WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Presiden Prabowo Subianto melontarkan gagasan besar yang langsung menyita perhatian publik: gerakan nasional penggantian atap seng menjadi genteng tanah liat atau yang ia sebut sebagai program “gentengisasi” seluruh Indonesia.
Program ini diklaim sebagai langkah memperindah wajah negeri sekaligus meningkatkan kenyamanan rumah rakyat, mengingat atap seng dinilai panas, mudah berkarat, dan memberi kesan kumuh pada lingkungan permukiman.
Dalam pernyataannya, Presiden Prabowo menegaskan keinginannya agar atap seng yang masih mendominasi rumah-rumah warga perlahan ditinggalkan. Ia menyebut proyek gentengisasi ini akan dijalankan secara masif dan melibatkan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) sebagai ujung tombak produksi.
Nantinya koperasi direncanakan memiliki pabrik genteng skala lokal dengan peralatan terjangkau dan bahan baku yang mudah diperoleh dari tanah setempat, bahkan dicampur dengan bahan limbah tertentu agar lebih ringan dan kuat. Presiden juga menyebut hasil kajian akademisi yang menunjukkan limbah abu batu bara bisa dimanfaatkan sebagai campuran genteng, sehingga sekaligus menjadi solusi pengelolaan limbah industri.
Namun, di tengah ambisi besar tersebut, suara warga di daerah mulai bermunculan. Di Wonogiri, sebagian warga menyambut gagasan itu dengan harapan terbukanya lapangan kerja baru, terutama bagi pengrajin genteng tradisional. Tetapi tidak sedikit pula yang mengeluhkan kondisi ekonomi yang masih jauh dari kata pulih.
Bagi mereka, mengganti atap seng ke genteng bukan sekadar urusan estetika, melainkan soal biaya hidup yang kian berat.
“Tapi kalau harus keluar biaya sendiri, jujur berat, Mas. Harga sembako naik, penghasilan pas-pasan, genteng itu bukan murah,” ujar S (35), warga Kecamatan Wonogiri, Rabu (4/2/2026).
Keluhan serupa disampaikan warga lainnya yang tinggal di wilayah pinggiran. Menurut mereka, atap seng selama ini dipilih bukan karena keinginan, melainkan keterpaksaan ekonomi. Seng lebih murah, pemasangannya cepat, dan bisa dicicil.
“Kami ini bukan tidak mau rumah bagus. Tapi kondisi ekonomi sekarang belum baik-baik saja. Anak sekolah, kebutuhan harian, listrik, air, semua jalan. Kalau gentengisasi tidak disertai bantuan nyata, ya rakyat kecil bingung,” ungkap SW, ibu rumah tangga di Wonogiri Selatan.
Presiden Prabowo sendiri menegaskan bahwa program gentengisasi akan mendapat dukungan pemerintah, baik sebelum maupun sesudah pelaksanaan. Ia mengajak para kepala daerah untuk aktif mengambil bagian, bahkan menantang mereka yang ingin wilayahnya tampil lebih indah agar segera bergabung. Targetnya, dalam dua hingga tiga tahun ke depan, wajah Indonesia berubah signifikan dan terbebas dari atap seng berkarat yang dianggap sebagai simbol kemunduran.
Tantangannya kini terletak pada implementasi di lapangan: sejauh mana program ini benar-benar meringankan beban rakyat di tengah tekanan ekonomi, bukan justru menambah daftar kekhawatiran baru. Aris Arianto
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.














