YOGYAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM — Rentetan kasus keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah daerah menjadi peringatan serius bahwa persoalan keamanan pangan belum sepenuhnya siap menghadapi program skala nasional. Untuk mengantisipasi risiko serupa, DI Yogyakarta menyiapkan sistem pengawasan pangan berbasis teknologi bernama Simetris.
Simetris atau Sistem Informasi Monitoring dan Evaluasi Ketahanan Pangan Strategis dirancang sebagai pusat kendali digital yang mengawasi rantai pasok bahan makanan MBG secara menyeluruh. Sistem ini memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan Internet of Things (IoT) guna memastikan keamanan konsumsi sejak proses produksi hingga makanan diterima siswa.
Platform tersebut mengintegrasikan peran Kelompok Wanita Tani (KWT) di Lumbung Mataraman dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), sehingga alur distribusi bahan pangan dapat dipantau secara lebih transparan dan cepat.
IT Development Simetris, Fajar Saptono, mengatakan selama ini pencatatan produksi dan stok pangan masih dilakukan secara manual sehingga sulit dilakukan pelacakan jika muncul masalah keamanan pangan.
Melalui sistem baru tersebut, data produksi hingga tingkat kalurahan dapat dipantau secara langsung dan diperbarui secara berkala oleh para petani maupun kelompok tani.
“Ibu-ibu tani di Yogyakarta kini tidak hanya mencangkul, tapi juga menginput data produksi seperti cabai, sayuran, dan telur langsung ke sistem. KWT mengubah status ibu rumah tangga dari sekadar konsumen menjadi produsen sekaligus penjaga data pangan daerah,” jelasnya, Jumat (27/2/2026).
Salah satu fitur utama Simetris adalah penggunaan QR Code pada setiap bahan pangan yang didistribusikan untuk program MBG. Sistem ini memungkinkan petugas melacak asal-usul bahan pangan secara detail.
Menurut Fajar, semua bahan pangan dari Lumbung Mataraman wajib diberi stiker QR Code sebelum dikirim ke dapur pengolahan.
“Saat di-scan, petugas dapat mengetahui asal KWT, lokasi lahan, tanggal panen, sampai masa kedaluwarsa bahan-bahan pangan tersebut,” paparnya.
Selain itu, Simetris dilengkapi sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) yang memungkinkan pelacakan persebaran bahan makanan secara cepat jika ditemukan indikasi masalah keamanan pangan.
Melalui sistem tersebut, distribusi makanan yang terindikasi bermasalah dapat segera dihentikan dan ditarik secara real-time.
Pengawasan juga dilakukan pada tahap pengolahan makanan. Pengelola SPPG dapat memantau aktivitas dapur melalui kamera CCTV yang dilengkapi teknologi AI untuk memastikan standar kebersihan terpenuhi.
Fajar menambahkan setiap unit pelayanan diwajibkan menerapkan standar keamanan pangan HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Point), termasuk memastikan suhu pengolahan makanan berada pada batas aman.
“Setiap unit pelayanan wajib menerapkan standar HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Point). Ini untuk memastikan suhu masak daging mencapai batas kritis di atas 75°C untuk membunuh bakteri berbahaya seperti Salmonella atau E. coli,” ucapnya.
Sementara itu, RM Wahyono Bimarso dari Yayasan Biijana Paksi Sitengsu menyampaikan koordinasi dengan Badan Gizi Nasional terus dilakukan untuk mematangkan integrasi pasokan pangan lokal dalam program MBG.
Integrasi tersebut telah mulai dikembangkan di Kabupaten Gunungkidul sebagai bagian dari persiapan implementasi sistem Simetris.
Melalui skema ini pemerintah akan berperan sebagai pembeli tetap hasil produksi petani sehingga memberikan kepastian harga sekaligus menjamin kualitas bahan pangan.
“Melalui integrasi ini, program MBG di DIY bukan hanya soal memberi makan, tetapi membangun ekosistem ekonomi desa yang tangguh, sehat, dan transparan dari hulu ke hilir,” urainya. [*] Disarikan dari sumber berita media daring
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.














