Oleh:
Sri Kuncoro, M.Pd
Kepala SD Negeri Bonagung 2 Tanon
Email : mr.kuncorro@gmail.com
- Quotes Hati Ayah Bunda
Ayah Bunda, Ini Bukanlah Perlombaan !
Ayah dan Bunda, mari kita luangkan waktu sejenak untuk merenung. Sering kali, kita merasa terperangkap dalam sebuah perlombaan yang tak berkesudahan dalam mengasuh anak. Kita melihat anak tetangga sudah bisa berjalan di usia sembilan bulan, sementara anak kita baru bisa merangkak. Kita mendengar anak teman sudah lancar membaca di TK, sedangkan anak kita masih asyik dengan mainan baloknya atau lainya. Perbandingan-perbandingan ini seolah menjadi tolok ukur, dan kita pun mulai merasa khawatir, cemas, bahkan tertekan.
Sebenarnya, mengasuh anak bukanlah ajang kompetisi. Ini bukan soal siapa yang sampai di garis akhir lebih dulu atau siapa yang memiliki pencapaian tercepat. Setiap anak adalah individu yang unik dengan waktu dan ritme perkembangannya sendiri. Ada yang cepat dalam hal motorik kasar, ada yang unggul dalam berbahasa, dan ada pula yang berkembang pesat dalam kemampuan sosialnya. Membandingkan mereka sama saja dengan membandingkan bunga mawar dengan bunga melati; keduanya indah dengan caranya masing-masing.
Perjalanan mengasuh anak adalah sebuah proses yang dinamis, penuh kejutan, dan keajaiban. Ia adalah kesempatan emas untuk belajar, tumbuh, dan menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri. Alih-alih fokus pada target atau pencapaian, mengapa kita tidak mencoba untuk menikmati setiap momen kecil yang ada? Nikmati tawa riang mereka saat bermain, tatapan penuh ingin tahu mereka saat belajar hal baru, dan pelukan hangat mereka yang tak ternilai harganya.
Tekanan untuk menjadi orang tua yang “sempurna” sering kali datang dari berbagai sumber, baik dari lingkungan sosial maupun dari dalam diri sendiri. Media sosial dipenuhi dengan postingan pencapaian anak-anak yang luar biasa, membuat kita merasa seolah-olah kita tertinggal. Padahal, kita tidak melihat seluruh cerita di balik layar. Kita tidak tahu berapa banyak usaha, kegagalan, dan air mata yang ada di baliknya.
Jadi, Ayah dan Bunda, mari kita tarik napas dalam-dalam. Buang jauh-jauh beban perlombaan itu. Nikmati setiap detik, hargai setiap pencapaian sekecil apa pun, dan percayalah bahwa kita sedang melakukan yang terbaik. Mengasuh anak bukanlah perlombaan, melainkan sebuah perjalanan cinta yang paling berharga.
- Konsep ‘Ayah Bunda Pembelajar.
Melalui konsep ‘Ayah Bunda Pembelajar’, penulis membagikan metode pengasuhan berbasis hati untuk membantu anak menemukan jati diri dan membangun karakter yang kuat.
- Jadilah “Role Model” yang Otentik
Anak adalah peniru yang ulung. Mereka tidak melakukan apa yang kita katakan, tapi mereka melakukan apa yang kita lakukan.
- Konsistensi: Jika Anda ingin anak jujur, tunjukkan kejujuran bahkan dalam hal kecil.
- Pengendalian Emosi: Tunjukkan cara mengelola marah atau kecewa dengan tenang. Anak akan belajar self-regulation dari melihat Anda.
- Orang tua harus memiliki Resiliensi Emosional.
Berikut adalah strategi mengelola emosi bagi orang tua (Pusat Penguatan Karakter. (2022):
Teknik “Stop, Breathe, Reflect” (SBR)
Sebelum meledak saat anak melakukan kesalahan, gunakan rumus ini:
- Stop: Berhenti bicara atau bergerak selama kurang lebih 10 detik.
- Breathe: Tarik napas dalam melalui hidung, keluarkan perlahan. Ini mengirim sinyal ke otak bahwa Anda tidak dalam bahaya.
- Reflect: Tanya diri sendiri, “Kenapa saya marah? Apakah karena perilaku anak, atau karena saya sedang lelah dari kantor?”
- Tanamkan Growth Mindset (Pola Pikir Berkembang)
Generasi Emas harus berani gagal. Bantu mereka memahami bahwa kecerdasan bisa diasah.
- Puji Proses, Bukan Hasil: Alih-alih bilang “Kamu pintar!”, katakan “Ayah bangga kamu berusaha keras menyelesaikan puzzle ini.”
- Normalisasi Kesalahan: Ajarkan bahwa kesalahan adalah tangga menuju perbaikan, bukan akhir dari segalanya.
Growth mindset adalah keyakinasi bahwa kecerdasan dapat dikembangkan melalui upaya dan proses belajar (Dweck, 2006)
- Asah Empati dan Kecerdasan Sosial
Dunia masa depan sangat terkoneksi. Kemampuan bekerja sama adalah kunci.
