Beranda Umum Nasional Kasus Leptospirosis di DIY Masih Tinggi, Bantul Jadi Penyumbang Terbesar Sepanjang 2025

Kasus Leptospirosis di DIY Masih Tinggi, Bantul Jadi Penyumbang Terbesar Sepanjang 2025

ilustrasi leptospirosis
ilustrasi leptospirosis / pixabay

YOGYAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Ancaman leptospirosis masih membayangi Daerah Istimewa Yogyakarta sepanjang 2025. Dari ratusan kasus yang tercatat, Kabupaten Bantul muncul sebagai wilayah dengan jumlah penderita sekaligus korban meninggal terbanyak dibandingkan kabupaten dan kota lain di DIY.

Data Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY mencatat total 453 kasus leptospirosis sepanjang 2025. Dari jumlah tersebut, lebih dari separuh terjadi di Kabupaten Bantul, yakni 227 kasus dengan 12 orang meninggal dunia. Angka ini menempatkan Bantul di posisi teratas sebaran leptospirosis di DIY.

Wilayah dengan jumlah kasus terbanyak berikutnya adalah Kabupaten Sleman dengan 118 kasus dan 11 kematian. Sementara itu, Kabupaten Kulon Progo mencatat 49 kasus dengan enam kematian, Kota Yogyakarta 32 kasus dengan delapan kematian, serta Kabupaten Gunungkidul 27 kasus dengan satu korban meninggal.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes DIY, Ari Kurniawati, menyebut kondisi lingkungan menjadi salah satu faktor utama tingginya kasus leptospirosis, khususnya di wilayah Bantul.

Ia menjelaskan, bakteri Leptospira umumnya menyebar melalui urine tikus yang terbawa air, terutama di kawasan persawahan. “Kalau di Kota Yogya memang sampai ke permukiman. Karena sawahnya lebih sedikit, maka penularannya bisa terkait higiene dan sanitasi lingkungan, termasuk pengelolaan sampah,” ujar Ari.

Baca Juga :  Lolos dari Pemakzulan Warga, Bupati Pati Sudewo Kandas di Tangan KPK

Gejala Sering Diabaikan

Ari mengingatkan, leptospirosis memiliki spektrum keparahan yang luas. Pada fase ringan, penyakit ini masih dapat ditangani dengan antibiotik. Namun, keterlambatan penanganan dapat berujung pada kondisi berat yang mengancam nyawa.

“Leptospirosis ringan biasanya cukup dengan antibiotik. Tetapi kalau sudah berat dan terlambat ditangani, risikonya kematian,” katanya.

Menurut Ari, rendahnya kewaspadaan masyarakat terhadap gejala awal menjadi salah satu kendala utama dalam pengendalian penyakit ini. Tidak sedikit pasien yang baru datang ke fasilitas kesehatan ketika kondisinya sudah parah.

“Pengenalan penyakit ini sangat penting. Kalau masyarakat sudah sadar, kasus bisa cepat terdeteksi dan tidak terlambat ditangani,” ujarnya.

Ia mencontohkan, masyarakat yang mengalami demam setelah beraktivitas di sawah, terutama tanpa alas kaki, seharusnya segera mewaspadai kemungkinan terpapar leptospirosis.

“Kalau masyarakat aware, akan jauh lebih mudah menemukan kasusnya lebih cepat,” imbuhnya.

Pengendalian Tikus Masih Jadi Tantangan

Dari sisi layanan kesehatan, Ari menilai sistem pelaporan dan pemeriksaan leptospirosis di DIY sudah cukup memadai. Namun, ia mengakui pengendalian vektor penyakit, terutama tikus, masih menjadi tantangan besar.

Baca Juga :  Rakernas Gerakan Rakyat Tolak Pilkada via DPRD, Dorong Pemulihan Ekologi

“Kita punya sumber daya pemeriksaan leptospirosis yang cukup, tapi PR terbesar adalah pengendalian tikus yang memang tidak mudah,” tuturnya.

Dengan masih tingginya kasus, terutama di Kabupaten Bantul, leptospirosis tetap menjadi persoalan serius yang perlu mendapat perhatian lintas sektor. Edukasi masyarakat, peningkatan kewaspadaan terhadap gejala awal, serta pengelolaan lingkungan dinilai menjadi kunci untuk menekan angka penularan dan kematian di DIY. [*] Disarikan dari sumber berita media daring

 

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.