Beranda Nasional Jogja Debrin Gelar Pameran Lukis “Mataku di Mata-Mu”

Debrin Gelar Pameran Lukis “Mataku di Mata-Mu”

Pameran luisan “Mataku di Mata-Mu” karya Debora Rini Dwi Hastuti | Istimewa

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Siapa bilang melukis tidak bisa menjadi media terapi mata serta untuk memperoleh kesehatan jiwa dan raga?

Pelukis muda, Debora Rini Dwi Hastuti mengatakan, melukis bisa menjadi sarana terapi dan menjadi obat mujarab, karena bisa membakar semangat dan menumbuhkan harapan.

“Melalui proses melukis, otot mata, syaraf, dan otak bekerja secara sinergis,” ujar Debora, seperti dikutip dalam rilisnya ke Joglosemarnews.

Debora Rini memajang 50 karya lukisnya dalam  pameran tunggal yang menggugah jiwa berjudul “Mataku Di Mata-Mu”.

Gelar pameran dilangsungkan di Gedung Sonobudoyo, Yogyakarta mulai Sabtu (13/1/2024) hingga 20 Januari 2024.

Pameran dibuka oleh Pupuk Daru Purnomo (pelukis senior), dan dikuratori oleh Dr. Ki Hadjar Pamadhi MA.

Turut hadir mensuport adalah Prof. Dr Eli Rohaeti (UNY) dan dr. Gideon Hartono (K 24) dan Prof Langkah Sembiring (UGM).

Debrin, sapaan akrab Debora Rini Dwi Hastuti, mengisahkan hidupnya yang penuh perjuangan dan harapan dalam  kumpulan lukisan yang memukau.

Pameran itu tidak hanya sekadar karya seni visual, tetapi juga merupakan bentuk terapi mata yang istimewa bagi Debrin.

Kecelakaan tragis tahun 2017  menyebabkan mata kanannya terluka parah. (bersyukur mata kiri pulih 90%), saraf mata kanan yang lemah memengaruhi saraf tangan dan kaki, vertigo, dan penglihatan kabur. Terapi mata dengan  melukis menjadi obat mujarab, membakar semangat dan memberikan harapan.

Baca Juga :  N-Max Oleng dan Gasak Tiang Listrik di Jogja, Pengendara Tewas di Tempat

“Sejak 2018, melukis telah menjadi ritual harian, melalui proses melukis, otot mata, syaraf, dan otak bekerja secara sinergis. Sebagai ungkapan terima kasih kepada Tuhan, hasil terapi mata digelar dalam pameran bertajuk ‘Mataku Di Mata-Mu’, papar Debrin dihadapan hadirin pada pembukaan pameran tunggalnya.

Kurator Hadjar Pamadhi mengatakan: “Pameran yang mengawali tahun baru 2024 adalah untaian catatan kehidupan Debora Rini Dwi Hastuti (painting is just another way of keeping a diary). Pameran Tunggal perdana merupakan ekspresi kegembiraan yang semestinya sudah pupus dengan Mata. Karena, persoalan mata menjadikan hidup dan kehidupannya depresi.

Hadjar mengungkapkan lukisan bukan hanya terapi fisik, tetapi juga pengurang depresi. Meski menghadapi kram kepala dan gangguan penglihatan, ketekunan melukis membawa kebahagiaan dan komunitas baru.

“Debrin ikut serta dalam 21 pameran sebelumnya, dan pameran ini, sebagai debutnya di Gedung Sonobudoyo, menjadi capaian luar biasa.”

Masih kata Hadjar, Debrin mengembangkan gaya lukisannya dari realis ke surealisme, menciptakan karya-karya yang menggambarkan perjalanan batinnya. Lukisan berjudul “Horse, Hope, and Hardiness” menjadi ekspresi perjuangan melangkah menuju mimpi, kendati terhalang kenyataan.

Dua karya terakhir, “Mataku di Mata-Mu” dan “Mataku Tertuju Pada-Mu,” menjadi lamunan yang belum selesai. Debrin menyatakan bahwa dunia tidak bisa diangkat sepenuhnya dalam karyanya. Pameran ini, baginya, adalah tanggapan mata sebelah, karena objek dan subjek lukisannya ada di matamu.

Baca Juga :  Propam Periksa Kapolresta dan Kasat Lantas Sleman, Buntut Kasus Hogi Minaya

Pameran “Mataku Di Mata-Mu” tidak hanya sekadar pameran seni, tetapi juga perjalanan melihat dunia melalui setengah mata. Debrin memotret kehidupan,

harapan, dan perjuangan melalui goresan kanvasnya, membuktikan bahwa hidup tidak terbatas oleh keterbatasan fisik. Dalam rasa, pikiran, dan tindakannya, Debrin membagikan keindahan dunia yang tak terlihat sepenuhnya, tetapi dirasakan dengan sepenuh hati. Suhamdani

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.