WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi menyesuaikan pola distribusi dan jenis menu selama bulan suci Ramadan. Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan penerima manfaat tetap mendapatkan asupan gizi optimal, meski mayoritas menjalankan ibadah puasa.
Kepala BGN, Dadan Hindayana, menjelaskan bahwa perubahan ini dilakukan karena pola konsumsi masyarakat berubah drastis selama Ramadan. Anak sekolah yang menjadi sasaran utama program MBG akan menerima makanan tahan lama yang bisa dibawa pulang dan dikonsumsi saat berbuka.
Menurutnya, pendekatan ini dipilih agar distribusi tetap efektif tanpa mengganggu ibadah puasa para penerima manfaat. Skema baru ini juga dirancang agar makanan tidak mudah basi serta tetap memenuhi standar gizi harian.
Menu yang disiapkan selama Ramadan didominasi pangan praktis dan tahan lama, antara lain:
✓ Kurma
✓ Telur rebus
✓ Telur asin
✓ Telur pindang
✓ Abon
✓ Buah
✓ Susu
✓ Penganan lokal khas Ramadan
BGN juga membuka ruang luas bagi pelaku UMKM lokal untuk terlibat dalam penyediaan menu. Produk industri besar akan diminimalkan penggunaannya agar perputaran ekonomi tetap terjadi di tingkat daerah. Strategi ini sekaligus mendorong penguatan ekonomi lokal selama Ramadan.
Sementara itu, wilayah dengan mayoritas penduduk tidak berpuasa tetap menerima layanan MBG seperti biasa. Menu segar tetap disajikan normal untuk siswa, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Tidak ada pengurangan kualitas maupun kuantitas asupan gizi bagi kelompok tersebut.
Untuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berada di lingkungan pesantren, pelayanan tetap berjalan penuh. Perbedaannya hanya pada waktu distribusi yang digeser ke sore hari menjelang waktu berbuka, sehingga makanan dapat langsung dikonsumsi saat adzan magrib berkumandang.
Langkah strategis lain yang disiapkan BGN adalah pengendalian bahan pangan agar tidak memicu lonjakan permintaan di pasar. Jika suatu komoditas dinilai mengalami tekanan permintaan berlebih, maka menu akan dialihkan ke bahan substitusi. Pendekatan ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas harga menjelang Ramadan dan Idul Fitri.
Kolaborasi dengan BUMD juga diperkuat untuk memetakan kebutuhan pangan masyarakat secara umum, sehingga program MBG tidak justru memperparah kelangkaan komoditas tertentu di pasaran. Dengan pengaturan ini, keseimbangan antara kebutuhan program dan kebutuhan pasar tetap terjaga.
Penyesuaian skema MBG selama Ramadan menunjukkan bahwa distribusi bantuan pangan tidak bisa dilakukan dengan pola seragam sepanjang tahun. Perubahan waktu makan, pola konsumsi, hingga dinamika pasar harus dihitung secara matang agar manfaat program tetap maksimal tanpa mengganggu stabilitas ekonomi. Aris Arianto
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.














