JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Dibuka Lagi, Siswi SD Korban Perkosaan Massal di Sragen Ungkap Digilir di Rumah Kosong dan Balai Desa. Sempat Ngedrop dan Ketakutan

Ilustrasi siswi korban pencabulan, perkosaan. Foto/Istimewa

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kasus dugaan perkosaan yang menimpa seorang siswi SD asal Sukodono, Sragen berinisial W (9) kembali dibuka.

Korban mengungkap dipaksa melayani nafsu bejat 4 orang pelaku di dua tempat berbeda. Dari dua kejadian itu, para pelaku menggagahinya sembari melontarkan ancaman.

Fakta itu terungkap saat korban menjalani pemeriksaan tambahan di Mapolres Sragen, Kamis (19/5/2022).

Pemeriksaan ulang dilakukan atas instruksi Polda dan Kapolres Sragen yang baru, setelah hampir 2 tahun kasus itu mengambang tanpa kejelasan.

W hadir di Mapolres didampingi ibunya serta aktivis dari lembaga bantuan hukum (LBH) Mawar Saron Solo dan pegawai Dinas Sosial Sragen.

Direktur LBH Mawar Saron Solo, Andar Beniala Lumbanraja seusai pemeriksaan menyampaikan kliennya, W, dimintai keterangan oleh penyidik selama hampir 3 jam mulai pukul 10.30 WIB sampai 13.30 WIB.

Kliennya ditanya sekitar 10 pertanyaan seputar insiden itu, bagaimana cara pelaku berbuat dan sebagainya.

Baca Juga :  Awas Proyek Pasar Djoko Tingkir di Nglangon Dalam Pengawasan Kejari Sragen. Sudah Ada MoU dengan Bupati

Di hadapan penyidik, kliennya membeberkan kembali kronologi perkosaan yang dialaminya pada akhir 2020 silam itu. Seperti keterangan awal dulu, W juga menyampaikan bahwa dirinya mengalami dua kali perkosaan.

Pertama, dilakukan oleh pria berinisial S (39) yang masih tetangga dan notabene diketahui merupakan oknum guru atau pelatih silat.

Pelaku memaksa korban melayani nafsu bejatnya di sebuah rumah kosong dengan terlebih dahulu diajak menonton video asusila. Saat itu, S menggagahi W disertai ancaman jika tidak menuruti maka orangtuanya akan dilakukan gak negatif.

“S ini melakukannya ke klien kami di rumah kosong. Ada ancaman kalau tidak mau menuruti diajak bersetubuh, maka dia akan mendapat ancaman di mana ayak ibunya akan dilakukan sesuatu hal negatif,” papar Andar kepada wartawan di Mapolres, Kamis (19/5/2022).

Kemudian kejadian kedua dilakukan 3 laki-laki dengan usia masih pelajar setingkat SMP. Mereka adalah temannya P (siswi berusia 15 tahun) yang selalu mengajak W ini untuk mau melakukan hubungan intim.

Baca Juga :  Harga Sawit Hancur Lebur di Titik Terendah, Warga Sragen di Perantauan Menangis

Aksi perkosaan bergilir itu terjadi sekitar 11 Desember 2022. Saat itu, korban dibujuk oleh P akan diajak jajan namun ternyata dibohongi. Bukannya diajak jajan, korban justru dibawa ke kantor balai desa yang di lokasi itu sudah menunggu 3 pelaku teman P.

“Saat di kamar mandi balai desa itu, korban disuruh oleh P untuk membuka celana dan celana dalam. Kemudian disuruh melayani laki-laki teman P yang tidak dikenal oleh klien kami. Karena diancam, saat itu dengan rasa takut, klien kami mengikuti keinginan dari P untuk melayani teman temannya,” terang Andar.

Saat korban dipaksa melayani teman-teman P secara bergantian, P sendiri juga melakukan hubungan intim bersama 2 orang pria.

Halaman selanjutnya »

Halaman :  1 2 Tampilkan semua