Beranda Nasional Jogja Belajar di Tempat Parkir, Siswa SDN 3 Bantul Harus Bersaing dengan Bising...

Belajar di Tempat Parkir, Siswa SDN 3 Bantul Harus Bersaing dengan Bising dan Panasnya Atap Asbes

Siswa SDN 3 Bantul belajar di tempat parkir yang diubah menjadi ruang kelas darurat, Jumat (11/11/2022) / tribunnews

BANTUL, JOGLOSEMARNEWS.COM Para siswa dan guru di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 3 Bantul di Bejen, Kapanewon Bantul, harus sedikit bersabar.

Pasalnya, kegiatan belajar mengajar di sana harus berlangsung di ruan parkir yang disulap sebagai kelas darurat.

Mereka terpaksa belajar di tempat darurat, karena ruang kelas 1a dan 1b mengalami kerusakan dan berpotensi roboh sewaktu-waktu.

Meskipun kondisi kelas darurat tidak layak, namun dari pantauan wartawan Tribunjogja.com, para siswa tetap aktif belajar.

Ruang kelas darurat tersebut terletak di antara bangunan sekolah dan pagar sekolah yang biasanya dipakai untuk parkir sepeda anak-anak.

Atapnya pun terbuat dari asbes, sehingga sangat panas.

Agar tidak silau, celah di pagar sekolah ditutup dengan spanduk.

Di luar pagar adalah jalan kampung yang walaupun tidak ramai, tetap saja ada beberapa kendaraan berseliweran.

Ada dua ruang kelas darurat yang dibangun dan hanya disekat oleh papan.

 

Agar anak-anak tetap nyaman, sekolah juga membawa kipas angin di ruang kelas darurat tersebut.

Namun, dengan kondisi atap asbes dan semi terbuka, jika matahari sedang terik maka hawa panas tetap terasa, apalagi jika hujan, tentu air akan masuk ke ruang kelas tersebut.

Kepala SDN 3 Bantul , Sumaryatun mengatakan, hampir semua bangunan rawan karena usianya sudah lebih dari 20 tahun, namun kondisi ruang kelas yang mengalami kerusakan cukup parah ada di kelas 1a dan 1b.

Saat ini pihaknya mengosongkan kedua ruang kelas tersebut.

Dalam satu bangunan tersebut ada juga ruang kelas 1c dan dua ruang guru yang semua masih difungsikan.

“Rusaknya di atap kelas 1a dan 1b, terutama balungan yang rapuh dimakan rayap, kuda-kuda, usuk juga rapuh, dan sebagian disangga dengan kayu,” ujarnya saat ditemui Jumat (11/11/2022).

Kedua ruang kelas tersebut sudah dirasakan kerusakannya setidaknya sejak beberapa tahun lalu, dan semakin lama kerusakannya semakin parah.

Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, pihaknya mengosongkan dua ruang kelas tersebut dan membuat kelas darurat di lahan parkir sekolah.

“Kami memang prihatin sekali dengan keadaan seperti itu. Anak-anak dipindahkan yang sebenarnya kurang layak juga. Mereka belajar di parkiran sejak 3 November kemarin,” paparnya.

Sekolah memfasilitasi beberapa kipas angin agar anak-anak tidak kepanasan saat hari sedang terik.

Sementara saat kondisi hujan, anak-anak akan dipindahkan ke musala dan perpustakaan.

Lebih lanjut, dengan kondisi ini dirinya sudah beberapa kali mengajukan permohonan bantuan DAK (dana alokasi khusus) untuk memperbaiki sekolah.

Namun hingga saat ini belum ada respon dari pemerintah.

Baca Juga :  Diskoma UGM Kupas Viralitas Media Sosial dan Budaya Afektif Masyarakat Digital

Sementara BOS hanya bisa digunakan untuk perawatan saja, dan bukan untuk merenovasi karena itu memerlukan biaya yang cukup besar.

“Kami sudah mengajukan proposal DAK, tapi untuk realisasi belum, dan untuk 2023 ini sudah proposal saya ketiga. Semoga tahun depan sudah bisa diperbaiki sebelum PPDB,” tandasnya.

Selama belum ada perbaikan, sekolah mengupayakan anak-anak tidak jenuh saat belajar di kelas darurat, yakni dengan membuat semua kelas bergiliran belajar di ruang kelas darurat tersebut.

Menurutnya ini bisa menumbuhkan rasa toleransi dan empati antar sesama warga sekolah.

“Jadi tidak hanya kelas 1a dan 1b saja yang belajar di sana, kami gilirkan agar semua merasakan dan itu sudah seizin orang tua, komite dan paguyuban orang tua (pot),” bebernya.

