JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Opini

Strategi Saber Limit Sampah untuk Meningkatkan Pendidikan Karakter Siswa

Guru di SD Negeri Joho 01, Sukoharjo mengajak dan memberikan contoh kepada para siswa untuk peduli terhadap kebersihan lingkungan | Foto: Dok Sekolah
   
Astri Paramita, S.Pd SD., M.Pd Kepala Sekolah SD Negeri Joho 01 Sukoharjo | dok pribadi

Lingkungan sekolah dapat menjadi tempat pendidikan yang baik bagi pertumbuhan karakter siswa. Segala peristiwa yang terjadi di dalam sekolah dapat diintegrasikan dalam program pendidikan karakter (Pendikar). Pendidikan karakter merupakan usaha bersama dari seluruh warga sekolah untuk menciptakan sebuah kultur baru di sekolah, yaitu kultur pendidikan karakter (Koesoema, 2010).

Implementasi pendidikan karakter di sekolah dikembangkan melalui pengalaman belajar yang bermuara pada pembentukan karakter dalam diri siswa. Salah satunya adalah implementasi pendidikan karakter peduli  lingkungan.

Pendidikan karakter peduli lingkungan merupakan salah satu dari delapan belas karakter yang ditetapkan oleh Pusat Kurikulum Kementerian Pendidikan Nasional. Karakter peduli lingkungan dideskripsikan sebagai sikapdan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alamdi sekitarnya dan mengembangkan upaya-upaya untuk kelestarian alam.

Pada tahun 2022 saya mendapat tugas tambahan menjadi kepala sekolah di SD Negeri Joho 01 kecamatan Sukoharjo. Saat itu, semester gasal saya mengamati lingkungan sekolah cukup rindang, pepohonan dan tanaman di pot tumbuh subur. Namun, pemeliharaan dan penanganan terhadap kondisi lingkungan tersebut masih kurang optimal, sehingga tampak tidak asri.

Lingkungan yang tidak asri tersebut disebabkan oleh beberapa faktor yaitu, minimnya perilaku peduli dan tanggung jawab terhadap lingkungan di sekolah, peran guru belum maksimal dalam mendampingi, membimbing dan memberi contoh pada siswa mengenai kepedulian terhadap lingkungan sekolah, penjaga sekolah belum maksimal melaksanakan tupoksi, terbatasnya sarana kebersihan, dan sanksi belum dilaksanakan secara maksimal.

Siswa malas, cuek/ masa bodoh, bersembunyi dan bahkan pergi/ kabur jika diminta tolong untuk membersihkan halaman kelas ataupun sekolah. Beberapa perilaku siswa yang menunjukkan kurangnya kepedulian terhadap lingkungan sekolah yaitu membuang sampah tidak pada tempatnya, misalnya di pot tanaman, di selokan depan kelas dan halaman sekolah. Selain itu, tidak merawat tanaman di taman sekolah dan malas piket kelas atau umum.

Kunci dari keberhasilan pendidikan karakter itu sendiri adalah pembiasaan nilai-nilai pendidikan karakter melalui budaya sekolah (school culture) kepada siswa. Aspek-aspek yang lain misalnya aspek guru, sarana dan kebijakan sekolah merupakan faktor pendukung untuk keberhasilan pendidikan karakter.

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut penulis berupaya memperkuat karakter siswa melalui cinta dan peduli lingkungan sekolahnya. Penulis mengangkat judul laporan “Strategi Saber Limit Upaya Meningkatkan Pendidikan Karakter Siswa SD Negeri Joho 01 Kecamatan Sukoharjo”.

 Landasan Teori 

  1. Strategi

Strategi berasal dari bahasa Yunani kuno (strategos) yang berarti “seni berperang”.Suatu strategi mempunyai dasar atau skemauntuk mencapai sasaran yang dituju (Husein Umar, 2001).Menurut Kamus BesarBahasa Indonesia (KBBI) strategi adalah rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus.

Dengan demikian strategi dapat dipahami sebagai suatu tindakan atau proses dalam menentukan rencana jangka panjang yang dilakukan secara terus-menerus oleh para pemimpin untuk mencapai tujuan jangka panjang suatu organisasi.

  1. Saber Limit Sampah

Pengertian Saber Limit Sampah

Saber limit sampah akronim dari Sapu Bersih Lima Menit Sampah. Kata sapu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki arti dalam kelas verba atau kata kerja adalah menyatakan suatu tindakan, keberadaan, pengalaman.Sedangkankata bersih menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah bebas dari kotoran. Dapat disimpulkan sapu bersih berarti suatu tindakan yang dilakukan untuk bebas dari kotoran.

