Beranda Info Agenda Bank Jateng Kasih Paham Anak Muda, Kenapa Harus Hindari Pinjol Apalagi Judol

Bank Jateng Kasih Paham Anak Muda, Kenapa Harus Hindari Pinjol Apalagi Judol

Pemimpin Bank Jateng Cabang Boyolali, Umi Laila Sholichah bersama para narasumber foto bersama dalam 'Ngabuburit Hukum & Ekonomi Bareng Gen Z: KUHP/KUHAP Baru, Apa Itu?' di Pendopo Rumah Dinas Bupati Boyolali, Rabu (11/3/2026).

BOYOLALI – Anak muda diajak menghindari pinjaman online (pinjol) di tengah pesatnya perkembangan teknologi atau aplikasi keuangan elektronik.

“Hindari pinjol atau pinjaman online. Pahami betul soal literasi keuangan,” harap pembicara dari Bank Jateng Cabang Boyolali, Octa Dewangga dalam ‘Ngabuburit Hukum & Ekonomi Bareng Gen Z: KUHP/KUHAP Baru, Apa Itu?’ di Pendopo Rumah Dinas Bupati Boyolali, Rabu (11/3/2026).

Menurutnya, pinjol berkembang saat perkembangan teknologi dan informasi semakin pesat sehingga dengan mudah diakses oleh siapapun. Seperti saat kini masyarakat mudah mengakses internet banking atau transfer, e-wallet atau aplikasi keuangan hingga QRIS.

 

Stand pameran Bank Jateng Cabang Boyolali. Selain itu ada bazar UMKM Binaan Bank Jateng.

Di mana kemudahan mengakses aplikasi keuangan elektronik di internet tersebut, jangan membuat anak muda terlena. Mengingat mengunakan akses tersebut tanpa literasi memadai, bisa membuat keuangan menjadi jebol.

“Dengan adanya kemudahan seperti itu, bisa gawat jika tak benar. Apa yang dibutuhan, bisa sulit dibedakan. Keuangan bisa jebol. Semakin cukup pendapatan kita, pasti terhindar jeratan pinjol dan judol,” jelas dia.

Lebih lanjut dia menekankan, kini anak muda terutama Gen Z berada pada zaman yang jauh berbeda dengan kehidupan belasan hingga puluhan tahun sebelumnya. Selain antisipasi pinjol, anak muda harus memahami manajemen keuangan. Mengingat Gen Z banyak yang tidak paham dengan pentingnya literasi keuangan di tengah perkembangan teknologi.

“Pengeluaran dan pemasukan jangan tidak di-manage sama sekali. Kalau sudah dapat uang atau dapat pendapatan dari kerja, apa yang harus dilakukan selanjutnya,” terang dia.

Baca Juga :  Gunung Sampah Bantargebang Longsor, 4 Orang Tewas dan 5 Masih Dicari  

Dikatakan, salah satu tujuan memanajemen keuangan adalah financial freedom sehingga ke depan mendapatkan kebebasan dalam memiliki segalanya. Namun yang paling penting untuk mencapai itu dengan budgeting anggaran. Apa yang menjadi kebutuhan, harus bisa diatur.

Kemudian selain itu dengan menabung. Jika membiasakan menabung sejak dini, akan mudah menggapai impian.

“Tujuan menabung untuk mewujudkan impian, bukan untuk hal-hal konsumtif. Bank Jateng punya Bima Rencana. Punya impian jangka waktu 1-20 tahun misalkan umrah, piknik dan kebutuhban lain bisa. Minimal menabungnya Rp 100 ribu per bulan,” paparnya.

Tidak hanya budgeting anggaran dan menabung, menurut dia masih ada satu lagi untuk menuju financial freedom yakni sending atau belanja dengan bijak dan mengirim uang. Termasuk apa yang sudah menjadi keinginan, dibalanjakan sesuai kebutuhan.

“Misalnya pendapatan Rp 5 juta sebulan. Oh buat orang tua mungkin segini, buat belanja segini. Termasuk kemudian yang investing atau main saham, reksadana, emas digital, forex hingga cripto,” jelas dia.

“Harus tahu betul. Jangan pernah menaruh telur dalam satu kantong. Jadi diversifikasi aset,” harapnya.

Dalam materinya, Octa juga memaparkan soal fasilitas lengkap Bank Jateng. Di mana banknya warga Jawa Tengah itu, memiliki berbagai fasilitas. Mulai dari Bima Rencana, Bima Mobile, tabungan pensiunan Sejahtera Tiada Akhir, Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Khusus KPR Sejahtera FLPP Bank Jateng lanjut dia, menjadi program pembiayaan rumah bersubsidi untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) dengan bunga tetap dan DP hingga cilan ringan.

Baca Juga :  Konflik Iran-AS Picu Lonjakan Harga Minyak, Pemerintah Isyaratkan BBM Bisa Naik

“Kita menggungkan program Pak Gubernur Jateng (KPR Sejahtera FLPP). Teman-teman muda sudah punya pendapatan dan ingin rumah, bisa memiliknya,” terang dia.

Selain pembicara dari Bank Jateng, acara itu menghadirkan pembicara lain yakni Ketua Komisi Kejaksaan RI, Prof. Dr. Pujiyono Suwadi, Kepala Kejaksaan Negeri Boyolali, Ridwan Ismawanta, serta akademisi Universitas Sebelas Maret Prof. Dr. Ir. Wahyudi Sutopo, Ketua Tim Percepatan Pembangunan Daerah (TPPD) Jawa Tengah, Dr. Zulkifli Gayo hingga Local Hero Boyolali, Wanda Julisna.

Acara yang digelar Kejaksaan Negeri Boyolali, Solusi Indonesia dan Bank Jateng itu dihadiri seratusan generasi muda. Mulai dari mahasiswa atau BEM, siswa SMA dan MA, OSIS, Pramuka, Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Ika Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) hingga pengusaha muda. (*)

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.