
YOGYAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – “Almarhum Papi Saptohoedojo belajar seni sejak anak-anak, tekadnya sangat kuat untuk berkarya. Tidak ada yang terlintas selain seni dan berkarya.”
Demikian Yani Saptohoedojo mengisahkan almarhum Saptohoedojo dalam dialog Seni Rupa Milenial di depan anak-anak muda di galerinya, Jalan Adi Sucipto Km 9 Yogyakarta Jumat (2/2/2024).
Puluhan anak-anak muda dari SMKN 3 Kasihan (dulu Sekolah Menengah Seni Rupa, SMSR) menorehkan pensil dan kuas.
Mereka membuat sketsa wajah istri perupa Saptohoedojo, Bunda Yani. Sembari melukis, mereka mereka menyimak paparan Yani yang menceritakan perjuangan suaminya di bidang seni, terutama lukis.
Yani mengungkapkan sepenggal kisah Saptohoedojo yang semula ikut mengangkat senjata pada masa penjahahan. Namun, ada seorang teman yang mengingatkan, ia harus mengembangkan jiwa seninya.
Saptohoedojo lantas melanglang buana ke berbagai daerah bahkan ke luar negeri. Ia mengembangkan bakat sekaligus belajar melukis dari seniman-seniman Belanda.
Pada kesempatan itu Yani Saptohoedojo tengah menggelar jumpa pers dan Dialog Spirit Perjuangan Saptohoedojo dalam karya lukis/karya seni.
Dialog Seni Rupa Kaum Milenial dalam rangkaian Haul ke-99 Dr Hc RM Saptohoedojo yang akan digelar Selasa (6/2/24) mendatang di Makam Seniman Giri Sapto Imogiri Bantul Yogyakarta.
Ketua Panitia Hary Sutrasno, sebagaimana dikutip dalam rilisnya ke Joglosemarnews menjelaskan, acara kali ini bertema “Seni Budaya yang Menyatukan”. Selain dialog, kegiatan lainnya yakni ziarah ke Makam Seniman Giri Sapto bersama para seniman dan budayawan.
Pada acara dialog, anak-anak muda berdiskusi tentang spirit sejarah panjang perjuangan Saptohoedojo mengangkat seni lukis dan seni lainnya sampai ke tingkat dunia serta diskusi tentang romantika mengelola sebuah museum senirupa.
Selama kegiatan berlangsung, sebanyak 20 peserta dialog melukis dalam bentuk sketsa dengan objek Bunda Yani dan berbagai hal sekitar koleksi museum.
“Semoga terbangun jembatan hubungan batin yang kuat dan menyatukan antara senior seni rupa yang sudah mendunia, Saptohoedojo dengan para yuniornya, yaitu para peserta diskusi yang rata-rata berusia belasan tahun,” tutur Hary.
Narasumber lainnya, Rahmat, seorang praktisi sekaligus pengamat senirupa dan mantan kepala Sekolah Menengah Senirupa (SMSR) Yogyakarta menyampaikan begitu banyak jasa dari seniman terutama almarhum Saptohoedojo dengan kegigihannya dan perjuangannya dan sampai saat ini hasil karyanya masih abadi.
Seorang seniman harus mampu melihat suatu barang yang tidak ada nilainya menjadi bernilai tinggi berkat sentuhan seni.
Karena itu, ia berpesan siswa siswi SMSR harus tetap semangat berkarya dan berkarya, meski mungkin saat ini hasilnya belum maksimal, namun suatu saat nanti pasti akan bisa mendapatkan hasil yang maksimal, ungkapnya.
Sementara Pungky, pengelola museum senirupa H Widayat mengisahkan, perjuangan museum peninggalan dari setiap seniman selalu miliki ciri khas masing-masing.
Dan, setiap generasi ke generasi selanjutnya pasti terdapat jurang pemisah, karena setiap generasi memiliki ciri khasnya masing-masing.
“Selalu belajar dan berkaryalah, dan jangan lupa, torehkan tanda tangan begitu lukisan selesai kalian buat, karena itu merupakan salah satu bukti bahwa itu hasil karya kalian,” pesannya.
Melalui kegiatan tersebut, diharapkan terbangun hubungan batin yang kuat dan menyatukan antara pelukis senior yang sudah mendunia, Saptohoedojo dengan para yuniornya.
“Harapannya, semoga terjadi keberlanjutan atas kiprah senirupa Indonesia, khususnya Yogyakarta ke tingkat dunia,” ujarnya berharap. Suhamdani
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.














