Beranda Umum Nasional Keajaiban di Tengah Longsor Cisarua, Balita Bertahan di Atas Genting

Keajaiban di Tengah Longsor Cisarua, Balita Bertahan di Atas Genting

Ilustrasi banjir rob | pixabay

BANDUNG, JOGLOSEMARNEWS.COM — Di tengah bencana longsor yang menghancurkan puluhan rumah di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, tim penyelamat menemukan seorang Balita berusia dua tahun dalam kondisi hidup.

Bocah bernama Arsya itu ditemukan berada di atas genting rumah saat proses pencarian korban, Sabtu (24/1/2026).

Arsya ditemukan Tim SAR di wilayah Desa Pasirlangu, sementara kedua orang tuanya hingga kini masih dalam proses pencarian. Rumah tempat tinggal keluarga Arsya dilaporkan tertimbun material longsor.

Bencana longsor terjadi pada Sabtu dini hari sekitar pukul 03.00 WIB, setelah hujan deras disertai angin kencang mengguyur kawasan Cisarua selama dua hari berturut-turut. Material tanah dari bukit di kaki Gunung Burangrang meluncur dan menyapu permukiman warga.

Sedikitnya 30 rumah di RW 10 dan RW 11 Kampung Pasir Kuning rusak berat akibat longsor tersebut. Sejumlah bangunan rata dengan tanah dan ratusan warga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Yayah, saudara Arsya, mengungkapkan kondisi balita tersebut saat ini masih lemas dan sempat beberapa kali muntah. Arsya sebelumnya dibawa ke Puskesmas Pasirlangu untuk mendapatkan penanganan medis awal.

“Kondisinya lemas dan beberapa kali muntah,” kata Yayah.

Baca Juga :  Bangunan Bersejarah di Siak Runtuh Saat Kunjungan Sekolah, 16 Orang Jadi Korban

Ia juga mengaku tidak mengetahui bagaimana Arsya bisa bertahan dari longsor yang menimbun rumah keluarganya. Saat ditemukan, balita itu berada di atas genting bangunan.

Selain kisah selamatnya Arsya, perhatian warga juga tertuju pada sebuah rumah berukuran sekitar 4 x 5 meter yang masih berdiri di tengah area longsor. Bangunan tersebut tampak utuh meski di sekelilingnya dipenuhi puing-puing rumah dan material tanah.

Di bagian jendela depan rumah itu terlihat dua stiker milik KPU Republik Indonesia dan KPUD Jawa Barat dengan nama Hadiansyah dan Wulan Oktaviani. Rumah tersebut tampak kosong, jendela tertutup tirai berwarna ungu, dan terasnya dipenuhi lumpur. Pada Sabtu sore, rumah itu sempat digunakan warga sebagai tempat berteduh sambil menyaksikan proses evakuasi korban.

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang meninjau lokasi longsor menyoroti adanya perubahan fungsi lahan di kawasan tersebut. Ia menduga alih fungsi lahan menjadi salah satu faktor pemicu longsor.

“Lokasinya berubah asalnya areal hutan, pegunungan, semuanya jadi kebun. Semuanya jadi kebun sayur dan kebun bunga,” ujar Dedi.

Ia menyatakan kawasan tersebut dinilai tidak lagi aman untuk permukiman warga. “Ya, ini kan sudah jelas ya. Jadi, setelah ini warga di sekitar sini segera direlokasi dan ini dihutankan karena potensi terjadi (longsor) lagi sangat tinggi dan di sekitar sini sudah mencemaskan kalau menurut saya ya. Saya tadi keliling sangat mencemaskan,” ucapnya.

Baca Juga :  MBG 2026 Disorot, Pemerintah Siap Alihkan Anggaran Jika Tak Efektif

Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga akan memberikan santunan sebesar Rp 25 juta kepada keluarga korban meninggal dunia.

Berdasarkan data BNPB, bencana longsor di Kabupaten Bandung Barat menyebabkan delapan orang meninggal dunia, sementara 82 orang lainnya masih dalam proses pencarian hingga Sabtu sore. [*] Disarikan dari sumber berita media daring

 

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.