
KULONPROGO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Hari gini ternyata masih saja bermunculan kasus dugaan keracunan makanan bergizi gratis (MBG). Selain di Magelang yang mengakibatkan 70-an orang siswa diduga keracunan, kejadian serupa terjadi di Kulonprogo, DIY.
Badan Gizi Nasional (BGN) Regional DIY kembali menerima laporan dugaan gangguan kesehatan yang dialami penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Peristiwa tersebut terjadi di wilayah Kapanewon Sentolo, Kabupaten Kulonprogo, Selasa (20/1/2026).
Koordinator Regional BGN DIY, Wirandita Gagat Widyatmoko, menyampaikan indikasi awal menunjukkan para penerima MBG mengalami keluhan dengan tingkat ringan hingga sedang. Berdasarkan laporan sementara hingga Selasa pagi (21/1/2026), tercatat 12 orang harus menjalani perawatan inap, sementara sekitar 90 orang lainnya mengalami gejala ringan.
“Seluruh perkembangan terus dipantau secara intensif melalui koordinasi dengan fasilitas layanan kesehatan dan pihak terkait,” ujarnya, Rabu (21/1/2026).
Sebagai langkah antisipatif dan bentuk tanggung jawab, BGN Regional DIY memutuskan menghentikan sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kaliagung. Penghentian ini dilakukan untuk memastikan keamanan makanan dan melindungi keselamatan para penerima manfaat.
Tak hanya itu, BGN Regional DIY juga berkoordinasi dengan BGN Pusat serta Pemerintah Kabupaten Kulonprogo melalui koordinator wilayah guna memastikan penanganan kasus berjalan cepat, terpadu, dan sesuai kewenangan masing-masing instansi.
“BGN berkomitmen penuh untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan Program MBG di SPPG Kaliagung. Kejadian seperti ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. SPPG pasti akan dievaluasi secara serius sesuai dengan ketentuan dan standar yang berlaku,” tegas Gagat.
Ia menjelaskan, evaluasi tersebut akan mencakup seluruh tahapan pelaksanaan program, mulai dari penerapan standar operasional prosedur (SOP), pengelolaan bahan pangan, hingga sistem pengawasan internal. Hasil evaluasi akan menjadi dasar penentuan langkah lanjutan sebelum SPPG kembali diizinkan beroperasi.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan mempercayakan penanganan kejadian ini kepada pihak berwenang. Keselamatan dan kesehatan penerima manfaat merupakan prioritas utama dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis,” pungkasnya.
Sebelumnya, dugaan keracunan makanan akibat MBG dilaporkan terjadi di wilayah Sentolo dan melibatkan puluhan pelajar serta guru. Sekretaris Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kulonprogo, Nur Hadiyanto, membenarkan adanya laporan tersebut.
“Awalnya kami menerima laporan gejala keracunan sekitar pukul 16.30 WIB, Selasa (20/01/2026) kemarin,” kata Nur Hadi ditemui di Kantor Disdikpora Kulonprogo, Rabu (21/01/2026).
Disdikpora langsung melakukan pendataan dan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan. Hingga Rabu pagi pukul 06.34 WIB, tercatat 87 orang mengalami gejala keracunan, terdiri dari 83 pelajar dan 4 guru. Mereka berasal dari tujuh sekolah berbeda di wilayah Sentolo.
Para korban sempat mendapatkan perawatan di empat fasilitas kesehatan, yakni Puskesmas Sentolo I, Klinik Pengasih Husada, RSUD Nyi Ageng Serang Sentolo, dan RS Queen Latifa Sentolo. Dari jumlah tersebut, 18 orang sempat menjalani rawat inap.
“Hari ini sebagian pelajar yang bergejala keracunan sudah masuk sekolah lagi,” ungkap Nur Hadi.
Ia menambahkan, pendataan masih terus dilakukan secara rinci, mencakup identitas korban, alamat, asal sekolah, gejala yang dialami, hingga lokasi perawatan.
Kasus di Sentolo ini menjadi insiden ketiga dugaan keracunan MBG yang terjadi di Kulonprogo. Sebelumnya, peristiwa serupa juga terjadi di wilayah Kapanewon Wates pada Juli 2025, dengan jumlah korban mencapai lebih dari 400 pelajar.
Salah satu sekolah dengan jumlah korban terbanyak adalah SD Negeri 2 Sentolo. Kepala sekolah, Suryadi, mengungkapkan ada 21 siswanya yang mengalami gejala keracunan.
“Sebanyak 13 anak masih izin masuk sekolah, sekarang istirahat di rumah,” katanya.
Menurut Suryadi, laporan awal diterima dari orang tua siswa melalui grup WhatsApp sekitar pukul 17.15 WIB. Para siswa mengalami muntah-muntah dan langsung dilarikan ke Puskesmas Sentolo I. Jumlah siswa bergejala terus bertambah hingga malam hari.
Sementara itu, Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, menegaskan akan memberikan sanksi tegas kepada SPPG yang terlibat dalam kasus keracunan MBG.
“Untuk seluruh SPPG yang mengalami kejadian (keracunan MBG), setop operasi,” kata Dadan usai rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Selasa (20/1/2026).
Dadan menegaskan, sanksi dapat diperberat jika ditemukan pelanggaran serius terhadap SOP, termasuk pembekuan operasional lebih lama dan penghentian insentif hingga perbaikan dilakukan secara menyeluruh.
“Dan bahkan kalau kita menemukan ada pelanggaran yang fatal, kita setop agak lama dan juga tidak kita berikan insentif sampai dia memperbaiki diri,” ujarnya.
Ia mengakui masih menyesalkan munculnya kasus keracunan MBG, meski tren sebelumnya menunjukkan penurunan signifikan.
“Ya yang memang kita sesalkan ya masih ada kejadian. Kan sebetulnya trennya sudah menurun ya sampai di akhir Desember (2025) itu sisa 12,” ucapnya. [*] Disarikan dari sumber berita media daring
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.














