WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM — Dalam beberapa hari terakhir, masyarakat di berbagai wilayah Indonesia merasakan hembusan angin yang jauh lebih kencang dari biasanya. Fenomena ini langsung memicu rasa penasaran publik, dengan pencarian “kenapa angin kencang hari ini melanda Indonesia” melonjak di mesin pencari dan media sosial.
Kondisi ini bukan terjadi tanpa sebab. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah merilis peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem yang meliputi angin kencang, hujan lebat, hingga risiko bencana hidrometeorologi di sejumlah provinsi.
Berdasarkan analisis BMKG, angin kencang yang terjadi pada 23–24 Januari 2026 dipengaruhi oleh dinamika atmosfer berskala regional hingga global. Kombinasi beberapa faktor utama membuat pergerakan massa udara menjadi lebih cepat dan agresif, sehingga berdampak langsung pada kondisi cuaca di Indonesia.
Salah satu pemicu dominan adalah menguatnya Monsun Asia atau Angin Baratan. Sistem angin musiman ini membawa massa udara basah dari Benua Asia melintasi garis ekuator menuju wilayah Indonesia. Saat Monsun Asia berada pada fase aktif dan kuat, kecepatan angin di lapisan atmosfer bawah meningkat signifikan, terutama di wilayah Indonesia bagian barat dan tengah.
BMKG menjelaskan bahwa pola angin baratan yang intens ini mendorong peningkatan kecepatan angin permukaan sekaligus memperbesar potensi hujan lebat. Selain menciptakan hembusan angin yang kencang, kondisi ini juga berpotensi memicu awan hujan konvektif yang dapat berkembang menjadi hujan deras disertai petir.
Faktor lain yang tak kalah berpengaruh adalah kemunculan bibit siklon tropis di Samudra Hindia, tepatnya di selatan Pulau Jawa dan Nusa Tenggara. Bibit siklon tropis yang terpantau, termasuk sistem dengan kode 91S dan 92S, membentuk pusat tekanan rendah yang bertindak seperti “penyedot” massa udara di sekitarnya.
Mekanisme ini membuat udara dari wilayah Indonesia bagian utara tertarik ke arah pusat tekanan rendah tersebut. Akibatnya, terjadi percepatan aliran angin yang cukup signifikan di daratan, terutama di wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara yang berada relatif dekat dengan pusat sistem tekanan rendah tersebut.
Kombinasi antara Monsun Asia yang menguat dan pengaruh bibit siklon tropis ini menciptakan gradien tekanan yang besar di atmosfer. Gradien tekanan inilah yang mempercepat pergerakan angin, sehingga hembusan terasa lebih kencang, bahkan berpotensi merusak di beberapa wilayah.
BMKG juga mengingatkan bahwa dampak lanjutan dari kondisi ini tidak hanya terbatas pada angin kencang. Risiko lain yang perlu diwaspadai meliputi pohon tumbang, atap rumah rusak, gelombang laut tinggi, hingga gangguan aktivitas transportasi laut dan udara. Masyarakat pesisir, nelayan, serta pengguna jalur laut diminta untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gelombang tinggi akibat penguatan angin.
Wilayah-wilayah yang diperkirakan terdampak cukup luas, mencakup sebagian besar Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sumatra bagian selatan, hingga Kalimantan dan Sulawesi di beberapa titik. Intensitas dampak dapat berbeda-beda, tergantung pada kedekatan wilayah dengan pusat tekanan rendah dan kondisi topografi setempat.
BMKG mengimbau masyarakat agar tetap memantau perkembangan informasi cuaca terbaru melalui kanal resmi, serta menghindari aktivitas berisiko tinggi saat angin kencang berlangsung. Penguatan mitigasi, seperti mengamankan benda-benda di luar rumah, memangkas ranting pohon yang rawan tumbang, serta menunda aktivitas di laut saat kondisi memburuk, menjadi langkah yang sangat dianjurkan.
Fenomena angin kencang ini menjadi pengingat bahwa dinamika atmosfer dapat berubah dengan cepat dan berdampak luas. Kesiapsiagaan masyarakat menjadi kunci utama untuk mengurangi potensi risiko akibat cuaca ekstrem yang dipengaruhi oleh sistem global seperti Monsun Asia dan siklon tropis. Aris Arianto
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.















