
SLEMAN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Pondok Pesantren Minggir, Sleman, bersama Yayasan Abdul Wahid Hasyim menggelar acara Bedah Buku berjudul “Teladan dari Rumah Ulama” pada Selasa (21/10/2025) sore. Kegiatan itu mengusung tema “Dari Rumah Ulama Lahir Cahaya Bangsa” dan menghadirkan empat narasumber utama.
Mereka adalah KH Ahmad Muwafiq (Gus Muwafiq) selaku pengasuh Pesantren Minggir, dr KH Umar Wahid sebagai penulis buku, aktivis sosial Ning Alisa Wahid sebagai pembedah, dan Imam Anshori Saleh sebagai editor.
Buku Teladan dari Rumah Ulama mengangkat kisah keluarga besar KH Wahid Hasyim dan Nyai Sholihah yang menanamkan nilai-nilai cinta, ilmu, serta pengabdian di lingkungan keluarganya. Dari rumah inilah lahir tokoh-tokoh bangsa seperti KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah).
Dalam paparannya, Gus Muwafiq menilai buku ini penting untuk dipahami karena keluarga Wahid Hasyim memiliki nilai-nilai universal yang relevan di berbagai zaman.
“Rumah keluarga ini selalu terbuka bagi siapa pun, dan ajaran yang mereka tanamkan seperti resep yang tak pernah basi,” ujar Gus Muwafiq, seperti dikutip dalam rilis ke Joglosemarnews.

Sementara itu, penulis buku, dr KH Umar Wahid menjelaskan, proses penulisan dilakukan atas dorongan Imam Anshori Saleh.
“Saya menuliskan kisah tentang Ayah dan Ibu, dilengkapi cerita enam anak beliau. Sebagian besar bersumber dari pengalaman langsung,” terangnya.
Ia juga menyoroti sosok ibundanya, Nyai Sholihah, yang tetap tegar membesarkan anak-anak setelah KH Wahid Hasyim wafat di usia muda. “Beliau menjadi satu-satunya penopang keluarga sejak berusia 30 tahun, mengasuh enam anak termasuk satu yang masih dalam kandungan,” ujar Gus Umar.
Dalam buku tersebut, Gus Umar juga menuturkan pesan sang ayah kepada ibunya agar anak-anaknya tidak semua menjadi kiai. “Ada yang jadi ulama, ada yang jadi insinyur, ada yang jadi dokter. Semua harus bermanfaat,” katanya menirukan pesan ayahnya.
Pembedah buku, Ning Alisa Wahid, menggambarkan sosok Nyai Sholihah sebagai fondasi keluarga. “Nenek saya adalah pilar utama. Semua garis yang beliau tanamkan membuat anak-anaknya menjadi penggerak di masyarakat,” ucapnya.
Ia juga membagikan kisah kecil tentang Gus Dur saat dirinya menikah. “Gus Dur menolak adanya tamu VIP. Katanya, semua tamu adalah VIP. Itu mencerminkan pandangan beliau terhadap kesetaraan manusia,” tutur Alisa.
Imam Anshori Saleh, selaku editor, menambahkan bahwa buku ini menyajikan banyak kisah yang belum pernah diungkap sebelumnya. “Ada cerita pertemuan antara Pak Harto setelah lengser dengan Gus Dur, dan juga bagaimana Amien Rais meminta izin untuk maju sebagai calon presiden,” jelasnya.
Menurut Imam, kekuatan buku ini terletak pada gaya penuturan Gus Umar yang jujur dan emosional. “Pembaca seperti diajak menyaksikan langsung perjalanan keluarga besar ulama itu, penuh warna dan makna,” ujarnya.
Acara bedah buku ini dihadiri sejumlah tokoh pesantren, akademisi, dan masyarakat umum. Perwakilan penerbit Elje, Husni, menyampaikan apresiasinya atas antusiasme peserta.
“Buku ini menjadi pengingat akan nilai-nilai keluarga ulama yang melahirkan tokoh bangsa. Kami berencana menggelar bedah buku serupa di berbagai daerah,” katanya. [*]
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.