- Validasi Perasaan: Dengarkan saat mereka bercerita. “Oh, kamu merasa sedih ya karena mainannya rusak?” Ini membantu mereka mengenali emosi diri dan orang lain.
- Libatkan dalam Kegiatan Sosial: Mengajak anak berbagi atau membantu sesama sejak dini akan menumbuhkan rasa syukur dan kepedulian.
- Batasi Instant Gratification (Kepuasan Instan)
Di era digital, semua serba cepat. Namun, karakter hebat lahir dari kesabaran.
- Ajarkan Menunggu: Jangan selalu menuruti keinginan anak detik itu juga. Biarkan mereka merasakan proses menunggu untuk mendapatkan sesuatu.
- Tanggung Jawab Harian: Berikan tugas rumah tangga sederhana (merapikan tempat tidur, menaruh piring kotor) untuk melatih disiplin dan rasa memiliki.
- Literasi Digital dan Kritis tapi bersahabat
Menuju Generasi Emas, anak harus bisa membedakan mana informasi dan mana “sampah” digital.
- Diskusi Terbuka: Jangan hanya melarang gadget, tapi diskusikan apa yang mereka lihat di internet.
- Berpikir Kritis: Biasakan bertanya “Menurutmu kenapa itu terjadi?” atau “Apakah itu benar?” untuk merangsang logika mereka.
- Strategi Efektif Orang Tua Mengatasi Anak yang Kecanduan Gadget
- Tetapkan Batasan Waktu yang Jelas
- Berikan contoh teladan
- Libatkan Anak dalam Aktivitas Alternatif
- Atur Lingkungan
- Berkomunikasi Terbuka dengan Anak
- Monitor dan Batasi Konten yang Dapat Diakses
Dikutif dari karya ilmiah Kuncoro, M.Pd di media sosial Joglosemar (Peran Orang Tua Dalam Penggunaan Gadget Pada Anak » Joglosemar News)
- Religi sebagai Karakter (Moral Action)
Ajarkan anak untuk mengenal Tuhan sebagai sosok yang Maha Pengasih dan Penyayang, sehingga mereka menjalankan ibadah atas dasar cinta, bukan rasa takut.Menghubungkan ritual ibadah dengan akhlak sosial.
- Prinsip: Anak yang religius adalah anak yang jujur, tidak merundung (bullying), dan menghormati orang lain. Religiusitas harus berbuah menjadi kebaikan sosial.
- Kenalkan Lewat Alam: Saat melihat pelangi atau bunga, katakan “Wah, Tuhan hebat ya sudah menciptakan warna seindah ini untuk kita.” Ini membangun rasa syukur yang mendalam.
- Doa dalam Segala Hal: Biasakan berdoa bukan hanya saat ibadah formal, tapi juga sebelum makan, saat akan belajar, atau saat merasa takut. Ini membuat anak merasa selalu “ditemani” oleh Tuhan.
Banyak anak melakukan ritual agama karena kewajiban, namun kehilangan esensi moralnya. Target kita adalah membuat hubungan antara ibadah dan akhlak:
- Ibadah: Shalat/Berdoa tepat waktu.
- Moral Action: Menghargai waktu orang lain dan disiplin diri.
- Ibadah: Menghafal ayat-ayat kasih sayang.
- Moral Action: Menolong teman yang kesulitan dan tidak melakukan perundungan (bullying).
- Ajarkan Kemandirian dan Tanggung Jawab
Anak yang terlalu dimanja cenderung sulit menghadapi tantangan di masa depan.
- Konsekuensi Logis: Jika mereka menumpahkan susu, ajak mereka membersihkannya (sesuai kemampuan usia).
- Tugas Rumah Tangga: Memberi tugas ringan seperti merapikan tempat tidur melatih rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap lingkungan sekitar.
- Disiplin Positif, Bukan Hukuman Fisik
Disiplin bertujuan untuk mengajar (to teach), bukan menyakiti.
- Tetapkan Batasan yang Jelas: Anak merasa aman ketika mereka tahu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
- Diskusi: Jelaskan mengapa suatu aturan dibuat. Misalnya, “Kita harus sikat gigi supaya giginya tidak sakit dimakan kuman,” bukan sekadar “Sikat gigi sekarang atau Ibu marah!”
- Label Anak
Memberi label pada anak itu ibarat memasang stiker yang sulit dilepas. Sekali kita melabeli mereka “nakal”, “pemalas”, atau “si penakut”, mereka cenderung akan bersikap sesuai label tersebut karena mereka percaya itulah jati diri mereka.
Dalam psikologi, ini disebut Self-Fulfilling Prophecy (harapan yang terwujud).
Secara Ilmiah: “Ketika kita melabeli anak, kita menciptakan sebuah self-fulfilling prophecy, di mana anak secara tidak sadar bertingkah laku sesuai dengan ekspektasi tersebut (Merton, 1948).”
