Beranda Umum Lingkungan Sosial dan Pembentukan Kepribadian

Lingkungan Sosial dan Pembentukan Kepribadian

Media sosial (Medsos) menjadi salah satu faktor eksternal yang bisa mempengaruhi pola pergaulan dan kepribadian individu | Foto ilustrasi: Freepik
Clementine Dwayani Danitasari

Dalam menjalankan kehidupan sehari-hari sebagai mahasiswa rantau, pasti harus bisa menyesuaikan diri terhadap lingkungan sekitar tempat mereka tinggal. Penyesuaian diri atau beradaptasi yaitu dapat mempertahankan eksistensinya, atau bisa survive dan memperoleh kesejahteraan jasmani dan rohani, serta dapat mengadakan relasi yang memuaskan dengan tuntutan sosial (Muchamad Choirudin, 2015).

Tujuan dari pembentukan kepribadian adalah untuk membimbing individu agar dapat mengembangkan sikap kerendahan hati, keberanian untuk memperjuangkan kebenaran dengan tekad, serta tanggung jawab tanpa keraguan.

Pentingnya pembentukan kepribadian dapat diuraikan menjadi dua aspek utama, yakni membantu mahasiswa mencapai kecerdasan dan keunggulan akademis, sambil juga mendorong mereka menjadi individu yang baik. Kesulitan yang muncul dalam menghadapi permasalahan sikap dan tingkah laku menegaskan urgensi dari proses pembentukan kepribadian ini.

Kepribadian seseorang dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal melibatkan aspek-aspek yang timbul dari dalam diri individu tersebut.

Biasanya, faktor internal ini terkait dengan faktor genetis atau bawaan yang dimiliki sejak lahir. Faktor genetis mencakup pengaruh keturunan dari salah satu sifat yang dimiliki oleh salah satu dari kedua orang tua atau dapat menjadi kombinasi dari sifat keduanya (Sjarkawi, 2008).

Faktor eksternal yang berperan dalam membentuk kepribadian individu melibatkan lingkungan, dan salah satunya adalah peran penting lingkungan keluarga dalam proses ini.

Komunikasi memiliki fungsi sebagai saluran yang menghubungkan orang tua dan anak, memegang peran sentral dalam dinamika keluarga. Jika komunikasi antara orang tua dan anak tidak optimal, konsekuensinya dapat berupa ketidakharmonisan dan retaknya hubungan dalam keluarga.

Terlebih lagi, ketika seorang anak sedang merantau jauh dari kedua orang tuanya. Pentingnya interaksi sosial dan dukungan emosional dari orang tua menjadi krusial untuk menjaga kesehatan mental anak.

Baca Juga :  Akui Jarang Wawancara Pers, Prabowo Utamakan Kerja Riil untuk Rakyat

Faktor eksternal yang kedua adalah pergaulan dengan teman sebaya. Pertemanan merupakan hubungan manusia yang bersifat saling memberi dukungan, kasih sayang, kepercayaan, dan saling melengkapi.

Melalui interaksi dengan teman sebaya, individu dapat memahami konsep hubungan mutualisme yang bersifat simetris. Proses ini memungkinkan seseorang untuk memahami prinsip keadilan melalui perbeedaan pendapat dengan teman sebaya, dan juga membantu mereka untuk mencari tahu ketertarikan dan pandangan teman sebaya, dengan tujuan agar dapat bergabung dengan aktivitas teman sebayanya secara perlahan lahan.

Faktor eksternal ketiga yang signifikan adalah pengaruh dari media sosial. Pada era digital saat ini, media telah menjadi bagian integral dari lingkungan sosial. Media sosial, seperti Twitter, Facebook, Youtube, TikTok, Telegram, Instagram, dan Line, tampaknya telah menjadi daya tarik utama bagi masyarakat dan sering kali dianggap sebagai kecanduan.

Keberhasilan penggunaan media sosial ini dapat diatribusikan kepada keunggulan dan daya tarik unik yang dimilikinya, serta kemudahan akses yang membuat individu betah berlama-lama dalam berinteraksi dengannya.

Dalam konteks perkembangan mahasiswa, penggunaan media sosial membawa banyak manfaat, termasuk mempermudah akses informasi. Meskipun demikian, terdapat dampak negatif, seperti ketidakmauan mahasiswa untuk berusaha membuat tugas mereka sendiri ketika mendapat tugas dari dosen, karena cenderung mengandalkan metode copy-paste tanpa adanya upaya pendalaman lebih lanjut.

Faktor eksternal terakhir yang memengaruhi kepribadian adalah pengaruh budaya. Budaya merujuk pada pola hidup yang tumbuh dan dibagikan oleh suatu kelompok orang, diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Pengaruh positif dari budaya di sekitar individu, terutama di luar lingkungan keluarga, dapat memberikan kontribusi positif terhadap karakteristik kepribadian seseorang.

Baca Juga :  Dalam Sidang Chromebook, Nadiem Ungkap Peran Jokowi soal Digitalisasi Pendidikan

Sebaliknya, jika lingkungan dengan budaya yang negatif di luar lingkungan keluarga juga mungkin mengubah perilaku individu dari yang awalnya baik menjadi perilaku yang kurang baik.

Meskipun demikian, hal ini juga sangat tergantung pada kepribadian dan pola pikir individu. Jika seseorang mampu menjaga ketenangan pikiran dan tidak terpengaruh oleh lingkungan dengan budaya yang kurang baik, dampak negatif ini dapat diminimalkan.

Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa lingkungan sosial memegang peran krusial dalam membentuk perkembangan kepribadian manusia. Baik faktor internal maupun eksternal, mulai dari lingkungan keluarga, pergaulan teman sebaya, media sosial, hingga pengaruh budaya, semuanya turut berperan dalam membentuk nilai, sikap, dan kepribadian individu.

Pemahaman terhadap kerumitan interaksi ini merupakan langkah awal untuk menghargai keragaman kepribadian manusia serta memastikan terwuudnya perkembangan yang sehat dan positif di masa mendatang.  [*]

Penulis adalah Mahasiswa Informatika

Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.