JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Nilai tukar rupiah yang terus bergerak melemah hingga mendekati angka Rp 17 ribu per dolar Amerika Serikat menjadi sorotan serius otoritas moneter. Bank Indonesia menilai tekanan terhadap rupiah tidak hanya dipicu faktor global, tetapi juga dipengaruhi dinamika domestik yang membentuk persepsi pasar.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan bahwa pelaku pasar mencermati sejumlah isu internal, termasuk proses pencalonan Deputi Gubernur BI. Menurutnya, persepsi investor terhadap stabilitas kebijakan dan tata kelola lembaga moneter turut memengaruhi pergerakan rupiah.
Perry menegaskan bahwa mekanisme pencalonan pejabat BI dilakukan sesuai dengan ketentuan undang-undang dan tidak mengganggu independensi maupun profesionalitas bank sentral. Ia memastikan seluruh tugas dan kewenangan BI tetap berjalan dengan tata kelola yang kuat di tengah dinamika tersebut.
Seperti diketahui, proses seleksi Deputi Gubernur BI menjadi perhatian publik setelah nama Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono, yang juga keponakan Presiden Prabowo Subianto, masuk dalam bursa calon. Selain Thomas, dua nama lain yang diusulkan adalah Dicky Kartikayono dan Solikin M. Juhro, keduanya merupakan pejabat senior di Bank Indonesia.
Selain faktor persepsi, Perry mengungkapkan adanya tekanan dari sisi aliran modal. Hingga 19 Januari 2026, Bank Indonesia mencatat arus keluar modal asing dari pasar domestik mencapai sekitar US$ 1,6 miliar. Arus keluar tersebut, menurutnya, juga dipengaruhi oleh tingginya kebutuhan valuta asing sejumlah korporasi besar nasional, seperti Pertamina, PLN, dan Danantara.
Dari sisi eksternal, pelemahan rupiah juga dipicu oleh kondisi global yang belum stabil. Perry menyebut ketegangan geopolitik, kebijakan tarif Amerika Serikat, serta imbal hasil US Treasury yang tinggi mendorong penguatan dolar AS dan memicu perpindahan modal dari negara berkembang ke negara maju.
Tekanan terhadap mata uang Garuda sejatinya sudah terasa sejak penghujung 2025 dan semakin menguat memasuki awal 2026. Pada penutupan perdagangan Rabu (21/1/2026), rupiah tercatat berada di posisi Rp 16.936 per dolar AS.
Pandangan kritis datang dari ekonom LPEM FEB Universitas Indonesia, Teuku Riefky. Ia menilai masuknya nama Thomas Djiwandono dalam bursa calon Deputi Gubernur BI berpotensi menambah tekanan psikologis terhadap pasar. Menurutnya, hanya tinggal menunggu waktu hingga rupiah menembus batas psikologis Rp 17 ribu per dolar AS.
Riefky mengingatkan bahwa kondisi tersebut menjadi sinyal yang kurang baik, mengingat Indonesia saat ini tidak berada dalam situasi krisis. Ia menilai memburuknya sejumlah indikator ekonomi dapat memicu keraguan investor terhadap kualitas proses pengambilan kebijakan.
“Yang menjadi kekhawatiran adalah ketika investor mulai mempertanyakan apakah perekonomian kita dikelola secara sehat dan kredibel,” ujarnya dalam sebuah diskusi di Jakarta, Selasa (20/1/2026). [*] Disarikan dari sumber berita media daring
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.