Berikut adalah beberapa tips praktis untuk membangun karakter anak tanpa jebakan label negatif:
- Fokus pada Perilaku, Bukan Identitas
Jangan menyerang pribadinya, tapi bahas tindakannya. Ada perbedaan besar antara “Kamu anak nakal” dengan “Perbuatanmu tadi kurang baik”.
- Hindari: “Kamu kok malas banget sih?”
- Gunakan: “Ibu lihat hari ini kamu belum mulai mengerjakan PR. Ada kesulitan?”
- Gunakan “Label Positif” yang Realistis
Gantilah kata sifat negatif dengan potensi positif yang tersembunyi di baliknya. Ini membantu anak melihat sisi baik dari kepribadian mereka.
| Jika anak terlihat | Coba ganti sudut pandang menjadi… |
| Pembangkang | Memiliki jiwa kepemimpinan atau prinsip yang kuat. |
| Cerewet | Memiliki kemampuan komunikasi yang baik. |
| Penakut | Anak yang waspada dan berhati-hati. |
| Keras Kepala | Memiliki tekad yang kuat dan tidak mudah menyerah. |
- Berikan Deskripsi, Bukan Judul
Alih-alih memberi label (baik positif maupun negatif), ceritakan apa yang Anda lihat. Ini membuat anak merasa dihargai atas usahanya, bukan sekadar hasilnya.
Contoh: “Ayah senang sekali melihat kamu membereskan mainan tanpa diminta. Itu sangat membantu Ayah.” (Ini jauh lebih membekas daripada sekadar bilang “Kamu anak pintar”.)
- Jangan Membandingkan (Labeling secara Tidak Langsung)
Membandingkan anak dengan saudaranya atau anak tetangga adalah cara halus memberikan label negatif. “Kenapa kamu nggak bisa serajin kakakmu?” secara otomatis melabeli anak tersebut sebagai “si tidak rajin”.
Mengapa ini penting?
Anak-anak membangun konsep diri melalui “cermin” yang diberikan orang tua. Jika cermin itu selalu menunjukkan kekurangan, mereka akan tumbuh dengan rasa percaya diri yang rendah. Dengan menghindari label negatif, kita memberikan ruang bagi mereka untuk tumbuh dan berubah.
Pesan mengenai pembentukan karakter anak dari perspektif “KH. Maimun Zubair,” (yang sering dikaitkan dengan akronim atau tokoh dalam gerakan parenting berbasis fitrah dan spiritualitas di Indonesia) biasanya berfokus pada pemuliaan anak dan keteladanan orang tua.
Dalam konteks “Ayah Bunda Pembelajar”, berikut adalah rangkuman pesan-pesan kunci yang sejalan dengan semangat pembentukan karakter:
- Anak adalah Amanah, Bukan Milik
Karakter tidak dibentuk dengan cara “memahat” anak sesuai kemauan kita, melainkan dengan menumbuhkan benih kebaikan yang sudah Tuhan titipkan. Tugas orang tua adalah menjadi “petani” yang menyediakan tanah subur, bukan “tukang kayu” yang memaksa bentuk.
- Pendidikan Karakter adalah Pendidikan Adab
Sebelum ilmu, ada adab. Karakter yang kuat berakar pada adab kepada Tuhan, adab kepada orang tua, dan adab kepada sesama.
- Pesan Utama: “Anak yang berilmu tanpa adab akan kehilangan arah, namun anak yang beradab akan selalu menemukan jalan untuk memuliakan ilmu.”
- Mengasuh dengan “Hati yang Selesai”
Seorang Ayah Bunda Pembelajar harus “menyelesaikan” urusan emosinya sendiri sebelum mendidik anak. Jika orang tua masih menyimpan luka atau amarah (label negatif dari masa lalu), maka karakter anak akan terbentuk dalam bayang-bayang trauma tersebut.
- Aksi: Gunakan teknik SBR (Stop, Breathe, Reflect) sebagai bentuk pengendalian diri orang tua agar tidak menularkan emosi negatif saat membentuk karakter anak.
- Kekuatan Doa dan Kata-kata (Tauhid Care)
Setiap kata adalah doa. Memberi label negatif berarti sedang mendoakan hal buruk bagi masa depan anak. Pembentukan karakter dimulai dari lisan orang tua yang penuh optimisme dan keyakinan pada potensi fitrah anak.
- Kesimpulan
“ Pada akhirnya, mengasuh dengan hati bukan tentang menjadi orang tua yang sempurna, melainkan tentang menjadi orang tua yang terus belajar. Setiap kata yang kita ucapkan adalah benih identitas bagi anak kita. Mari berhenti melabeli, mulai mendengar, dan jadikan nilai religi sebagai kompas tindakan mereka. Karena di tangan Ayah Bunda Pembelajar, jati diri anak akan tumbuh mekar di atas tanah kasih sayang yang tulus.”
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.















