JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Wacana Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka melanjutkan kepemimpinan hingga dua periode kembali memantik perdebatan. Dukungan terbuka Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) terhadap pasangan tersebut dinilai bukan sekadar pernyataan biasa, melainkan sarat kepentingan politik jangka panjang.
Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, M. Jamiluddin Ritonga, membaca langkah Jokowi sebagai manuver strategis untuk memastikan Prabowo tetap berpasangan dengan Gibran pada Pemilihan Presiden 2029 mendatang. Menurutnya, Jokowi tampak berusaha “mengunci” pilihan Prabowo sejak dini.
Jamiluddin menilai, pernyataan Jokowi yang secara eksplisit menyebut Prabowo-Gibran dua periode dilakukan dengan mendahului sikap resmi partai-partai politik dalam koalisi pemerintahan.
“Jokowi tampaknya ingin mendahului partai koalisi dalam hal mengusung Prabowo-Gibran pada Pilpres 2029. Padahal partai lain, seperti PKB, hanya menegaskan akan mengusung kembali Prabowo tanpa menyebut Gibran,” kata Jamiluddin kepada wartawan, Kamis (5/2/2026).
Ia menyoroti bahwa aspirasi yang berkembang di internal partai pendukung Prabowo sejauh ini belum mengarah pada paket pasangan. Baik PKB maupun kader Partai Gerindra, kata dia, masih menempatkan Prabowo sebagai figur sentral tanpa menyebut nama pendamping.
Situasi itulah yang menurut Jamiluddin mendorong Jokowi bergerak lebih cepat dibandingkan aktor politik lainnya. Dengan lebih dulu melempar wacana dua periode, Jokowi dinilai berharap sikap tersebut akan diikuti oleh partai-partai yang selama ini memiliki kedekatan politik dengannya.
“Mungkin hal itu yang menyebabkan Jokowi coba mendahului partai lain. Dengan begitu, Jokowi berharap ketua partai lain yang masih loyalisnya, akan mengikutinya,” ujarnya.
Lebih jauh, Jamiluddin melihat manuver ini sebagai bentuk tekanan yang ditujukan langsung kepada Prabowo, baik secara psikologis maupun politis. Dengan dukungan terbuka dari Jokowi, ruang gerak Prabowo untuk menentukan pasangan di 2029 dinilai menjadi semakin sempit.
“Jadi, Jokowi coba menekan Prabowo secara psikologis dan politis untuk menerima Gibran jadi cawapresnya pada Pilpres 2029. Dengan begitu, Prabowo coba dikunci untuk tidak punya pilihan lain selain Gibran,” tuturnya.
Menurut Jamiluddin, kepentingan utama di balik sikap Jokowi tersebut tak lepas dari masa depan politik putra sulungnya, Gibran Rakabuming Raka. Tanpa Prabowo, posisi tawar Gibran untuk kembali menduduki jabatan wakil presiden dinilai relatif lemah.
“Jokowi hanya berharap Gibran akan tetap bisa menjadi Wapres bila berpasangan dengan Prabowo. Kiranya itulah motif Jokowi terkesan ngebet menjadikan Prabowo-Gibran dua periode,” ungkapnya.
Sebelumnya, Jokowi secara terbuka menegaskan dukungannya terhadap keberlanjutan kepemimpinan Prabowo-Gibran. Pernyataan itu disampaikan saat dirinya dimintai pandangan mengenai peluang Gibran maju sebagai calon presiden pada pemilu mendatang.
“Kan sudah saya sampaikan, Prabowo-Gibran dua periode,” ungkap Jokowi saat ditemui Tribun Solo di kediamannya di Solo, Jawa Tengah, Jumat (30/1/2026).
Wacana tersebut semakin menguat setelah Ketua Harian Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Ahmad Ali, melontarkan pernyataan yang menilai sulit menemukan sosok calon presiden yang lebih unggul dari Gibran saat ini.
“(Gibran) Bisa menjadi kompetitor. Kompetitor yang cukup kuat menurut saya,” kata Ahmad Ali dalam siniar Gaspol Kompas.com yang tayang Kamis (22/1/2026).
Bahkan, Ahmad Ali secara terbuka mempertanyakan keberadaan figur alternatif yang dinilainya mampu menandingi Gibran dalam kontestasi nasional.
“Kalau saya sih sederhana saja, emang ada calon presiden lebih baik dari pada Gibran?” lanjutnya.
Ali menilai, Gibran memiliki modal politik yang jarang dimiliki tokoh seusianya, sehingga namanya kian sering disebut dalam berbagai spekulasi politik menuju 2029. [*] Disarikan dari sumber berita media daring
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.














