang sulit dibersihkan dan lain sebagainya. Selain itu, juga bisa dilakukan fogging.

Halaman selanjutnya »

Halaman :  1 2 Tampilkan semua
  • Pantau berita terbaru dari GOOGLE NEWS
  • Kontak Informasi Joglosemarnews.com:
  • Redaksi :redaksi@joglosemarnews.com
  • Kontak : joglosemarnews.com@gmail.com