Saber limit di sini merupakan kegiatan membersihkan lingkungan sekolah selama lima menit yang dilakukan oleh siswa dan didampingi guru kelas masing-masing ketika bel masuk setelah istirahat. Saber limit kami istilahkan dalam rangka menanamkan kesadaran kebersihan lingkungan kepada siswa. Awalnya susah tetapi dengan berjalan waktu mereka menjadi terbiasa.

Jenis Kegiatan Saber Limit Sampah

Jenis kegiatan saber limit sampah yang dilakukan antara lain yaitu, memungut sampah yang berserakan di teras kelas atau halaman sekolah, menyapu dan mengepel teras kelas masing-masing.

Tujuan Saber Limit Sampah

Tujuan dari kegiatan saber limitsampah untuk melatih tanggung jawab semua warga sekolah terhadap kebersihan lingkungan sekolah dan menciptakan lingkungan kondusif sehingga terselenggaranya kegiatan belajar mengajar yang aman, nyaman, serta menyenangkan.

Strategi Saber Limit Sampah

Untuk memperoleh hasil yang optimal sebagaimana tuntutan dalam penguatan pendidikan karakter salah satu yang dilakukan di SD Negeri Joho 01 adalah menggunakan strategi saber limit sampah. Bentuk strategi dalam saber limit sampah adalah manajemen PETETIBO (Pembiasaan, Teladan, Partisipasi dan Kolaborasi).

Pembiasaan dan teladan dilakukan oleh warga sekolah yaitu kepala sekolah, guru dan karyawan secara terus menerus. Pembiasaan yang dilakukan menitikberatkan pada penguatan pendidikan karakter peduli lingkungan sekolah. Partisipasi dan kolaborasi melibatkan peran komite sekolah, wali murid dan masyarakat sekitar.

Baca Juga :  Optimalisasi Penerapan Literasi Digital pada Pendidikan Anak Usia Dini 

Untuk mewujudkan visi misi sekolah menjadi sekolah “beraksi ya!” (beriman, berkarakter, berprestasi dan berbudaya) maka peran serta berbagai unsur terkait di sekolah membangun kerja sama secara terus menerus dan berkesinambungan.

  1. Pendidikan Karakter

Hakikat Pendidikan

Redja Mudyahardjo (2008: 45-50) mendefinisikan pendidikandalam dalam arti luas dan sempit. Pendidikan dalam arti luas merupakan keseluruhan pengalaman belajar setiap orang sepanjang hidupnya tanpa batasan waktu yang memberikanperubahan dalam hidup seseorang. Sedangkan dalam arti sempit adalah sekolah atau persekolahan sebagai lembaga formal yang menyelenggarakan pendidikan.

Pendidikan menurut UU Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003 adalah “usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswasecara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memilki kekuatan spiritualkeagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara (Pndkarakter, 2012).

Berdasarkan paparan tersebut dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah segala upaya yang dikerahkan guna membentuk intelejensi, moral, watak, dan kepribadian seseorang dalam menuju proses kedewasaan.

Tujuan Pendidikan

Tujuan pendidikan adalah mewariskan nilai-nilai dan karakter padagenerasi penerus guna membangun bangsa menjadi lebih maju.

Hakikat Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter menurut Ratna Megawangi adalah sebuah usaha untuk mendidik anak-anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka dapat memberikan kontribusi yang positif pada lingkungan. Sedangkan, menurut Fakhry Gaffar juga memberikan definisi pendidikan karakter yaitu sebuah proses transformasi nilai-nilai kehidupan untuk ditumbuhkembangkan dalam kepribadian seseorang sehingga menjadi satu dalam perilaku kehidupan orang itu” (Kesuma, 2011).

Berdasarkan pendapat beberapa ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter adalah sebuah sistem yang menanamkan nilai-nilai karakter pada siswa yang mengandung komponen pengetahuan, kesadaran individu, tekat, serta adanya kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai, baik terhadap Tuhan, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, maupunbangsa yang pada akhirnya akan mewujudkan insan kamil.

