
NGAWI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Mahasiswa Kelompok 99 Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar aksi pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) berbasis air cucian beras bersama Kelompok Tani Dusun Keniten 3, Desa Keniten, Kecamatan Geneng, Kabupaten Ngawi, Senin (2/2/2026).
Program tersebut merupakan bagian dari rangkaian KKN UNS periode Januari–Februari 2026 yang didampingi oleh Dosen Pendamping Lapangan (DPL), Elwas Berdha Krismona, M.Pd. Kegiatan menjadi bentuk dukungan nyata terhadap program Pemerintah Kabupaten Ngawi dalam mengembangkan Pertanian Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PRLB) itu diikuti dengan antusias oleh masyarakat setempat.

Kegiatan itu diikuti oleh masyarakat, khususnya para anggota kelompok tani, yang tampak aktif mengikuti pemaparan materi hingga praktik langsung pembuatan pupuk organik cair.
Koordinator program kerja, Anisa Zuliana, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut bertujuan mengedukasi masyarakat mengenai pemanfaatan limbah rumah tangga, khususnya air cucian beras, agar memiliki nilai tambah. Menurutnya, air cucian beras dapat diolah menjadi pupuk organik cair yang ramah lingkungan, ekonomis, dan mudah diaplikasikan dalam kegiatan pertanian.
Sementara itu, Dosen Pendamping Lapangan, Elwas Berdha Krismona, M.Pd., berharap program itu mampu mendorong masyarakat untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia.
“Pemanfaatan air cucian beras sebagai pupuk organik cair merupakan langkah sederhana, namun memiliki manfaat besar dalam mendukung pertanian yang berkelanjutan,” ujarnya, seperti dikutip dalam rilis ke Joglosemarnews.

Apresiasi juga datang dari Ketua Kelompok Tani Dusun Keniten 3, Partono. Ia menilai program yang digagas mahasiswa KKN Tematik UNS tersebut relevan dengan kebutuhan petani dan memberikan manfaat langsung bagi aktivitas pertanian. Antusiasme peserta terlihat dari keaktifan selama sesi sosialisasi, praktik pembuatan POC, hingga diskusi yang berlangsung interaktif.
Pemerintah Kabupaten Ngawi sendiri menargetkan perluasan lahan pertanian ramah lingkungan secara bertahap guna mendukung ketahanan pangan daerah sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
Kebijakan tersebut sejalan dengan pengembangan program PRLB yang menekankan pengurangan penggunaan pupuk dan pestisida kimia serta pemanfaatan bahan organik lokal.
Pemanfaatan air cucian beras sebagai pupuk organik dinilai memiliki potensi besar mengingat tingginya konsumsi beras masyarakat.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), per 5 Januari 2025 rata-rata konsumsi mingguan kelompok padi-padian di Kabupaten Ngawi menunjukkan konsumsi beras sebesar 1,725. Tingginya konsumsi tersebut berimplikasi pada meningkatnya volume limbah air cucian beras rumah tangga yang belum dimanfaatkan secara optimal.

Berdasarkan hasil survei kepuasan peserta, kegiatan sosialisasi dan praktik pembuatan POC itu mendapat respons sangat positif. Sebanyak 97 persen peserta menyatakan tertarik untuk memproduksi POC air cucian beras secara mandiri di rumah. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kegiatan tidak hanya memberikan pemahaman teoritis, tetapi juga mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola limbah rumah tangga secara produktif.
Selain mendukung program pemerintah daerah, kegiatan tersebut juga sejalan dengan peran perguruan tinggi dalam pengabdian kepada masyarakat serta berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDGs 2 tentang penghapusan kelaparan, SDGs 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, serta SDGs 15 tentang Ekosistem Daratan.
Melalui program tersebut, mahasiswa KKN UNS berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pertanian ramah lingkungan berkelanjutan semakin meningkat, terutama melalui pemanfaatan limbah rumah tangga sebagai alternatif pupuk organik cair pengganti pupuk kimia. [*]
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.














