Beranda Umum Opini Gusti Bhre Sudjiwo, Sang Penjaga Budaya

Gusti Bhre Sudjiwo, Sang Penjaga Budaya

KGPAA Mangkunegara X. Foto: ist

Oleh : Anas Syahirul*

Penulis tinggal di Solo

Selasa Wage, di pekan terakhir Januari tahun 2026 menjadi hari bermakna bagi Pura Mangkunegaran khususnya Gusti Pangeran Haryo Bhre Cakrahutomo Wira Sudjiwo. Waktu inilah yang menjadi penanda Gusti Bhre -demikian ia akrab disapa- menginjak tahun keempat jumeneng (duduk di singgasana) memimpin Kadipaten Mangkunegaran, menyandang sebutan KGPAA Mangkunegara X.

Usianya masih sangat muda, 24 tahun, ketika Sang Kanjeng Gusti didapuk menduduki tahta Mangkunegaran pada tahun 2022. Ia mewarisi semangat anak muda yang diturunkan pendiri Pura Mangkunegaran, Raden Mas Said yang kala itu memimpin pasukan di usia 16 tahun. Di saat menginjak dewasa dihadapkan pada tuntutan untuk tidak hanya memikirkan diri sendiri melainkan juga masyarakat dan tanah airnya.

Kini, Mangkunegara X sudah empat tahun memimpin Pura Mangkunegaran, menghabiskan sebagian masa mudanya. Tentu, tidak lagi wilayah kekuasaan administratif yang dikelolanya. Bukan pula pasukan perang yang digerakkannya. Namun, yang dipimpinnya kini adalah lebih pada wilayah kebudayaan.

Meski kelahiran Kadipaten Mangkunegaran dipengaruhi oleh dinamika politik di Mataram kala itu, namun dalam perjalanannya Pura Mangkunegaran lebih kental dalam posisi sebagai penjaga dan pengembang kebudayaan Mataram (Jawa).  Sejak berdiri tahun 1757, Mangkunegaran menunjukkan bahwa kekuasaan tidak selalu harus diwujudkan melalui wilayah kekuasaan dan senjata, melainkan dapat dihadirkan melalui pengelolaan nilai tradisi, seni, dan ilmu pengetahuan.

Berbeda dari keraton-keraton besar di Nusantara yang berfungsi sebagai pusat kedaulatan wilayah administratif, Mangkunegaran berkembang sebagai praja budaya. Di lingkungan pura inilah tradisi Jawa dirawat secara sadar dan sistematis: dari tata upacara, etika sosial, hingga seni pertunjukan. Kebudayaan tidak diperlakukan sebagai peninggalan statis, melainkan sebagai laku hidup yang terus diperbarui sesuai dengan zaman.

Jika menengok narasi sejarah, kita bisa melihat peran Mangkunegaran sebagai penjaga budaya tampak jelas pada masa Mangkunegara IV, ketika sastra, filsafat, dan seni mencapai puncak perkembangan. Karya-karya yang lahir pada masa itu tidak hanya merekam nilai-nilai Jawa, tetapi juga menafsirkannya kembali agar tetap relevan bersanding dengan zaman. Melalui tembang, serat, dan ajaran etika, Mangkunegaran menjadi ruang refleksi tentang manusia Jawa: relasinya dengan kekuasaan, alam, dan Tuhan. Seni tradisi yang dikembangkan Mangkunegaran tidak sekadar menghibur, melainkan menjadi sarana pendidikan rasa dan pembentukan karakter.

Baca Juga :  Menunggu Sikap Prabowo Soal Gaza

Sebagai pemimpin yang hadir di tengah perubahan zaman yang cepat ini, Gusti Bhre menyadari bahwa peran sebagai “Penjaga Budaya” itu lebih tepat ia sandang daripada penjaga wilayah. Menjaga kedaulatan Budaya Jawa (Mataram) tidak kalah beratnya dengan menjaga wilayah administratif maupun aset. Warisan budaya juga tidak kalah nilainya dengan warisan aset bendawi yang ditinggalkan leluhur.

Beberapa hari sebelum perayaan Tingalan Jumenengan Kaping 4, beliau sempat mengundang sejumlah insan media di Solo untuk ngobrol. Obrolan berlangsung cair, mulai soal perkembangan Mangkunegaran, tantangan, hingga program-program ke depan. Sosoknya tenang dan tutur katanya halus namun runtut dan terukur. Tegas dalam berpendirian, terbuka dan memiliki kedalaman pikir.

