WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Ancaman tanah longsor di puncak musim hujan kian nyata. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Wonogiri bergerak cepat dengan mendampingi tim ahli dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah untuk melakukan survei teknis di sejumlah titik rawan, menyusul laporan warga terkait rekahan tanah dan pergerakan lereng.
Survei difokuskan pada dua wilayah yang dinilai memiliki potensi risiko tinggi, yakni Desa Sidorejo di Kecamatan Tirtomoyo dan Desa Karangtengah di Kecamatan Karangtengah. Kedua lokasi tersebut menjadi perhatian setelah warga melaporkan adanya perubahan struktur tanah, munculnya rekahan memanjang, hingga indikasi pergeseran lereng yang berpotensi memicu longsor, terutama saat hujan dengan intensitas tinggi.
Perwakilan tim lapangan BPBD Wonogiri, Sri Maryati, menjelaskan bahwa pendampingan ini bertujuan untuk memastikan kondisi geologis di lapangan dapat dipetakan secara akurat. Tim ESDM Provinsi melakukan pengukuran detail terhadap lebar dan panjang rekahan tanah, mengevaluasi kemiringan lereng, serta menganalisis stabilitas struktur tanah di sekitar permukiman warga.
“Kami mendampingi tim ahli ESDM untuk meninjau langsung kondisi geologi di Desa Sidorejo dan Karangtengah. Fokus kami adalah mengetahui sejauh mana pergerakan tanah yang terjadi, sehingga bisa disusun rekomendasi langkah pengamanan yang tepat bagi masyarakat,” ujar Sri Maryati.
Hasil survei teknis ini nantinya akan menjadi dasar bagi Pemerintah Kabupaten Wonogiri dalam menentukan kebijakan lanjutan. Opsi yang disiapkan mencakup pembangunan penguatan lereng seperti talud atau struktur penahan tanah, hingga kemungkinan relokasi warga apabila ditemukan zona berisiko tinggi yang berpotensi mengancam keselamatan jiwa.
BPBD Wonogiri menegaskan bahwa kewaspadaan masyarakat menjadi faktor penting dalam mengurangi dampak bencana. Warga yang tinggal di kawasan rawan longsor diimbau untuk meningkatkan kesiapsiagaan, terutama saat hujan deras turun lebih dari dua jam tanpa henti. Tanda-tanda awal seperti pohon yang tiba-tiba miring, tanah yang mulai ambles, retakan yang melebar, atau munculnya mata air keruh dari tebing diminta segera dilaporkan kepada perangkat desa, relawan, atau petugas BPBD.
Selain itu, BPBD juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas berisiko di area lereng curam, termasuk penggalian tanah tanpa perhitungan teknis, pembangunan di zona rawan, serta penebangan vegetasi yang berfungsi menahan struktur tanah.
“Keselamatan warga adalah prioritas utama. Kami siaga 24 jam untuk memantau perkembangan di lapangan dan memastikan setiap potensi bahaya dapat ditangani sedini mungkin,” tutup Sri Maryati. Aris Arianto
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.














