Beranda Umum Opini Menyambut Hasil Tes Kemampaun Akademik (TKA) dengan Gembira

Menyambut Hasil Tes Kemampaun Akademik (TKA) dengan Gembira

Pelajar
Ilustrasi pelajar SMA. Istimewa

 

Oleh Benni Setiawan*)

Hasil tes kemampuan akademik (TKA) telah diumumkan secara resmi oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen) pada Selasa 23 Desember 2025. Apa pun hasilnya perlu disambut dengan gembira. Inilah potret pendidikan nasional saat ini.  Pendidikan yang terus berbenah sebagai bagian integral menyiapkan masa depan bangsa yang tangguh dan adaptif.

 

TKA dirancang sebagai salah satu cara memetakan kemampuan peserta didik. TKA pun menjadi salah satu instrument nasional untuk mengambil kebijakan lebih lanjut. Sebagaimana siaran pers Kemdikdasmen, TKA merupakan bagian dari sistem asesmen nasional yang berorientasi pada perbaikan mutu pembelajaran. Mutu pembelajaran menjadi nilai utama yang perlu diletakkan dalam sistem baru ini. Artinya, mutu pembelajaran menjadi sebuah keniscayaan dalam proses pendidikan.

 

Kerapuhan Berpikir

Proses pendidikan  sebagai upaya sadar dan terencana membutuhkan banyak ijtihad. Artinya, TKA sebagai ijtihad bersama ini pasti ada yang tidak setuju. Sebagai sebuah proses kreatif, TKA memang perlu terus mendapat catatan akademik. Catatan akademik itu pertama, hasil TKA dalam mata pelajaran Matematika yang masih rendah ang hanya 36,10, misalnya, perlu mendapat catatan penting. Pasalnya, Matematika merupakan dasar hidup matematika.

 

Rendahnya nilai Matematika ini memang tidak mengangetkan. Sebuah temuan jauh sebelum TKA dilakukan, banyak siswa SMP kesulitan dalam baca dan sulit. Jika literasi baca tulis saja belum tuntas, maka sulit untuk masuk pada literasi numerasi (matematika). Banyak anak Indonesia kesulitan untuk melakukan penjumlahan dasar. Bahkan, kondisi itu pernah muncul dalam laman media sosial TikTok, di mana anak SMA kesulitan untuk sekadar 24: 3 saja kesulitan.

Baca Juga :  AYAH BUNDA PEMBELAJAR: Mengasuh dengan Hati, Merangkai Jati Diri

 

Kondisi perlu mendapat perhatian ekstra, terutama pada perguruan tinggi kependidikan. Perlu usaha bersama untuk membenahi kekurangan ini. Tanpa bermaksud menyalahkan siapapun, membudayakan dan menggembirakan matematika perlu menjadi agenda kebangsaan. Perlu riset dan metode yang menjadikan warga bangsa gandrung pada matematika. Langkah ini tentunya menjadi salah satu cara “menyelamatkan” bangsa dan negara dari kerapuhan berpikir.

 

Instrument Penilaian Masuk PTN/PTS

Kedua, hasil TKA yang telah dirilis resmi perlu mendapat dukungan dari perguruan tinggi. Artinya. Perguruan tinggi baik negeri maupun swasta (PTN/PTS) menjadikan nilai TKA sebagai salah satu instrument penilaian masuk bangku perkuliahan. PTN misalnya dapat menggunakan nilai TKA sebagai bagian integral dalam Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). PTN pun bisa membuat jalur khusus seleksi Mandiri berbasis nilai TKA. Demikian pula dengan PTS. Bisa menjaring mahasiswa dengan jalur nilai TKA.

 

Mengapa ini penting, pasalnya, nilai TKA telah menjadi fakta sejarah. Fakta sejarah ini perlu terus dilestarikan dengan mengapresiasi apa pun hasilnya. Mengapresiasi TKA dengan membuat jalur penerimaan mahasiswa baru dapat memberi semangat bagi peserta didik di tahun yang akan datang. Program in pun menjadi kerja nasional berkelanjutan. Artinya, bukan sekadar tahun 2025 selesai kemudian tidak ada lagi yang dikerjakan secara nasional.

 

Mengapresiasi nilai TKA pun dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan standar PTN/PTS masing-masing. Ragam standar ini pun dapat menjadi kekuatan nasional dalam membangun pemerintah meningkatkan mutu pendidikan tanah air.

Baca Juga :  AYAH BUNDA PEMBELAJAR: Mengasuh dengan Hati, Merangkai Jati Diri

 

Akses Lingkungan Pendidikan

Ketiga, TKA sebagai instrument perbaikan mutu pendidikan nasional pun perlu terus diperbaiki, baik dalam soal, sistem penilaian, dan keseteraan dalam akses lingkungan pendidikan. Akses lingkungan pendidikan yang masih beragam saat ini memang butuh waktu dan Upaya kerja nyata untuk terus berbenah. Artinya, perbedaan linkungan belajar dan fasilitas pendukung tentunya juga mempunya pengaruh yang cukup signifikan. Saat semua peserta didik mendapat layanan pendidikan yang setidaknya punya standar mutu yang sama, maka tata kelola dan hasil pendidikan pun dapat menjadi cerminan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

 

Pada akhirnya, TKA hanyalah langkah awal dalam proses perbaikan pendidikan nasional. Oleh karena itu, semakin banyak apresiasi, bahkan kritik, akan menguatkan sistem ini dikemudian hari. Namun, untuk saat ini mari mensyukuri hasil TKA dengan kegembiraan. Inilah kegembiraan anak Indonesia yang layak mendapat apresiasi dan dukungan.

 

*)Benni Setiawan, Dosen Fakultas Hukum, Universitas Negeri Yogyakarta.

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.