Dari obrolan itu, lantas saya berkesimpulan, Gusti Bhre hadir di masa yang tepat di saat Mangkunegaran kembali mengalami masa peralihan zaman yang kali ini menuntut kecepatan dan ketepatan. Ada ungkapan “Setiap Masa Ada Orangnya, Setiap Orang Ada Masanya”. Maka, pada masa inilah beliau hadir untuk mengawal Pura Mangkunegaran di tengah dinamika zaman yang begitu kompleks, persilangan dan inflitrasi antar budaya yang berlangsung massif, kemajuan pesat teknologi hingga problem anak muda yang mengalami keterasingan budaya sendiri.

Di bawah kepemimpinan Gusti Bhre, Mangkunegaran menunjukkan keterbukaan terhadap modernisasi tanpa kehilangan jati diri. Unsur-unsur baru dari luar diolah secara selektif, konstruktif, diselaraskan dengan nilai-nilai tradisi. Gusti Bhre ingin menjadikan Mangkunegaran sebagai contoh bagaimana kebudayaan dapat bertahan bukan dengan menutup diri, melainkan dengan kecerdasan adaptif dan inklusif.

Gusti Bhre ingin Pura Mangkunegaran tetap berdiri sebagai ruang ingatan kolektif dan pusat aktivitas budaya. Mangkunegaran bukan sekedar situs sejarah statis, yang bagian-bagiannya hanya dikunjungi, dilihat, didokumentasikan semata. Namun Gusti Bhre juga ingin Mangkunegaran menjadi “institusi” yang hidup dan menyala. Seluruh prosesi upacara adat, pertunjukan seni, serta pendidikan budaya dan aktivitas tradisi lain yang berlangsung di dalamnya menjadi inspirasi dalam olah rasa dan olah pikir. Institusi yang menjaga kesinambungan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dia memandang tradisi dan budaya leluhur bukan sebagai beban masa lalu, melainkan sumber kebijaksanaan yang terus relevan. Ia menempatkan adat, etika, dan rasa sebagai panduan dalam bersikap, tanpa menutup diri dari revolusi zaman. Tradisi harus hidup, tidak membeku dan tidak kehilangan makna.

Baca Juga :  Menunggu Sikap Prabowo Soal Gaza

KGPAA Mangkunegara X bukan hanya simbol Bangsawanan Jawa, tetapi juga sebagai Sang Panjaga Budaya Jawa yang menempatkan keluhuran budi sebagai inti peradaban. Di tengah perubahan zaman yang cepat, beliau yakin bahwa budaya yang dijaga dengan kesadaran pikir, laku dan rasa maka akan selalu menemukan jalannya untuk tetap hidup. Legacy itulah yang ingin beliau tinggalkan. Selain legacy bangunan, fasilitas dan program yang bisa dilihat secara instan, beliau juga ingin nantinya bisa meninggalkan ingatan kolektif budaya Jawa yang bisa merasuk di kalangan generasi masyarakat untuk bisa menjadi panduan perilaku dan pikir.

Di akhir obrolan, beliau menyodorkan ide ingin membangun sebuah bangunan atau fasilitas tempat yang memang didesain bisa dijadikan ruang publik untuk eksplorasi ide dan aspirasi dari masyarakat. Dari situlah ada dialektika gagasan pengembangan budaya ataupun persoalan kehidupan masyarakat lainnya. Terbuka untuk siapapun dari kalangan manapun. Beliau menyadari bahwa di era kini, sinergi dan kolaborasi menjadi kunci keberhasilan dalam mewujudkan gagasan, termasuk membangun budaya.

Keistimewaan Gusti Bhre, dia seorang pembelajar yang cepat. Keistimewaan lain yakni pada kemampuannya merangkul. Ia hadir sebagai pendengar yang sabar, penutur yang jernih, dan penimbang yang bijak. Dalam dialog, ia tidak memaksakan kebenaran, tetapi mengajak orang menemukan kebenaran itu sendiri. Sikap ini menjadikannya figur yang disegani lintas generasi dan latar belakang.

Wilujeng Tingalan Jumenengan Kaping 4 Sampeyan Dalem Ingkang Jumeneng Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Mangkunegara X….(*)

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.