JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Lato-lato merupakan permainan yang tengah naik daun di kalangan generasi muda, terlebih lagi anak-anak.
Permainan tradisional yang lama tak muncul ini seketika menjadi tren baru dibuktikan dengan suara khasnya yang kembali terdengar di berbagai tempat, baik itu di desa maupun di kota.
Seiring berjalannya waktu, mainan lato-lato disebut bisa membuat anak melupakan gadgetnya.
Lantas seperti apakah dampak negatif dan positif permainan lato-lato ini bagi anak-anak? Simak penjelasannya berikut ini.
Dilansir dari Republika.co.id, dokter spesialis anak, Eny Febrianti mengungkapkan bahwa permainan bernama lato-lato yang bentuknya menyerupai pisau bermata dua ini bisa memberikan dampak negatif dan positif bagi anak-anak.
“Ada efek positif dan negatif bermain lato-lato,” ujar Eny dalam webinar “Plus Minus Latto Latto Bagi Mental dan Otak Anak” disimak di Jakarta, Kamis (26/1/2023).
Efek positif dari permainan yang populer pada tahun 1960-1970-an itu, pertama, dapat melatih motorik halus, ketangkasan, dan konsentrasi anak.
Kedua, dalam memainkannya dibutuhkan keterampilan dan keahlian khusus sehingga disinyalir dapat meningkatkan keterampilan anak.
Ketiga, mainan yang disebut juga dengan clackers ball itu dapat mendistraksi anak dari gadget.
Sementara itu, efek negatif dari lato-lato ini antara lain dapat membahayakan anak dan orang lain, menyebabkan kecanduan sehingga anak menjadi malas melakukan kegiatan atau permainan fisik lainnya, dan polusi udara.
Lebih lanjut, dokter di Instalasi Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja RSJ Dr Soeharto Heerdjan Grogol, Isa Multazam Noor, menjelaskan bahwa lato-lato adalah salah satu mainan ketangkasan dengan menggunakan tangan.
Namun, Isa justru mengatakan ada hal-hal yang menjadi dampak negatif dari lato-lato.
Pertama, suara yang ditimbulkan dapat menggangu konsentrasi belajar siswa jika dimainkan di lingkungan sekolah.
Kedua, dapat membahayakan keselamatan jika dimainkan tidak sesuai dengan aturan cara memainkannya.
Ketiga, di Amerika Serikat lato-lato hanya diperuntukkan bagi anak kelas 9 sampai 12 atau setara usia SMP hingga SMA di Indonesia, dimana hal ini mempertimbangkan unsur keselamatan dan kepatuhan aturan bermain.
Keempat, apabila talinya terputus, bola dapat terlempar ke kerumunan anak. Lalu yang kelima, lato-lato dapat menimbulkan cedera pada anak, misalnya wajah, jari, dan tangan.
“Lato-lato idealnya yang ada cakramnya (bukan tali saja), cukup aman, karena ada pegangannya. Setiap mainan ada unsur membahayakan atau tidak bahaya, makanya orang tua harus meminimalisasi,” tutur Isa.
Isa kemudian mengatakan bahwa lato-lato mengeluarkan suara yang memekakkan telinga saat dimainkan.
Meski demikian, lato-lato dapat mendorong timbulnya rasa senang, membuat ketagihan, bahkan memunculkan rasa penasaran.
Anak-anak harus hati-hati dan waspada ketika bermain lato-lato agar tidak terkena bagian tubuh tertentu. Perlu diketahui, di Amerika Serikat, lato-lato dikategorikan dalam permainan dengan bahaya mekanis.
Sementara itu, Isa juga menjelaskan dampak positif permainan lato-lato ini. Pertama, bisa digunakan sebagai media belajar selingan agar proses belajar mengajar tidak hanya berlangsung secara monoton.
Kedua, gerakan dalam permainan ini disinyalir juga bisa menjadi pemicu untuk menstimulasi fungsi motorik anak.
Ketiga, saat bermain lato-lato, pemain harus menggerakkan tangannya dengan seimbang agar dapat menghasilkan permainan yang baik. Hal ini dapat berpotensi meningkatkan ketangkasan dan keseimbangan pada anak.
Keempat, saat gerakan ini berlangsung, setidaknya terjadi fokus koordinasi antara kognitif dan motorik anak yang dapat berdampak baik bagi ketercapaian perkembangannya.
Terakhir, gerakan secara langsung dari permainan ini disinyalir bermanfaat untuk sistem saraf yang bermuara pada proses pembelajaran. Wahyu Fajar Lestari
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.