Nilai-nilai Pendidikan Karakter

Dalam rangka lebih memperkuat pelaksanaan pendidikan karakter telah teridentifikasi 18 nilai yang bersumber dari agama, Pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional yaitu, 1) religius, 2) jujur, 3) toleransi, 4) disiplin, 5) kerja keras, 6) kreatif, 7) mandiri, 8) demokratis, 9) rasa ingin tahu, 10) semangat kebangsaan dan nasionalisme, 11) cinta tanah air, 12) menghargai prestasi, 13) komunikatif, 14) cinta damai, 15) gemar membaca, 16) peduli lingkungan, 17)  peduli sosial, dan 18) tanggung jawab (Puskur, 2009:9-10).

Fungsi Pendidikan Karakter

Fungsi pendidikan karakter adalah 1) pengembangan potensisiswa untuk menjadi perilaku yang baik bagi siswa yang telah memiliki sikap dan perilaku yang mencerminkan karakter dan karakterbangsa. 2) Perbaikan memperkuat kiprahpendidikan nasional untuk bertanggung jawab dalam pengembangan potensisiswa yang lebih bermartabat. 3) Penyaring untuk menyaring karakter-karakter bangsa sendiri dan karakter bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai karakter dan karakter bangsa (Pupuh, 2017:97).

Tujuan Pendidikan Karakter

Tujuan pendidikan karakter sebagai berikut; 1) mengembangkan nilai-nilai kehidupan yang dianggap penting dan perlu sehingga menjadi kepribadian siswa yang khas, sebagaimana nilai-nilai yang dikembangkan,2) mengoreksi perilaku siswa yang tidak bersesuaian dengan nilai-nilai yang dikembangkan oleh sekolah atau pesantren, 3) membangun koneksi yang harmoni dengan keluarga dan masyarakat dalam memerankan tanggung jawab pendidikan karakter secara bersama (Kesuma, 2011).

Masalah yang terjadi di SD Negeri Joho 01 di sini adalah berhubungan dengan karakter siswa terhadap lingkungan sekolahnya. Kurangnya rasa peduli dan tanggung jawab terhadap kebersihan di sekolah sebagai permasalahan utama . Solusi dari permasalahan tersebut adalah penerapan strategi Saber Limit Sampah.

Strategi Saber Limit Sampah di sini sebagai konsep program untuk meningkatkan pendidikan karakter pada siswa di SD Negeri Joho 01. Di dalam strategi tersebut menitikberatkan pada enam pilar pendidikan karakter yaitu, sebagai berikut; 1) Trustworthiness (Kepercayaan), 2) Respect (Toleransi), 3)Responsibility  (Tanggungjawab), 4) Fairness  (Keadilan), 5) Caring  (Peduli) dan 6) Citizenship  (Kewarganegaraan).

Berdasarkan hasil identifikasi masalah dapat diketahui bahwa permasalahan yang terjadi di SD Negeri Joho 01dipengaruhi beberapa faktor yaitu, minimnya perilaku peduli dan tanggung jawab pada diri siswa terhadap lingkungan di sekolah, peran guru belum maksimal dalam mendampingi, membimbing dan memberi contoh pada siswa mengenai kepedulian terhadap lingkungan sekolah, penjaga sekolah belum maksimal melaksanakan tupoksi, terbatasnya sarana kebersihan, dan sanksi belum dilaksanakan secara maksimal.

Baca Juga :  Optimalisasi Penerapan Literasi Digital pada Pendidikan Anak Usia Dini 

Data yang diperoleh dalam kondisi awal ini berasal dari pengamatan langsung oleh kepala sekolah. Pengamatan dimulai dari area kelas bagian belakang dilanjutkan ke area kelas bagian depan. Hasil yang diperoleh adalah lingkungan sekolah tampak kurang asri, banyak sampah berserakan contohnya daun-daun kering, bungkusan makanan/ minuman. Juga, tanaman di taman sekolah tampak layu bahkan sudah tidak layak untuk ditanam di pot. Beberapa siswa hanya diam, duduk, bercakap-cakap  dan melihat keadaan halaman yang kotor. Kehadiran para guru agak siang sehingga tidak ada pendampingan kepada siswa terhadap kebersihan sekolah.

Berangkat dari kondisi awal tersebut, kepala sekolah menyampaikan permasalahan di forum rapat sekolah dan selanjutnya membentuk tim kecil dalam program Saber Limit Sampah. Selanjutnya, langkah awal dalam tahapan proses ini adalah memberikan sosialisasi dan pengarahan kepada seluruh warga sekolah mengenai program Saber Limit Sampah.

Gambaran secara umum dalam kondisi proses ini adalah sebagian besar warga sekolah baik guru, karyawan ataupun siswa sudah tampak keaktifannya, kepedulian, tanggung jawab dan gotong royong terhadap kebersihan lingkungan di sekolah. Terbukti dari aksi nyata yang dilakukan oleh masing-masing kelas setiap hari dengan pendampingan guru kelasnya.