Selain kelas 1a dan 1b yang masing-masing memiliki jumlah siswa 26 anak,  kelas lain yang sempat merasakan belajar di ruang kelas darurat adalah kelas 5a.

Aiska Fainara (11) siswi dari kelas 5a mengaku merasa kepanasan saat belajar di ruang kelas darurat. Ia pun jadi sulit berkonsentrasi dalam belajar.

“Pengalaman saya saat di kelas dekat parkiran, walaupun ada tiga kipas tetap panas. Dan suaranya bercampur jalanan, kemarin juga ada suara gilingan padi,” ungkapnya.

Meski tidak mau selamanya belajar di ruang kelas tersebut, Aiska tetap menaruh empati ke adik-adik kelasnya.

Maka dari itu, ia dan teman-temannya juga setuju jika bergilir belajar di kelas darurat.

“Kasihan, kelas 1 kan kepanasan. Kita enggak papa panas, yang penting mereka enggak kepanasan. Jadi enggak papa bergiliran, biar semua merasakan,” ucapnya.

Sekolah lain yang mengalami kerusakan cukup parah adalah di SDN Sawit di kalurahan Panggungharjo, Kapanewon Sewon. Dari pantauan Tribun Jogja, di bagian bubungan atau sisi atap teratas terlihat melengkung.

Sementara eternit, walaupun masih terlihat utuh, tapi juga dalam kondisi melengkung.

Kepala SDN Sawit, Sumartinah mengatakan bahwa kondisi sekolah memang sudah waktunya untuk direnovasi.

Namun yang sangat terlihat membahayakan adalah bubungan di atas kelas 5.

Padahal biasanya beberapa kelas berada di satu bangunan yang sama meski di sekat tembok antar kelasnya.

Maka rusaknya bubungan di atas kelas 5 juga bisa berdampak ke kelas-kelas lain, termasuk kelas 4 yang berada di sebelahnya.

Sumartinah mengungkapkan untuk sementara, ruang kelas 5 dikosongkan dan siswanya menempati ruangan yang sebelumnya digunakan untuk aktivitas ekstrakurikuler.

Sedangkan ruang kelas 4 yang berada di sebelahnya tetap difungsikan.

“Ruang kelas 5 saya kosongkan, pintu saya gembok. Kalau untuk kelas 4 tetap, karena sudah tidak ada ruang lain kalau dipindah,” ujarnya.

Baca Juga :  Kasus Jambret Berujung Polemik, Kapolres Sleman Dinonaktifkan Sementara

Maka dari itu dirinya mewanti-wanti kepada guru dan siswanya untuk segera evakuasi jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Meskipun dalam kondisi yang memprihatinkan, Sumartinah menyatakan bahwa kegiatan belajar mengajar tetap berjalan lancar.

Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Bantul, Isdarmoko menyatakan bahwa pihaknya meminta agar seluruh kepala sekolah dapat menginventarisasi kondisi gedung sekolah dan ruangan.

Langkah ini dilakukan agar kejadian robohnya ruang kelas atau bangunan gedung sekolah tidak terjadi di Kabupaten Bantul .

Hasil inventarisasi itu kemudian dapat dilaporkan ke dinas dan jika ada laporan kerusakan gedung sekolah akan ditindaklanjuti dengan melakukan pengecekan langsung.

“Nanti kami di dinas langsung terjun cek lokasi, saat melakukan pengecekan kami juga akan mengajak konsultan, jika kondisinya membahayakan langsung saya minta untuk dikosongi. Yang penting aman dulu, gedung dikosongi baru kita proses untuk pendataan, perencanaan untuk kemudian lapor ke pemkab termasuk dewan,” urainya.

Dari pendataanya, ada dua sekolah yang mendesak untuk segera diperbaiki yakni SDN 3 Bantul dan SDN Sawit.

Pihaknya pun sudah menyampaikan hal tersebut ke Bupati dan harapannya akan ada anggaran APBD di 2023 yang bisa dialokasikan untuk memperbaiki bangunan sekolah yang rusak.

Ia mengakui, karena keterbatasan anggaran, pemerintah tidak bisa secara sekaligus memperbaiki semua sekolah yang rusak.

Maka dari itu rencananya, perbaikan dilakukan di dua sekolah terlebih dahulu, baru sisanya akan digarap di tahun 2024 jika tidak bisa masuk dalam anggaran 2023.

“Memang ada keterbatasan anggaran, tidak bisa kalau bareng-bareng. Tapi kalau hal itu mendesak maka akan jadi prioritas, karena ini menyangkut pendidikan dan keselamatan, terutama yang dua itu ( SDN Bantul 3 dan SDN Sawit ),” ungkapnya.

www.tribunnews.com

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.