Beranda Umum Nasional Sebut Kakek Presiden Prabowo Lebih Tepat sebagai Bapak Koperasi Ketimbang Bung Hatta,...

Sebut Kakek Presiden Prabowo Lebih Tepat sebagai Bapak Koperasi Ketimbang Bung Hatta, Ini Klarifikasi Menteri Kebudayaan Fadli Zon

Menteri Kebudayaan Fadli Zon | Instagram

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, meluruskan ucapannya yang sempat menimbulkan polemik soal gelar Bapak Koperasi. Ia menegaskan, pernyataannya bahwa kakek Presiden Prabowo Subianto, Margono Djojohadikusumo, lebih pantas disapa sebagai Bapak Koperasi, hanyalah pendapat pribadi.

Fadli menekankan, dirinya tidak bermaksud menggeser posisi Mohammad Hatta yang selama ini diakui negara sebagai Bapak Koperasi Indonesia. Justru menurutnya, peran Hatta jauh lebih luas sehingga lebih tepat disebut sebagai Bapak Ekonomi Kerakyatan.

“Bung Hatta bukan sekadar tokoh koperasi. Ia adalah arsitek ekonomi rakyat, pemikir, dan intelektual besar. Jadi menurut saya, atribusi yang lebih pas adalah Bapak Ekonomi Kerakyatan,” ujar Fadli di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (15/8/2025).

Pernyataan Fadli bermula saat ia menjadi pembicara dalam acara bedah buku Margono Djojohadikusumo: Pejuang Ekonomi dan Pendiri BNI 46 di Jakarta, 9 Agustus lalu. Di forum tersebut, ia menyebut Margono sangat erat dengan gerakan koperasi karena semasa hidupnya pernah memimpin Jawatan Koperasi pada masa kolonial dan mengembangkan sistem kredit rakyat.

Baca Juga :  Penegakan HAM Jauh Merosot, Amnesty Nilai 2025 sebagai Tahun Malapetaka

Tokoh koperasi ini juga dikenal sebagai perintis pendirian Bank Negara Indonesia (BNI) pada 1946, bank pertama yang mencetak Oeang Republik Indonesia (ORI) sebagai simbol kedaulatan ekonomi bangsa yang baru merdeka.

Selain itu, Margono dipercaya menjadi Ketua Dewan Pertimbangan Agung Sementara (DPAS) tak lama setelah proklamasi. Pemikiran ekonominya dinilai sejalan dengan semangat Pasal 33 UUD 1945 yang menekankan ekonomi Pancasila.

“Beliau tidak hanya bergerak di ranah koperasi, tapi juga perencana pembangunan desa dan industri dari hulu ke hilir. Jadi wajar bila kontribusinya disebut sejalan dengan gagasan koperasi modern,” imbuh Wakil Menteri Koperasi Ferry Juliantono dalam pernyataan sebelumnya.

Margono Djojohadikusumo lahir di Purbalingga, 16 Mei 1894. Ia menempuh pendidikan formal sejak kecil hingga akhirnya berkarier sebagai pegawai Volkscredietwezen—cikal bakal bank kredit rakyat. Kariernya melesat hingga dipercaya pemerintah kolonial Belanda mengelola Algemene Volkscredietbank sebelum akhirnya kembali ke Tanah Air menjelang pendudukan Jepang.

Setelah Indonesia merdeka, ia aktif merumuskan kebijakan ekonomi dan menyiapkan berdirinya bank sirkulasi yang kemudian melahirkan BNI. Margono wafat pada 25 Juli 1978 dan dimakamkan di tanah kelahiran keluarganya, Banyumas, Jawa Tengah.

Baca Juga :  Langkah SBY Soal Isu Ijazah Jokowi Dinilai Strategis Jelang 2029

Hingga kini, kiprah Margono masih dikenang sebagai salah satu peletak dasar sistem keuangan dan ekonomi rakyat Indonesia. Usulan untuk menjadikannya pahlawan nasional pun terus mengemuka. [*] Berbagai sumber

 

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.