Teknis pelaksanaan program saber limit sampah ini melibatkan seluruh warga sekolah yaitu kepala sekolah, guru kelas, siswa dan tim kecil saber limit. Anggota tim kecil tersebut terdiri dari guru mapel dan tenaga kependidikan (pustakawan). Tim kecil bertugas mengamati, memantau, menilai dan melaporkan hasil observasi kegiatan tersebut.

Setiap dua hari sekali tim kecil memberikan apresiasi kepada siswa/ kelas yang sesuai dengan kriteria penilaian dalam program saber limit sampah. Apresiasi tersebut berupa pemberian bintang kecil sebagai simbol prestasi yang dicapai oleh siswa/ kelas. Demikian seterusnya rutinitas yang dilakukan warga sekolah SD Negeri Joho 01 mengenai program saber limit sampah.

 Kondisi Akhir

Rutinitas mengenai kegiatan saber limit sampah sudah menjadi sebuah pembiasaan bagi warga sekolah SD Negeri Joho 01.Juga, teladan kami untuk masyarakat di sekitar lingkungan sekolah. Mengapa demikian? Hal ini tampak jelas dengan aksi nyata dalam kondisi akhir ini, yaitu hampir seluruh siswa melakukan kegiatan tersebut dengan penuh semangat, antusias dan tanggung jawab.

Setiap akhir pekan tim kecil mendata perolehan bintang kecil yang diperoleh masing-masing kelas. Selanjutnya, bagi kelas yang memperoleh bintang kecil terbanyak akan diberikan bintang besar setiap akhir bulan.  Waktu berjalan seperti sedia kala, tidak terasa tiba waktunya untuk memberikan rewardkepada sang juara dalam program saber limit sampah. Kriteria juara tersebut adalah kelas yang memperoleh bintang besar terbanyak.

Bentuk reward yang diberikan kepada juara tersebut berupa alat kebersihan dan makanan ringan. Tujuan pemberian reward  tersebut sebagai wujud apresiasi dari pihak sekolah kepada siswa yang dapat menjadi teladan dan magnet motivasi bagi siswa yang lain.Pengadaan reward tersebut menggunakan dana mandiri kepala sekolah di awal penerapan program. Hal ini dilakukan karena beberapa alasan diantaranya yaitu sebagai bentuk pengabdian diri kepada instansi, mengantisipasi kondisi dana BOS. 

Dampak

Berdasarkan penyajian dan analisis data mengenai program saber limit sampah tersebut memiliki dampak yang baik bagi berbagai aspek yaitu sebagai berikut.

  1. Aspek Sumber Daya Manusia

Sumber daya manusia yang dimaksud adalah guru, karyawan, siswa dan penjaga sekolah. Dampak dari penerapan saber limit sampah menjadikan warga sekolah memiliki karakter cinta, peduli dan tanggung jawab terhadap lingkungan di sekolah.

  1. Aspek Sarana Pendukung

Dampak saber limit sampah terhadap sarana pendukung adalah bertambahnya jumlah/ kapasitas alat-alat kebersihan yang dimiliki baik sekolah maupun kelas yang juara. Hal tersebut tentunya akan memudahkan terciptanya lingkungan yang bersih, asri dan nyaman.

  1. Aspek Kebijakan Sekolah

Kebijakan sekolah ini berkaitan dengan aturan-aturan yang dibuat oleh sekolah. Saber limit sampah juga berdampak baik terhadap kebijakan sekolah, yaitu memotivasi dan refleksi diri bagi pihak yang terkait agar meningkatkan disiplin terhadap aturan yang sudah ditetapkan.

  1. Aspek Lingkungan Sekolah

Penerapan saber limit sampah ini sangat berdampak baik bagi lingkungan di sekolah. Terbukti dengan adanya perbedaan dari kondisi awal menuju kondisi akhir yang tampak. Lingkungan sekolah yang bersih, asri, aman dan nyaman tentunya akan berpengaruh terhadap kenyamanan belajar siswa. [*]

Astri Paramita, S.Pd SD., M.Pd

Kepala Sekolah  SD Negeri Joho 01 Sukoharjo

 

  • Pantau berita terbaru dari GOOGLE NEWS
  • Kontak Informasi Joglosemarnews.com:
  • Redaksi :redaksi@joglosemarnews.com
  • Kontak : joglosemarnews.com@gmail.com