JOGLOSEMARNEWS.COM – Semenjak mulai diberlakukannya pembelajaran jarak jauh (PJJ) karena pandemi Covid-19, membuat sebagian besar remaja menghabiskan waktunya di rumah.
Tentu saja tidak hanya belajar saja. Melalui media internet, anak-anak dan remaja menemukan dunia yang menyenangkan.
Diam-diam mereka menemukan kesemptan yang luas untuk bermain gim video atau internet hingga menyebabkan kecanduan yang tidak sehat.
Kondisi tersebut diakui oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) sebagai penyakit. Dan, remaja sangat berisiko mengalami masalah tersebut.
Gangguan yang disebabkan akibat kecanduan ini terkait dengan masalah kesehatan mental dan kinerja akademik yang lebih buruk, para peneliti sibuk mencari cara untuk mengatasi kondisi tersebut.
Sebuah studi baru tampaknya menawarkan metode pengobatan yang sangat menjanjikan, yakni menggunakan pendekatan terapi perilaku kognitif (CBT) yang disebut PROTECT (penggunaan Media Teknis Profesional) untuk mengurangi keparahan gejala gangguan gim dan internet.
“Hasil uji coba ini menunjukkan bahwa intervensi PROTECT secara efektif mengurangi gejala gangguan permainan dan gangguan penggunaan internet selama 12 bulan,” tulis para peneliti dalam makalah baru mereka, dilansir dari Sciencealert, Rabu 23/2/2022.
Sebanyak 422 siswa SMA dari 33 sekolah yang berbeda, berusia antara 12 dan 18 tahun, terlibat dalam penelitian ini.
Dari jumlah tersebut, 167 anak terdaftar dalam kursus PROTECT. Sementara itu, 255 akan menjadi kelompok kontrol tanpa pelatihan PROTECT yang diberikan.
Survei tindak lanjut kemudian dijadwalkan selama satu tahun.
Kursus PROTECT disampaikan oleh psikolog terlatih dan terdiri dari empat sesi 90 menit. Seperti teknik CBT lainnya, teknik ini mencoba mengubah pola pikir negatif untuk mengubah perilaku-dalam hal ini, faktor risiko seperti kebosanan, masalah motivasi, dan kecemasan sosial diatasi.
Setelah satu tahun, para peneliti menemukan keparahan gejala gangguan gim dan internet telah turun 39,8 persen pada kelompok PROTECT, dibandingkan dengan 25,7 persen untuk kelompok kontrol.
Namun, tidak ada perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok dalam tingkat kejadian kedua kondisi setelah satu tahun.
“Selain itu, analisis gejala deskriptif menunjukkan peningkatan awal keparahan gejala gangguan permainan atau gangguan penggunaan internet yang tidak ditentukan dalam bulan pertama pada kelompok intervensi PROTECT, dibandingkan dengan penurunan keparahan gejala pada kelompok kontrol yang hanya menilai saja,” ujar peneliti.
Peneliti mengatakan apa yang terjadi di otak dengan jenis kecanduan ini mirip dengan apa yang terjadi di otak orang yang kecanduan zat seperti obat-obatan atau alkohol.
Sekitar 4,6 persen orang diperkirakan memiliki gangguan kecanduan gim, dengan prevalensi gangguan penggunaan internet sekitar enam persen.
Gangguan tersebut mendapat tanggapan serius oleh komunitas ilmiah dan medis, terutama karena dampak pandemi pada pendidikan dan isolasi terus dirasakan di seluruh dunia.
Para peneliti ingin melihat studi lebih lanjut yang melibatkan lebih banyak siswa dan kelompok berisiko tinggi, dan menyarankan agar materi PROTECT dapat disampaikan oleh guru dan juga konselor.
Mengetahui masalah ini tidak turun selama 12 bulan, tim menyarankan menghentikan parilaku adiktif pada kesempatan sedini mungkin adalah pilihan terbaik. Amandha Tito Nursahid
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.














