
JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok setelah peluncuran Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) pada Senin (24/2/2025). Pergerakan IHSG yang melemah ini memicu tanda tanya di kalangan pelaku pasar mengenai dampak kehadiran Danantara terhadap prospek investasi di Indonesia.
Pada penutupan perdagangan Senin, IHSG kehilangan 53,4 poin dan berada di angka 6.749,6. Tren pelemahan berlanjut pada Selasa (25/2/2025) dengan penurunan tajam 162,51 poin atau sebesar 2,41 persen ke level 6.587,09. Kondisi ini mengundang spekulasi apakah penurunan IHSG terkait dengan peluncuran Danantara atau dipengaruhi faktor lainnya.
Peneliti Senior Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Deni Friawan, menilai bahwa pelemahan IHSG tidak sepenuhnya disebabkan oleh kehadiran Danantara. Menurutnya, fluktuasi pasar saham bisa dipengaruhi banyak faktor, termasuk kebijakan The Fed dan aksi jual besar-besaran oleh investor asing yang sudah terjadi sejak awal tahun.
“Fluktuasi harian pasar saham bisa terjadi karena The Fed, bisa juga karena Danantara. Namun, pelemahan IHSG sudah berlangsung sejak awal tahun akibat aksi jual saham BUMN besar oleh investor asing,” ungkap Deni dalam acara bertajuk “Efisiensi Anggaran dan Pembentukan Danantara: Peluang Ekonomi atau Tantangan Fiskal” di kantor CSIS, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (25/2/2025).
Deni menambahkan, kontroversi terkait governance dan pengangkatan di tubuh Danantara turut mempengaruhi sentimen pasar. “Saya tidak bisa bilang ini sepenuhnya karena Danantara, tapi kontroversi terkait governance-nya sedikit banyak mempengaruhi sentimen pasar. Investor masih mempertanyakan prospek profitabilitas pengelolaan BUMN ke depan,” jelasnya.
Sementara itu, Penasehat Khusus Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan Nasional, Bambang Brodjonegoro, menilai bahwa pelemahan IHSG usai peluncuran Danantara wajar terjadi akibat perilaku pasar yang bersikap “wait and see”.
Menurut Bambang, investor sedang mencari kepastian mengenai kinerja BUMN setelah pengelolaan dialihkan ke Danantara. “Pasar memang sering wait and see. Mereka ingin melihat apakah Danantara akan memperbaiki kinerja BUMN atau sebaliknya,” ujar Bambang dalam acara Digital Economic Forum 2025, Selasa (25/2/2025).
Bambang juga menepis kekhawatiran investor mengenai potensi penurunan dividen dari BUMN setelah pengelolaan oleh Danantara. “Mungkin ada salah penanggapan terkait dividen, tetapi saya yakin hal itu tidak menjadi bagian dari strategi Danantara,” tegasnya.
Tugas dan Kewenangan Danantara
Danantara adalah lembaga yang bertugas mengelola aset-aset Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan total nilai mencapai 900 miliar dollar AS atau sekitar Rp 14.670 triliun. Badan ini bertanggung jawab langsung kepada Presiden dan memiliki wewenang untuk mengelola dividen, restrukturisasi, hingga pembentukan holding investasi dan operasional BUMN.
Selain itu, Danantara juga berwenang menyetujui penghapusan aset dan konsultasi dengan DPR RI terkait Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) Holding Investasi dan Holding Operasional.
Dengan kewenangan yang luas ini, muncul pertanyaan di kalangan investor mengenai arah kebijakan dan transparansi dalam pengelolaan BUMN ke depan.
Jadi, beranikan pasar menyambut Danantara? Atau justru ketidakpastian ini akan terus membayangi IHSG? Kita tunggu saja.